Membeli Kebahagiaan


Liburan kali ini berbudget 15 juta, dan harus habis dalam sebulan. Namun 15 juta tidak menjamin kebahagiaan. Hati tidak pernah bisa ditipu. Kebahagiaan tidak terbeli dengan apapun. Bahagia adalah soal hati, soal rasa, soal rahasia dan soal kecocokan.

Saya sendiri sempat menikmati journey happy-happy-an tanpa batas itu. Kabur dari warung ke warung. Berpatroli dari satu tempat karaoke ke tempat karaoke lainnya. Makan di tempat-tempat high class. Masuk lorong-lorong petualangan di sekitaran depot-depot tradisional yang samar-samar. Dan berbagai petualangan hura-hura lainnya. Kita memang tertawa, tapi kita kesepian. Pendeknya, kita tidak bahagia.

Bahagia adalah soal hati, soal jantung, dan seperti yang saya sebutkan tadi; soal kecocokan. Uniknya, walau kita punya potensi rupiah sebesar berapapun untuk menikmati kenikmatan apapun, masih tetap tidak ketemu sejatinya kenikmatan yang sangat dirahasiakan oleh-Nya. Semacam permainan hide and seek, permainan petak umpet. Kita mencari-cari dimana letak kenikmatan sejati itu dalam kurun waktu umur kita hingga ajal menjemput.

Sebagai anak muda tentu kita punya harapan dan cita-cita yang realistis. Pertama-tama memiliki kompetensi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, sehingga pendapatan hasil kerja juga dihargai dengan layak. Dari pendapatan yang layak bisa mencukupi kebutuhan bulanan yang mapan. Dari kemapanan hidup, kita coba untuk menambah atribut kesosialan berupa perangkat-perangkat keras yang memungkinkan diri beraktualiasi dihadapan manusia lainnya. Setelah itu apa? Masih terus berlanjut hingga kepuasan-kepuasan diri dapat diwujudkan. Disitulah kita mengenal kata “sukses”, success, najah, mapan. Itu pun belum tentu. Di rentan masa ketidakmasukakalan negara ini, yang berlaku bukanlah hukum sebab-akibat, justru hukum kekonyolan dan ketidakmasukalanlah yang berkuasa. Satu hikmah bisa aku sarikan; konyollah, nyelenehlah, megendenglah di tempat yang memang tidak masuk akal. Hehehehe……
Boleh jadi orang berpengahasilan besar juga dibuat pusing dengan penghasilannya itu. Ah, teori! Mana mungkin! Statement yang mengada-ada! Mana bisa dengan uang banyak malah pusing. Dengan penghasilan besar tentu saja yang bersangkutan memiliki pilihan-pilihan lebih untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Tidak percaya kalo penghasilan besar juga belum tentu bahagia? Memang sich, tanpa praktek akan pusing menjelaskan bagaimana kekayaan tidak menjamin kebahagiaan. Enaknya gini aja, gimana kalo kita berpenghasilan besar dulu baru beri statement. Ah, itu ide baik! Untuk sementara pernyataan ini belum ada jawaban sebelum kita semua mencobanya sendiri.

Lalu terbuat dari apa kebahagiaan itu? Bayangkan begini, atau gak usah dibayangkan juga gak papa. Saya ingin kita semua melihat barang yang kita miliki saat ini untuk mempermudah penjelasan berikut. Coba kita ingat-ingat saat pertama kali berhasil membeli barang yang kita inginkan, misalkan blackberry. Ada perasaan senang saat membayarkan uang ke konter, puas saat mengelus dusbooknya, bangga memegang pertama kali, dada terasa lebar saat batere dan kartu diaktifkan, hati terasa berbunga-bunga saat pertama kali menge-casnya, dan setiap sel dalam tubuh kita mendorong untuk terus merasa energic dengan keberadaan barang tadi. Stimulus barang menimbulkan dorongan rasa batin untuk terus senang. Inilah hukum sebab-akibat, ada barang kemudian kita senang dan puas. Pemenuhan “rasa” setelah ada yang bisa di”rasa”kan.
Mencintai barang-barang mewah adalah halal. Sangat halal. Wong hasil keringat sendiri, entah itu dengan cara kredit, minta dana orang tua, hasil kerja beberapa bulan, atau apapun wong juga itu untuk kebutuhan pribadinya sendiri, tentu sangat halal, sangat-sangat-sangat halal. Tidak ada salah, dan ini bukan soal benar atau salah. Bagi saya, benar-salah bukan soal manusia. Manusia tinggal menjalani apa saja yang disuguhkan dihadapannya dengan kehendaknya sendiri. Ini adalah soal rasa. Roso kata orang jawa.

Dan ternyata roso-ku belum tergolong sebenar-benarnya roso. Masih terlalu ringkih untuk terjebak dalam senang dan sedih. Masih rentan antara marah dan maaf. Masih sering lunglai di depan harapan dan keputusasaan. Saat bernyanyi sekuat tenaga diantara lantunan subwoofer di ruang kedap udara, bukan hanya mulut dan lidah, ternyata hatiku juga ikut bernyanyi sekencang-kencangnya. Kadang dalam keadaan bersujud sesujud-sujudnya seakan hatiku bicara ; Tuhan pasti mengabulkan doa yang aku haturkan. Roso ini sulit sekali untuk ajeg. Dan karena kesulitan itu maka saya sendiri bersyukur. Bersyukur bahwa saya masih manusia, masih tergolong hewan, dan masih diberi kesempatan untuk sekian kalinya mengajegkan roso seajeg-ajegnya.


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: