Ketika Para Pegawai Itu Membahas Kebangsaan


-Hampir setiap malam, di barak 38 selalu saja ada kumpulan beberapa orang pegawai yang saling bercerita satu sama lain. Mereka bercengkerama yang kadang kala sampai tengah malam.

-Kadangpula ada juga yang main gaple, atau ikutan kompetisi PES di komputer salah satu diantara mereka.

-Ada yang membawa gitar, main musik sekenanya supaya bisa bernyanyi ramai-ramai.

-Kalo memang lagi ada ide iseng, mereka pun menggelar acara bakar-bakaran ringan.

Itulah beberapa kegiatan kami sebagai warga barak 38 di lokasi lowland. Semuanya itu tak lain hanya sebagai wujud sosialiasi di tengah hutan belantara. Kegiatan sekecil apapun perlu untuk dilakukan guna membunuh kebosanan yang tak kenal ujung ini.🙂

Kawan, sebagai pekerja yang intelektualiasnya tinggi (saya katakan demikian karena rata-rata mereka adalah sarjana), saya pun mengambil kesempatan itu untuk belajar dari orang lain. Paling tidak saya belajar bergaul dengan mereka dan ikutan nimbrung buat sekedar bercakap-cakap.

Hmm..manusia memang makhluk sosial, tanpa dipaksapun mereka akan bersosialisasi dengan sendirinya.🙂

Ada banyak bahasan tatkala kerumunan itu mulai bertatap muka : bercerita tentang pekerjaan, melontarkan joke-joke segar, update berita terbaru tentang kondisi perusahaan, mengomentari peristiwa naisonal terbaru, hingga bahasan tentang bagaimana supaya Indonesia makmur.

Bahasan yang beragam itu membuat diri saya berada pada semangat keindonesiaan. Lho kok bisa? Sangat bisa, karena mereka sendiri mayoritas menginginkan perubahan menuju Indonesia yang Adil dan Makmur.

Konkretnya? Ya apalagi kalo bukan bahasan capres mendatang. Kita sebagai pegawai, merindukan pemimpin yang TEGAS, berorientasi KERAKYATAN, dan BERANI melawan semua hambatan kebangsaan. Saya pun takjub, meskipun mereka bekerja di perusahaan asing, tapi semangat nasionalismenya tak pernah luntur.

Mau tahu siapa yang banyak diharapkan oleh mereka? Hm…Pada titik ini, saya kudu stop dan silahkan Anda sendiri yang mengira-ngira siapa gerangan dirinya.🙂


Teman Itu Rejeki, Jika Harus Berkelahi Bagaimana?


Alhamdulillah…Puji Syukur kehadirat Alloh…Saya mensyukuri benar kehidupan yang jauh dari siapapun di belantara papua ini. Dan salah satu kesyukuran itu adalah : saya diberi teman yang siap untuk mengingatkan satu sama lain kalo-kalo saya melenceng dari niat awal datang kemari.

Teman memang sangat penting. Bahkan ia bisa lebih dekat dari seorang keluarga. Tak jarang jika kebanyakan waktu yang kita habiskan, rata-rata banyak habis untuk bergumul dengan seorang teman. Salah satu dari sidang pembaca mungkin mengalami hal demikian.

Maka beruntunglah Anda jika punya teman yang bisa diajak untuk saling mengingatkan. Setiap hari kita habiskan untuk menganalisan dan memperbaiki apapun kesalahan yang telah dilakukan dan bagaimana mengarahkannya menjadi potensi yang lebih baik.

Sepanjang proses itu, alhamdulillah, saya dan teman saya berjalan dengan lancar. Kita saling dukung satu sama lain, saling menghormati satu sama lain, dan tak jarang jika pertemanan seperti ini juga tak luput dari ancaman pertengkaran.

Saya pun mengalaminya, dan pertengkaran itu memang ada. Sering sekali kita bertengkar dan sering kali sejak itu juga kita saling memaafkan demi kebaikan dan instrospeksi bersama.

Pertengkaran pun itu ada seninya lho kawan? Bagaimana membuat pertengkaran yang elok dalam pertemanan? Saya ada tipsnya, simak baik-baik ya :

1. Jangan sampai menyangkutkan urusan pertemanan dengan latar belakang keluarga.

Hal ini bisa menyulut api amarah dan siapa sih y ang mau diungkit-ungkit keburukan keluarganya? Gak ada yang mau bukan? Makanya, hindarilah untuk menyentuh sisi-sisi ini saat Anda bertengkar.

2. Buka pintu maaf sebelum perkelahian muncul.

Sangat sulit memang jika kita tidak pernah mempraktekkannya. Sebelum Anda bertengkar, silahkan ambil nafas dalam-dalam bahwa ini bukanlah akhir dari segalanya. Camkan dalam hati bahwa ini Anda sudah menyediakan kata maaf dan mau mengalah demi kebaikan bersama. Mengalah itu tak selamanya jelek, pun juga selalu menang itu tak selamanya bagus.

Maka tinggal tunekan nafas maaf tadi setiap kali Anda akan bertengkar dengan kawan Anda.

3. Lakukan rekonsiliasi saat pertengkaran selesai.

Bagi saya, pertengkaran itu adalah wujud dari keseriusan pertemanan itu sendiri. Di titik ini, saya pun membuka pikiran bahwa apa yang diributkan merupakan jalan untuk menjadi lebih baik lagi.

Ada baiknya jika pertengkaran tadi membawa resolusi baru berupa : nasihat, hal-hal yang harus dihindari, ataupun juga menjadi penyemangat untuk lebih baik lagi.

Kawan, janganlah sungkan untuk berteman akrab dengan siapapun. Karena pertemanan akan membawa Anda menjadi manusia yang berbeda, toh juga kita ini makhluk sosial yang tak pernah bisa lepas dari kebutuhan akan orang lain.

So, keep your mind open…dan selamat mengeksplorasi pertemanan Anda ke level yang lebih baik.


Sebulan Gak Nulis…Ckckck


Membuat diari memang kelihatan sangat gampang. Tinggal tulis saja apa yang ada di kepala, lalu postingkan itu di blog. Tapi tidak semudah itu. Setiap hal tentu ada halangannya, termasuk juga memberikan komitmen untuk “hanya” sekedar menuliskan diari.

Saya sendiri tidak muluk-muluk untuk menjadi selebriti-blogger atau apapun itu namanya. Lha wong menulis itu sudah menjadi kebiasaan sejak sekolah itu, ya menulis saja apapun yang saya mau lalu dipostingkan ke blog.

Tapi sekedar hobi saja saya sudah amburadul. Bagaimana tidak, sudah sekian lama blog ini muncul tapi update tulisan hanya itu-itu saja. Hahahaha…Dalam perjalanan itu, saya terus dihadapkan pada persoalan klasik yang sudah basi dan akan menjadi tantangan bagi setiap orang. Tantangan itu bernama : konsistensi.

Disitulah kendala akan terus ada. Seakan menguji sampai dimana keseriusan untuk menekuni hobi yang satu ini.

Lama sudah saya tak menulis diari lagi. Perasaan ini seakan menyesakkan dada. Padahal, menulis bagi saya adalah hobi yang baik. Dan kenapa dengan serta-merta saya tidak meluangkan waktu untuk hobi ini.

Atau jangan-jangan saya tidak berhobi menulis? Orang suka mancing misalnya, selalu saja menyediakan waktu untuk memancing bagaimanapun kondisinya. Dan saya takut untuk tidak memiliki hobi ini lagi, lha gimana, wong kegiatan lainnnya saya masih memble. Hehehehehe

Inilah tulisan saya sejak terakhir kali mengupdate blog sekitar sebulan yang lalu. Sungguh tragis, dalam sebulan, saya tidak mencetuskan apapun dalam buku diari.

Semoga kawan-kawan tidak meniru kebiasaan bodoh ini. Maju terus pantang mundur. Mundur terus gak maju-maju…Eiittt…kok jadi ikutan sujiwo tedjo? hahahaha


Ganti Template Bolak-Balik


Saya sudah mengganti template blog ini berkali-kali. Terhitung ada 5 kali ini saya ganti. Tapi saya rasa, ini adalah template yang terakhir. Inspirasinya datang dari pak rahardi. Blognya ada di http://www.rahard.wordpress.com. Jujur saja saya senang dengan tampilan blog tersebut. Simple dan enak dipandang. Masalah “enak dipandang” ini memang perlu guna menghibur pembaca yang masuk.

Maka saya gantilah templatenya dengan template yang di pake pak rahardi itu. Namanya template The Elegant Grunge. Apakah ini termasuk copy paste? Hmm…saya balik tanya : apakah meniru itu ndak boleh? Hahahaha…biar saja dibilang niru-niru asalkan yang membaca blog ini jadi nyaman.

Jadilah the elegant grunge sebagai template blog ane yang satunya. Sekedar promosi bahwa ane sedang nulis pengetahuan yang ane dapat tentang anjing dalam sebuah blog. Namanya http://www.doggyface.wordpress.com. Masih ada 5 tulisan disitu. Saya sediakan waktu untuk mengisi waktu dengan berbagi perihal anjing.

Apakah template favorit sampeyan? Silahkan share di komen ya…Selamat Sore

 


Tidak Ada Alasan


Sangat mudah untuk membuat alasan. Sifat manusiawi saya lebih condong untuk bersembunyi di balik alasan. Menuju kesuksesan tentu hal ini tidak elok dipandang. Misalnya saja begini, internet lemot sehingga produktifitas menulis jadi terhambat. Hmmm…walaupu begitu adanya, berhenti pada alasan itu untuk tidak menulis adalah kesalahan besar. Alasan adalah godaan yang akan menghinggapi siapapun buat menuju target yang telah ditentukan.

Tapi Tuhan Maha Pengasih, di balik alasan selalu saja disediakan solusi. Banyak orang bilang : “fokus pada solusi”, “apapun yang terjadi akan saya tempuh, kalo tidak ada jalan, maka saya akan bikin jalan.” Itulah kata-kata yang menguatkan ane, bahwa di balik alasan, selalu saja ada solusi yang bisa dipakai setiap saat.

Beralasan itu wajar karena memang situasi yang dihadapi demikian adanya. Yang tidak wajar adalah bersembunyi lama-lama di balik alasan itu sehingga tujuan tidak tercapai.

Alasan blog tidak terupdate baru-baru ini adalah tidak ada jaringan. Tapi ya sudahlah tidak mengapa. Solusinya gampang, saya tulis aja apapun di word. Lalu tatkala jaringan sedang bagus, langsung saya upload semua.🙂

Selamat sore kawan…Apa alasanmu hari ini?


Kepada Yth : Yang Dipertuan Agung Nepotis


Tadi malam saya bicara sama salah seorang sopir. Dia bilang kalo dia barusan empat bulan kerja disini. Sebelumnya, dia sudah lama di timika bekerja sebagai sopir truk. Bagi dia kegiatan setir menyetir adalah garis hidup guna mengais rupiah.

Seluruh keluarganya memang tak bisa lepas dari bus, truk, dan mobil. Seluruh jiwa raganya didekasikan untuk mengendarai. He borns to speed.

Yang menarik adalah, proses bagaimana dia bisa mendapatkan kerja sebagai sopir.

Singkat kata, ia dibantu oleh salah seorang yang memang sudah bekerja disitu sebelumnya. Kakak kandungnya adalah teman akrab orang tersebut. Dari situlah ia mendapatkan posisi sebagai driver alias sopir.

Kawan, nepotisme memang tak bisa lepas dari gaya hidup kita sebagai manusia. Jangankan di Indonesia, di belahan dunia manapun (termasuk di belahan dada) nepotisme adalah hal wajar yang biasa dilakukan.

Dalam wawancara yang saya lakukan, dia mengaku kalo kakaknya jadi sopir bis, kakaknya yang lain jadi sopir trek, dan dia sendiri sekarang sedang tes jadi sopir bis yang gajinya lebih mapan ketimbang pekerjaannya saat ini.

Saya pernah teringat dengan kata kawan saya : “Kalo bisa ngajak seluruh keluarga saya, saya akan lakukan, sekecil apapun kesempatan itu.” Diam-diam saya mengamininya. Saya setuju akan hal itu. Disaat ekonomi sedang sulit, memberi kail pada orang lain pada saat seperti itu adalah hal yang sangat menolong.

Nepotisme kita kutuk habis-habisan 15 tahun yang lalu saat reformasi mengusung tema : KKN. Kini, isu tersebut surut bak ditelah bumi. Yeah, gak semua surut sih, masalah korupsi terus didengungkan meskipun sekarang korupsi jadi masalah tersendiri yang terpisah dari Kolusi dan Nepotisme.

Atau jangan-jangan kita sedang menyepakati diam-diam tentang dua hal tadi ; Kolusi dan Nepotisme. Atau mungkin dua sejoli itu sudah mendarah daging dalam rangsum ulu hati setiap individu kita?

But eniwei, setiap saat saya temui dua sejoli itu. Saya bergaul dengan dua konsep tadi. Saya mendengarnya, menyelidikinya, menyelaminya, dan diam-diam ingin merasakannya juga.

Gaung fairness dan keadilan sosial bagi masyarakat indonesia adalah jargon lama yang terus didengungkan. Tapi entahlah, sebagai manusia normal, kita lebih nyaman untuk fair dengan cara unfair melalui metode nepotis dan kolusif.

Saya yang meyakini benar-benar bahwa kesempatan itu kudu terbuka lebar-lebar, atau dengan lantang menyuarakan bahwa buka seluas-luasnya demi alasan akuntabilitas, atau mungkin menghabiskan suara bengok-bengok untuk melawan tindakan pilih kasih seakan pupus tak berdaya dan hanyut dalam arus deras mainstream nepotis dan kolusif.

Mungkin sila kelima kita : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia agak terdengar tidak fair jika dikomparasikan dengan bangsa lain yang berkepentingan terhadap keadilan sosial yang mengancam itu.

Fair bagi kita, tidak fair bagi mereka.

Tapi memang sejarah hanya ditulis oleh pemenang. Apapun kata pemenang adalah hukum yang berjalan. Tak memandang apakah orang lain kalah, tapi keputusan pemenanglah yang menjadi ketentuan.

Saya mengamininya. Pemenang bisa menjadikan unfair jadi fair. Yang salah jadi benar. Dan yang benar jadi salah.

Pertanyaannya adalah : Apakah bangsa kita ini bangsa pemenang? Hanya diri kita yang tahu jawaban itu. Kalo tidak tahu, mari kita tanya pada rumput yang bergoyang.


Mirip Jaman Kosan Dulu


Ane pulang kerja jam 3 pagi lebih dikit. Biasanya sih sampek pukul 5 atau 6 pagi. Syukurlah ini pulang lebih awal. Akhirnya bisa nulis dikit-dikit di kamar.

Sebelum turun dari mobil, ane ambil beberapa snack sama nasi kotak. Ane niatin buat camilan kawan-kawan yang tinggal serumah ama ane.

Maklum kawan, jejaring dapur emang jauh dari sini. Akhirnya kita hanya masak sekedarnya saja : telor goreng, nugget goreng, mie godok, nasi goreng karak, dll.

Maka daripada itu nasi kotak kayak gini bisa menolong kita yang emang masih setara anak nol kecil dalam hal memasak.

Diem-diem ane jadi inget jaman kosan dulu. Hahaha…

20130701-050851 AM.jpg