Antara kau, aku dan Dia


Terlalu riskan menerima kebaikan dari keluarga. Walau kebaikan itu sendiri adalah baik adanya, tapi kebaikan dari siapapun menimbulkan konsekuensi balik, yakni hutang budi yang harus dilunasi entah kapan hari meski dicicil dikit demi sedikit, tapi hutang tetaplah hutang. Harus dibayar.

Teman saya pun memutuskan untuk tidak lagi bergantung supplay keluarganya. Ia, yang sudah beristri satu dengan dua anak, melamar pekerjaan di pabrik plywood jombang. Pekerjaan kasar tak apalah, asal aku bisa berdiri dikakiku sendiri. Hmmm, gentleman agreement. Benar-benar kukuh pendiriannya sebagai lelaki, dan lelaki wajarnya seperti itu! Bukan sikapnya sebagai lelaki yang pengen aku ceritakan disini, bukan tentang hutang budi yang sempat aku singgung tadi. Tulisan ini tentang keadaan teman-teman kita, dulur-dulur kita, saudara-saudara kita, yang terjerembab dalam lingkaran setan bernama ; Garis Kemiskinan.

Membayar untuk bekerja. Saking sulitnya pekerjaan, beberapa orang kudu membayar dulu buat memperoleh pekerjaan. Di pabrik kayu itu, hukum ini telah menjadi tradisi turun temurun. Bayar enam juta rupiah untuk kontrak enam bulan dengan gaji sejuta dua ratus perbulan. Apakah pekerjaan ini ongkang-ongkang di balik kursi dengan hanya melabeli tanda tangan kemudian dapat uang? Jauh, sangat jauh dari itu. Mereka yang membayar enam juta itu bekerja kasar dengan resiko yang sangat mengerikan ; jari terputus, tangan tergelindas mesin press triplek, luka di bagian tubuh, shift yang kadang siang dan kadang malam, serta tekanan batin pekerjaan. Dan faktanya lagi, kejadian kecelakaan kerja di tempat itu pasti terjadi setiap hari.

Orang-orang cendikia pun berceloteh; salah sendiri sih jadi pegawai, mengapa gak memanfaatkan potensi tanah air kita yang gemah ripah loh jinawi. Sekarang ini banyak tenaga nganggur, tanah nganggur, waktu nganggur, sarjana nganggur, pasar yang nganggur, dst. Mereka masih menganggap kesalahan ini pada pola pikir yang masih primitif, yakni pola pikir yang mau diperbudak, mau jadi pegawai, mau diperalat orang. Ups, we just blame the other. Menyalahkan orang lain. Sebuah pengalihan perhatian untuk menjustifikasi kebenaran ide pihak yang lain.

Saya memahami mereka penuh potensi, penuh semangat, mau bekerja walau dengan resiko nyawa, itupun pake bayar sogokan dimuka. Mereka sudah bosan dengan ketidakpastian pasar, tentang daya beli yang rendah, tentang orang-orang yang banyak berjualan tapi yang beli Cuma setahi kuku jari kelingking. Mereka hanya korban. Walau menjadi korban, namun semangat untuk bekerja yang sudah built in dalam diri mereka tetap menyala-nyala. Meski pakai sogokan segala.

Seperti pesennya kanjeng nabi, sebaik-baiknya pekerjaan adalah pekerjaan yang diladeni sendiri. Guru saya menyebut petani, nelayan, buruh, dan berbagai pekerjaan yang kita persepsikan “miskin, hina, najis” sebagai pekerjaan yang mulia. Ambillah contoh petani, ia menanam padinya sendiri (kalau punya pekarangan, dan sulit sekali sekarang mencari petani yang punya sawah berhektar-hektar), ia panen sendiri, dan ia sisihkan beberapa karung untuk menghidupi keluarga dan anak-anaknya. Ia tak menyandarkan urusan perutnya pada pihak lain, kecuali pihak-pihak paling dekat dan pendek jalurnya dengan Yang Maha Kuasa. Petani yang demikian hanya, saya katakan “hanya”, menggantungkan nasib perutnya pada Tuhan semata. Lho, kapan kayanya kalo gitu? Saya sedang tidak membahas kekayaan disini. Kaya dan tidak kaya adalah bahasan lain. Kekayaan tidak ada hubungannya sama sekali dengan klaim agama sebagai sebagai sebuah kebenaran mutlak. Jika kebenaran diukur dari “kebendaan” semata, maka rendah benar parameternya.

Temanku, dan juga orang-orang yang bergabung di pabrik itu hanya ingin tenaga mereka berharga. Keringat yang mengucur itu dihargai sepantasnya walau hasil pabrik kayu itu terjual mahal di pasaran. Mereka tak paham bahwa gaji mereka juga telah dipotong untuk pegawai negeri yang dengan sangat mudah mendapatkan gaji walau tanpa bekerja. Mereka yang dengan ikhlas menerima resiko nyawa dengan rela dan senang hati membayar pajak yang tak pernah jelas juntrungannya dengan senyum bahagia. Asal satu hal bahwa gaji yang diterima bulanan cukup untuk biaya anak istri di rumah.

Kini temanku itu sedikit terobati dari jasa-jasa keluarganya. Ia mampu membiayai dua anak dan satu istrinya dirumah. Terakhir aku bertemu dengannya dengan tiga luka di tangan. Salah satu ikatan di tangannya masih terlihat baru, katanya tertusuk cutter dan darah mengucur dengan deras. Hampir putus itu jari manis.

Ia sarjana tarbiyah, lulusan S1. Dan sekarang bekerja kasar di pabrik kayu. Kawanku, aku tidak akan menasehatimu dengan kata-kata kuno ; sabar, ikhlas, trimo ing pandum, dst. Atau dengan bahasa modern yang menggugah kenafsuanmu ; ayo terus berjuang, ayo bisnis yang lain, ayo terus disyukuri, atau apa sajalah yang tergolong dalam kamus penggugah jiwa yang sering diseminarkan dengan harga jutaan rupiah. Aku hanya berpesan ; aku pun juga demikian, kita satu nasib, satu perjuangan, entah kemana ini akan berlabuh, tapi satu hal kawan, dan aku yakini itu; mari kita nikmati sambil menyisakan ruang hati di malam hari, merenung, menangis, sampai kita tersenyum bahagia dalam ruang rahasia antara kau, aku dan Dia.


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: