Berbeda-beda Asal Jangan Saling Berduka


Indah sekali menikmati perbedaan, dan itulah yang selalu membentang di hati saya ketika mendengar sebuah bangsa bernama Indonesia. Terlepas dari keadaan yang memburuk akibat labilnya suhu politik dan ekonomi, mempertahankan kenikmatan atas keberagaman ini benar-benar diuji habis-habisan. Satu kiasan paling pas dinyanyikan oleh Iwan Fals di lagunya “sumbang” : “Lusuhnya kain bendera di halaman Rumah kita, bukan satu alasan untuk kita tinggalkan.” Lirik inspirasional dan menggugah untuk menikmati dan tetap mempertahankan kesatuan di tengah perbedaan wilayah, suku, ras, agama, dan kebudayaan.

Cukup seriusnya, sekarang balik ke standard, gak usah ngernyitin jidad.

Perkara hidup dalam alam perbedaan pernah juga aku alamin prend. Dulu, hidup di satu kamar bisa ketemu orang Maluku, Maluku Tengah, Jawa Timur bagian Timur, Jawa Timur bagian tengah, Jawa Timur bagian Barat, Jawa Barat agak ketimur, Jawa Tengah agak kebarat, Sulawesi bagian selatan agak ke barat, Sulawesi Utara agak condong ke Barat, Bali pas tengah-tengah, Papua bagian tengah, Papua paling pucuk, Sumatera Ujung Barat, and…..mmmm….ada yang belum kesebut? Kalo belum kesebut, silahkan isi sendiri di kolom kosong berikut ini:

(……………………………………………………………………………………)

Keragaman bahasa, logat, cengkok suara, watak, peringai dan berbagai atribut yang melekat pada kawan-kawan senasip seperjuangan itu memetakan bagaimana keragaman budaya ini indah buat dinikmatin, layak buat disyukurin. Keragaman itu tak lain hanya atribut luarnya aja, tapi sesungguhnya yang menyatukan kita selain sebagai bangsa adalah, bahwa kita sebenarnya adalah manusia. Yup, as simple as that, kita hanya manusia tak lebih dan tak kurang.
buku.jpg

Berkat kemajuan teknologi informasi (terima kasih kepada ahli-ahli IT, Elektro, yang kadang juga tak pernah disebut di media atas jasanya), Alhamdulillah hingga sekarang kita masih terjaga silaturahminya. Hal-hal yang dikategorikan “silaturahmi mini” macam komen-komenan di FaceBook, Ngetweet, mail-emailan, ym2man, masih kita lakukan hingga sekarang.

Ah, Ingin rasanya bisa belajar semua bahasa yang ada di Indonesia. Cita-cita ini semoga bisa terwujud di kemudian hari. Kalo perlu, dinas pariwisata bikin kursus bahasa lokal buat siapa saja yang ingin tau keragamanan bahasa di negeri ini. Sebagai contoh aja, bisa bikin kamus persamaan antara bahasa sunda, jawa, batak, papua, bugis. Mbahas Satu topik, mmm, misalnya kata “kecirit” (jawa). Satu kata ini di cari persamaannya ke bahasa lain, termasuk juga bahasa inggrisnya. (ada yang tau bahasa inggrisnya kecirit?). Syukurlah, berkat perjuangan bapak-ibu pendiri negeri ini, kita disatukan oleh Bahasa Indonesia. Thanks God.

Mumpung lagi ngetik perkara bahasa, otakku tergerak kesana-kemari, jalan-jalan ke angkasa mendownload file-file lama tentang kisah tentang perbedaan logat bahasa indonesia.

Dulu pas masih jadi siswa baru, kita biasa kenalan sama teman-teman secawat dan sejawat dari daerah lain. Pertama-tama agak defensive dikit, agak sok kedaerahan, kita cari teman-teman dari daerah terdekat. Lama kelamaan kita memperluas ekspansi kenalan ke pulau-pulau lainnya. Dan akhirnya aku mendapatkan teman dari Papua.

Teman-teman asal Papua sungguh mengasyikkan. Mereka rata-rata pemberani. bermental pengembara. dan satu lagi boy, mereka sangat jago main bola. Sampai sekarang, kalo Persipura lagi main, wah…sangat sayang buat dilewatin. Pemain bola asal Papua very skillpull. Pernah salah satu komentator di telepisi menyematkan julukan “Wayne Rooney-nya Indonesia buat Boaz Salossa”. Bangga sekali. Aq sangat berharap ada Boaz di City of Manchaster, Emirates Stadium, Stamford Bridge, Old Trafford, atau mungkin Bernabue suatu ketika. (Udah pindah berapa kali tuh? Banyak banget stadiunnya. Percayalah Bung Boaz, bagi saya, Anda lebih special dari Pele)

Ketika aktifitas pagi dimulai, satu waktu saya menyiapkan diri buat ngebaca buku-buku pelajaran hari itu. Teman asal papua penasaran, dan bertanya kepadaku :”Buku apa aja itu?” aku jawab “Ya buku pelajaranlah.” Ia manggut-manggut dan mengulang jawabanku :”Owww…..buku Pelijaran.” Aku terdiam sesaat, perkataannya agak sulit diterima bagi yang paham apa itu arti Pelijaran. Aku berbisik kepadanya :”Sssst….jangan bilang Pelijaran…ini buku PelAjaran.” Ia jawab :”Oke-oke….buku p-e-l-a-j-a-r-an”. Ia kembali ke arah lemarinya. Sorenya kita main bola di depan halaman kamar. Kita tertawa riang menikmati sore itu sebelum aktifitas lain merenggutnya. Dalam hati aku berharap pelijaran hanya jadi salah satu kenangan yang tak terlupakan. Dan hari ini aku menulisnya.


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: