& choK..


Standard ganda tidak akan pernah terpisah dari manusia hingga ia mengakhiri hidupnya di bumi ini. Sebagai makhluk sosial, pilih kasih akan selalu menjadi variabel yang terus melekat pada penilaian manusia terhadap sesuatu. Yang bisa dilakukan adalah menyetting agar standard ganda berlaku smooth dan situasional. Ada kalanya diperbesar frekuensinya, dan ada kalanya diperkecil sedemikian rupa.

Siapa sih yang tidak jengkel melihat timpangnya pendapatan antara orang biasa dan orang luar biasa yang kerjaannya setiap hari “meeting” melulu? Siapa yang tidak dongkol melihat orang dengan seenak udelnya sendiri menikmati fasilitas segunung dan penghasilan tanpa perlu berpayah-payah? Pernah ada orang yang mengungkapkan bahwa penjajahan adalah hal yang wajar di bumi. Antara yang kuat dan yang lemah pasti bertabrakan dan pemenangnya adalah si Kuat. Kalo bangsa U dijajah, ya gak papalah wong itu sudah lumrah kok. Siapa yang tidak panas hati ketika nama bangsa diinjak-injak dihadapan orang asing tengik seperti itu. Jengkel? boleh dipilih, tapi jika masih bisa memilih jalan lain, knapa tidak? Sangat situasional.

Kenapa harus jengkel dan berhadapan diametral melawan ide-ide yang tidak cocok dihati. Marilah rileks, enjoy, sambil menyunggingkan senyum bahagia kepada mereka. Mari kita ikut mendalami pola pikir mereka. Menyelami rongga-rongga logika yang telah mereka bangun kokoh itu. Dan ikut melebur dalam alam pemahaman mereka tentang apa yang menjadi keyakinan mereka. Mencoba menemukan ruang-ruang universal untuk bertemu paham, mencocokkan naluri kemanusiaan, dan mengangguk bersama-sama untuk saling menghormati.

Kawan saya menemukan kesepakatan itu dalam pisuhan jowo yang khas di telinga jawa timuran ; Jancok! Orang-orang bule amrik itu diajari misuh, badwords, sumpah serapah khas indonesia. Kata shit! Dirubah menjadi Keparat! Old Basterd dirubah menjadi Tua Bangka Biadab! Mr Badword dirubah menjadi Mr Jancok. Dan mereka sangat menikmati kata Jancok.

Awal mengajarkan mantra-mantra rahasia diatas sangatlah sulit. Itu mengingat perbedaan kultur dan budaya antara jawa dan amerika. Mereka terbiasa dengan lidah yang menggulung-gulung, menghilangkan beberapa huruf, membaca huruf tidak pada umumnya sehingga membaca Salmon harus menghilangkan L-nya menjadi Saemen, cow dibaca kau, coward dibaca kauwed, anehnya lagi sama-sama ada tengahan “w” nya kata law dibaca “la” dan low dibaca lho. Pun juga dengan Jancok, pronounciation jancok juga rumit bagi mereka. Jika Anda membaca Jancok secara datar, ia tidak bermakna sangar. Jancok perlu penekanan yang dahsyat, sengau yang mantap, ancang-ancang nafas yang kokoh, dan energi keluaran yang berat.

“No sir, just not like that. You must give more attention to emphasize your breath. Don’t say jancok, jancok, jancok, it’s meaningless. But you must give it pressure like ; Jan”c’oK!. Or you just say ””CccoK is enough.” Bule itu manggut-manggut senang bukan kepalang.

Dan tibalah saat praktek. Suatu ketika bule itu mengumpulkan ekspartriat lainnya. Ada tiga orang yang terkumpul dan ia menuding satu persatu sambil mengumpulkan nafas dan berkata; “You Scott, Jan”’CoK!, you also Jan”CoK” kalimat itu satu bersatu menghajar keempat bule lainnya. Mereka yang tidak tahu hanya bengong pengen tahu. Dan brimob-brimob disampingnya tertawa menahan perut dan geleng-geleng kepala liat bule gak waras kayak gitu.

Efek jancok pun berformulasi menimbulkan rasa persamaan, rasa persaudaraan, keintiman persahabatan, dan saling menghormati antara bangsa satu dengan bangsa lainnya. Sekarang mereka sudah sederajat, sudah menjadi teman. Tidak ada lagi antara amerika dengan indonesia. Mereka menjadi sama-sama manusia. Equal.

Sebagai teman, si bule memberi hadiah kepada si indonesia. Ia memberi banyak baju bermerek, kaos dan jeans bermerek berbandrol $160 dollar yang jumlah lebih dari lima buah, memberi ia senjata Barreta, mengajaknya latihan menembak dengan AK-47 di lokasi brimob rutin setiap hari. Si indonesia pun memberinya oleh-oleh khas Indonesia, some gift like kaos harley davidson, hape merek cina yang bikin mereka terheran-heran karena bisa menanggap siaran televisi, batik, koteka, dan barang lokal lainnya.

Dari Jancok saya termenung. Dalam lelap aku katakan; Jancok, I love you Full!


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: