High Self Defence


Ni mau setuju apa enggak terserah bro, tapi kalo menurut aq, ketahanan tubuh manusia itu diukur bukan dari pandai tidaknya membela diri, bukan dari kelincahan tubuh buat kelahi. Tapi ukuran paling pas tu diliat dari kuat tidaknya ngempet perut yang mulek-mulek kebelet e’ek.

Liat orang ngempet be’ol tu asyik. Keringan dingin ngucur. Wajah amburadul meskipun secantik Luna Maya, Cut Tari, atau *seseksi Herlin Sri Hastutik tantenya teman* Seluruh energi tubuh dipusatin di titik kuda lini. Berjaga-jaga agar timingnya tepat. Mbereset dikiiiit aja, bisa buat perjuangan selama ini gagal di tengah jalan. Sungguh-sungguh pengalaman menarik kalo kamu-kamu bisa merasakannya. Mau nyoba ngerasain sensasi ini? Gampang. Silahkan makan pedes sebanyak-banyaknya. Pagi jam 5 beli bubur ayam hangat dua porsi jumbo, and don porget, kasih sambal seperampat mangkuk. Pagi jam 7 makan lagi, kali ini yang berbau kacang-kacangan. Aha, pecel gak pake nasi cocok untuk menu pagi itu*sambelnya meluber kayak ingus anak balita yang gak bisa nahan mampet di idung*. Jam 9 siang, tambah lagi makan buah di pinggir jalan, kalo bisa ambil pepaya sebanyak-banyaknya. Jam 12 siang menu paling cocok adalah gado-gado porsi jumbo *saosnya yang luber, jadi sup kacang sekalian*. Jam 3 sore, tambahin bobot perut kamu dengan menu rujak manis super pedas. Jam 6 magrib, butuh protein tinggi tho, nah kali ini tambahin porsi jumbo bakso bakar pedas. Mulai start jam 8 malem, jangan sesekali pergi ke kakus. Tahan terus sampek ketemu moment penting kayak rapat kerja, acara nikahan, mancing di tengah laut, pergi naik gunung, rekreasi ke hutan. Pokoknya ke tempat yang wc jadi barang berharga. Ohiya, jangan lupa pertengahan menu-menu itu minum air minimal segalon.

Siapin di tas pinggang, kaca buat liat wajah kita saat nahan dahsyatnya gemuruh energi positip yang mau keluar. Bila perlu, photo wajah itu lalu simpan sebagai wallpaper hape, komputer, atau BB. Buat sekedar ngingetin aja moment yang penting dalam hidup kita. 

Ngomong-ngomong masalah tahan-menahan urusan pantat, aq punya satu kisah tentang pertahanan mati-matian buat ngempet supaya keluar pada tempatnya. Gini, % sambil cabut and ngitung uban %, pas waktu hidup seasrama ama kawan-kawan lama, kita diatur banget. Salah satu aturannya, pagi jam 4 sudah kudu bangun. Tempat yang dituju pertama kali tak lain dan tak bukan apalagi kalo gak kamar mandi dan wastafel. Wastafel? Emang buat apa? bukan-bukan wastafel…anunya…apa…mmm..(blank)…ting! Akhirnya otakku inget #satu uban yang tebel banget kecabut#…jreng : kamar mandi dan kakus—dua sejoli yang wajib dibangun dalam peradaban apapun–.

Karena yang tinggal di asrama ratusan, sedangkan km mandi dan wc-nya dikit. Antri mengantri terjadi. Satu kamar mandi diantri sekitar 5-7 orang. Wc antara 4-5 orang. Aku antri di kamar mandi buat pipis. Aku antrian terakhir. Nah, di sebelahku adalah Wc, diantrian ke 4 ada anak yang benar-benar galau. Wajahnya berasa eneg nahan sesuatu. Tau sendiri kan, nahan apa? wajahnya kacau bangetlah. Kayak gimana gitu (ya iya kayak gimana, dasar cacatan gak jelas, nerangin aja gak bisa!). Ya udah, pendek kata, mirip kolam adu keong; keruh, bau, sambil harap-harap cemas keong sapa yang keluar duluan.

Saat orang kedua masuk, ia terasa agak sedikit merdeka. Perjuangannya tinggal menunggu orang ketiga. Ia kadang menunduk ke bawah memejamkan mata.. Tangannya menggemgam keras. Ia coba alihkan perhatian dari fokus ke pantat jadi fokus ke tangan. Kadang juga pindah geser ke kanan dan ke kiri. Wajahnya menghadap ke atas sambil mulutnya komat-kamit baca mantra gak jelas.

Oh man, perasaannya berbunga-bunga saat orang ke tiga masuk. “Tinggal beberapa kaki lagi, pertahanan ini berhasil”. “Wait! Wait! Wait! Bertahanlah engkau boy….” 2 menit, 3 menit, 4 menit. Orang ke tiga gak keluar-keluar. Waduh,,tingkah lakunya agak aneh. Wajahnya mulai membiru. Keringan dingin di jidad dia usap beberapa kali. Tangannya dikatupkan di telinga karena genggaman udah gak bisa lagi ngalihin fokus dari pantat. Karena gak tahan, ia menggedor pintu. “Iyaaaaa….bentaaaaaar……..” jawab orang yang ada di dalam. Terdengar suara air buat mbasuh. “Aha,” kataku dalam hati. Sudah selesai yang di dalem, tinggal tahap akhir aja. Pake celana dalam, pake celana panjang. Dan selesai!

Terdengar suara klik kunci pintu, orang yang dah nahan gak keruan tadi cepat-cepat buka sabuk celana dulu. Mungkin buat siap-siap kalo dah nyampek didalem. Mempermudah pembukaan celana kali. Ide bagus, mempercepat bongkar muat supaya bisa cepat naik ke pelaminan! Pas orang ke3 keluar, ia masuk nyerondol masuk ke dalam. Anehnya, gak kedengeran suara lepas celana. Malah bau menyengat yang menusuk nusuk idung.

Perjuangannya gagal. Usahanya sia-sia. Fokusnya kini hanya terpusat ke pantat. Dan itulah yang mempermudah proses keluarnya si jamban. Hanya tinggal beberapa inchi, ia harus korbankan dirinya di hadapan malu. Melambaikan bendera putih ke arah kotoran yang luber di celana. Ia kecirit man! Kasihan sekali. @tujuh turunan gak lupa@

Ia keluar dari wc dengan celana basah. Saku celananya munjung. Bekas cd yang jadi saksi bisu ia taruh di situ. Matanya sayu. #oh man, gadis mata sayu katanya menantang, ups…ni laki brow bukan cewe’. Ia menunduk lesu. Menuju kamar asrama. Ganti pake sarung. Bawa timba sama sabun wings dan balik lagi ke kamar mandi. @saya pastikan diya berharap moment ini hanya sekali seumur hidup@


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: