Gak Ada Rotan, Balsem Pun Jadi


Siap grak!

Istirahat di tempat grak!
Ngedeeeen grak!

Eit, jumpa lagi pren-pren. Kali ini bahasanya agak serius man. Masih seputaran penyakit. Aq harap ente-ente gak bosen dengan bahasan seputar kekacauan dan kegalauan masalah kebersihan. Nah karena ngedennya terlalu lama akibat menyimak preambule tulisan ini, maka aq perintahkan sekarang : Nunggiiiiing grak!

Kawan-kawanku yang pernah dolan ke mak Erot! Atau yang belum pernah dengar siapa itu mak erot, ada banyak urusan penyakit yang menimpa tubuh manusia. Salah satunya adalah penyakit terluar yang menyerang tubuh kita yaitu penyakit kulit. Karena kelamin termasuk barang berharga yang dalam bagian luar tubuh kita, maka kedokteran memasukkannya dalam satu bahasan khusus. Atau emang karena penyakit kulit selalu dihubungankan dengan permasalahan kelamin kemudian muncullah Jurusan spesial di kedokteran ; jurusan yang namanya Spesialis Kulit dan Kelamin. Makanya bahasan panu, kadas, kurap, kutil, mata kaki, dsb selalu berhubungan dengan khitanan massal, aids, raja singa, pipis nanah, dll. # Sok tau ente, emangnya calon mahasiswa kedokteran?#
Okelah, daripada sok tahu melulu. Lebih baik kita mulai bahasan gak jelas hari ini. Secara khusus saya berterima kasih pada tokoh pemeran yang ada di cerita ini. Dari mereka dan pengalaman pribadilah, akhirnya bahasan gak penting ini lahir. Semoga aja umur tulisan ini diberi berkah sehat wal afiat. Kalo umur tokoh yang dicritain sih itu urusan sendiri-sendiri. #Coution : hindari memasukkan lotion anti nyamuk di kamar mandi agar tak dikira pasta gigi#

Saat itu, dua orang sedang berkumpul di ruang perawatan sebuah balai kesehatan yang disediakan khusus bagi siswa-siswa sakit. Satunya tergeletak lemas, dan satunya memegang tangannya sembari menahan tawa. Yang tergeletak memakai baju putih, tapi sayangnya ia tak bersarung atau bercelana. Bagian terluar yang paling berharga miliknya hanya ditutupi plastik bekas sabun wings. Kawan, temanku itu terserang penyakit kulit paling gatal sedunia. Kita menyebutnya Jarban. #Semoga yang baca ni chapter, tujuh turunan dibebasin dari penyakit ini! Uamiin#

Balik lagi kebahasan jarban. #ya emang dari tadi mbahas penyakit gatal-gatal ini#. Jarban biasanya menular lewat hubungan pendek di komunitas yang selalu bersentuhan. Misalnya satu keluarga, satu suami dua istri, satu kampung, satu jenis (maaf, it’s extremely prohibited among us), satu perguruan, atau satu nasib dan perjuangan. Gatal-gatal biasanya menyerang sela-sela pertemuan siku yang ada pada tubuh manusia. Ia menclok di sela-sela jari, sela-sela kaki, sikut kanan kiri, pantat, selangkangan dan kelamin.

Pada tahapan paling rendah-kasta terendah dari model penyerangannya-akan terasa gatal-gatal yang tidak terlalu dahsyat. Bintil-bintil kecil akan keluar di daerah yang terindikasi. Bila sudah demikian, area yang diindikasi tadi perlu dengan segera di lokalisasi pake salep, sabun antiseptik, atau rendaman air hangat. Kategori yang terakhir disebut –rendaman air hangat– masuk terapi paling favorit apalagi kalo gatal-gatalnya menyerang alat kelamin. #It’s real, I tell you what#

Namun tahapan paling mengerikan jika gatal-gatal itu mulai murka. Bintil-bintil kecil akan menggelembung seukuran biji jagung. Daerah yang terhinggapi penyakit menjadi berair, kalo parah, sela-sela jari menjadi dempet, bengkak dan kaku buat digerakin. Yang paling parah tentunya bila tahapan ini menyerang kelamin dan selangkangan. Air-air yang keluar dari bintil-bintil itu mengapitkan keduanya sehingga penderita akan sangat kesulitan buat jalan. Sering aq melihat teman-teman yang jalannya sambil ngelirik ke atas dan agak miring. Kayaknya itu nahan sakit yang teramat menggelikan.

#Oke, udah selesai nunggingnya, sekarang sama-sama satu komando : Kayang Grak!#peace#

Aq sendiri pernah mengalami masa sulit itu. Masa teraniaya oleh penyakit kulit yang terus membekas hingga sekarang. Tapi karena pengalaman ini juga, kekebalan diriku, terutama dari penyakit kulit apapun jadi menebal. Kulitku bisa beradaptasi di suhu ekstrim, dalam kondisi terekstrim, tak gentar menghadapi pola pikir ekstrimis yang menjebak kita buat nurutin apa kemauan mereka. Hidup Indonesia! NKRI Harga Mati!

Baiklah saudara-saudaraku, ceritanya saat itu aq masih baru disekolahkan di luar kota. Kira-kira sebulan disana udah tertular penyakit kulit macam yang telah ku jelaskan diatas. Lokasi penyerangannya tak tanggung-tanggung man, ia langsung menyerang kelamin. Busyet. Ektrimis banget nih penjajah, langsung aja nyerang lokasi paling berharga.
Tapi yang perlu aku syukuri, tahapan penyerangannya masih belum pada taktik agresi militer. Mereka masih bergerilya dari satu wilayah ke satu wilayah yang lain. Untuk pemula kayak aku, ini sangat menguntungkan. Gatal-gatalnya terasa tidak terlalu guatal banget. Al-hasil, aq bisa sedikit menggaruknya halus dan menikmati rasa gatal yang bisa di atur sedemikian rupa.

Pada hari ketiga, tepatnya malam hari, rasa gatal ini sudah tak tertahankan. Tingkat toleransi sudah gak bisa diukur dengan jelas. Cara tradisional menggaruk kelamin dengan intensitas tinggi dah gak mempan lagi. Apesnya, aq gak punya salep atau sabun buat mbersihkan kuman-kuman yang nempel di area itu. Inilah saat penyerangan mau menginjak ke agresi militer.

Beberapa kali aku menghembuskan nafas dalam dalam. Menahan rasa gatal yang amit-amit jabang bayi. “ini harus diakhir, dan damn….aku gak punya salep”. Pasti ada acara, seperti kata pepatah ; tak ada rotan akarpun jadi, tak ada salep balsem pun aku embat.

Oh man, inilah cara purba buat nyembuhin penyakit secara instan. Aku masih inget tatkala Bapakku masih jualan kambing, salah satu kambing kena katarak. Ni hewan, dikata hewan kurban, masak dibawa ke dokter hewan segala. Karena ongkosnya gak ada, cara penyembuhan tribal pun dilakukan. Kambing diiket kakinya erat-erat. Badannya direbahin ke tanah. Si bapak ngambil cabe satu, membuang biji-bijinya, lalu mengolesnya ke mata si Kambing. #man sebenarnya cerita ini gak boleh disimak, karena mengandung unsur sara-sara azhari, sara ana barja, saraswati, saras008#. But, it’s work. Hanya beberapa hari si kambing udah sembuh total dari sakit matanya. Alhamdulillah.

Cara gak purba-purba amat, agak sedikit semi modernlah seperti itu-juga aku praktekkin buat ngilangin gatal-gatal yang udah masuk tahap awal agresi militer. Balsam. Yup, balsam adalah solusi terakhir dan yang ada malam itu. Fffuih……….ancur man. Panasnya minta ampun. Aku terengah-engah menahan panas. Geleng-geleng ke kanan-kiri mirip orang tripping. Mata aku pejamin lalu aku tarik keatas jidad buat ngalihin fokus kelamin ke jidad. (asal jangan kelamin pindah ke jidad). Rasa gatal terkalahkan oleh panas balsam. Kayaknya kuman-kuman yang ada di situ dah mati kepanasan, babak belur dihajar balsam hijau cap lang. Aku dah gak kuat man, tenagaku habis buat nahan gejolak penyakit nista ini. Aku kecapek’an dan tanpa sadar akhirnya lep; terlelap bobok.


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: