Beriak


Salah satu pelajaran berumah tangga aku dapatkan dari seorang single parent yang membesarkan tiga orang anak. Tatkala si anak bertanya kepada ibunya yang terus-terusan masak stagnan; lauk-pauk setiap hari tidak berubah walau kadang perubahan itu hanya berlaku beberapa hari saja dalam seminggu, Ibu yang bersahaja itu menjawab dengan senyum bahagia di bibirnya : “Nak, jangan memprotes apa yang aku masak, keluarga yang baik itu tidak diketahui apakah sedang punya uang atau tidak, terus aja berada di tengah-tengah.” Stagnan tidak bergelombang longitudinal alias terus berada dalam tengah-tengah adalah sikap yang indah. Sikap demikian tidak terprediksi; apakah sedang dalam kondisi minus, atau pun juga sedang dalam keadaan gebyar kesejahteraan.

Sudah menjadi kaidah umum jika psikologi manusia mudah terbawa oleh suasana. Dalam kondisi bahagia, ia sering kali menampakkannya : dan memang harusnya begitu, it’s totally innate. Namun secara khusus, saya pribadi salut pada orang-orang yang menempatkan kebahagiaannya dalam koridor yang wajar ; silent but totally worked out. Ia tak terjebak dalam ketidakwajaran untuk menyampaikan kebahagiaan secara berlebihan. Ia tenang, tersenyum, hampir tak bersuara, tapi hatinya bergemuruh syukur mengembalikan kebahagiaan kepada pemilik sejatinya kebahagiaan itu sendiri.

Dalam kondisi berduka, orang diluar lingkaran dalamnya pun tak mengetahui apakah yang bersangkutan dalam kondisi berduka betulan. Sorot wajahnya boleh sayu, memendam rasa tegar atas cobaan yang diterimanya, tapi ia begitu tenang. Ia paham betul bahwa duka tak selamanya duka. Kesedihan adalah salah satu proses kehidupan yang harus dilalui. Sama halnya dengan kebahagiaan, kesedihan juga perlu dimanage dengan bijak. Ia mengembalikan kesedihannya pada yang maha pemberi kesedihan. Plong!

Memanage perasaan untuk tetap tenang, tetap fokus, tetap sadar bahwa yang dilalui adalah satu rangkaian permainan perasaan belaka merupakan ketrampilan yang rumit. Banyak faktor yang memengaruhi untuk condong pada salah satu sisi atau terjerumus dalam keindahan perasaan. Jangan dikira bahwa perasaan bahagia saja yang bisa dimanipulasi, perasaan sedihpun dalam menyebabkan orang merasa ketagihan untuk tetap berada di dalamnya.

Orang-orang bijak sejak dahulu kala menyadari bahwa capturing the sense, penangkapan rasa, atau pemaknaan perasaan terhadap yang di’rasa’kan adalah tipuan tercanggih. Ia pun merasa perlu untuk menyepi, menyendiri, merenung dalam-dalam tentang kondisi yang dirasakannya. Dalam catatan sejarah, mereka mengasingkan diri ke gunung-gunung, bertapa brata, menghidupkan malam untuk mengenali diri mereka sendiri. Lalu pulang dengan pencerahan untuk menjalani hidup ini kembali.

Menghidupkan perasaan tenang dan menjaganya terus stabil dalam gelombang perasaan yang ditemui saat bersosialisasi juga tantangan baru setelah pencerahan itu didapatkan. Dan begitulah proses ini berlanjut hingga ketrampilan tersebut benar-benar terasah. Benar-benar tajam. Seperti belati yang diasah setiap hari, ia selalu mandes, satu sabetan saja sudah cukup untuk menebang pohon rintangan sebesar apapun.

Salah satu doa nyeleneh kiai yang bersahaja terngiang kembali, doanya sebagai berikut : “Ya Alloh, berikanlah aku ujian setiap hari, tapi berilah aku kemampuan untuk menghadapinya.” Doa yang nyeleneh menurutku. Karena kiai yang aku hormati itu berparadigma lain ketimbang manusia-manusia pada umumnya. Ia menghendaki adanya ujian setiap hari, sebanyak-banyaknya. Ia tak berpikir untuk berdoa agar hidupnya bahagia, agar anak turunnya diberi kemudahan, dan segala tetek bengek atribut keindahan hidup. Ia malah meminta ujian. Kiai itulah yang menangis sejadi-jadinya tatkala mengetahui santri kesayangannya ; Emha Ainun Najib diusir tanpa sepengetahuan beliau.

Proses ini akan berlanjut dan akan menemui akhirnya. Batas yang tidak bisa ditolak. Jika ada permulaan, alam raya juga menciptakan akhiran untuknya. Dualisme yang indah, saling bertautan satu sama lain. Semoga akhiran kita nantinya adalah kesempurnaan menuju awalan yang indah.


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: