Ngimpi…


Buku harian ini aku tulis lagi. Setelah sekian lama — hampir setahun– tidak menulis lancar. Trying-Trying-lah, seperti itu. Kali ini aku menulis tentang mimpi.
“Ngimpiii……..”

Sebagian orang menganggap mimpi sebagai bunga-bunga tidur. Ada sebagian lagi menganggapnya sebagai petunjuk untuk melakukan kegiatan nyata dalam hidup. Mimpi bagi manusia adalah kegiatan yang tak terelakkan. Bagaimana dengan hewan-hewan lainnya? Haha, aku tak tahu,wong ndak pernah nanya pada sapi, kuda, semut, tikus, cicak, atau hewan apapun. Hehehe. Entahlah. Tapi paling tidak, as a humanbein’, mimpi adalah kegiatan nyata yang unreal. Begitulah…

Aku punya keanehan ketika bermimpi. Remang-remang, samar, tapi jelas, dan ketika bangun tidur langsung lupa. Kealpaan terhadap mimpi aku rasakan baru-baru saja. Sekitar dua tahunan lah. Ketika malam bermimpi, langsung pada saat bangun, mimpi yang telah menclok di alam tidur langsung hilang. Otakku coba mencari-cari sedang mimpi apa kemaren malam, ternyata tidak aku dapatkan. Namun, saat mengalami kegiatan nyata, tiba-tiba mimpi itu muncul kembali. Ah, aku pernah mimpi tentang hal ini. Dejavu.

Knapa sih kok sibuk amat ngurusi mimpi? Apa sedang mencari wangsit? Mencari petunjuk dan pedoman dalam menjalankan apa yang terjadi esok hari? Tidak, tidak demikian. Aku hanya penasaran, kok bisa begitu. Mungkin saking lamanya otak ini gak kepake yach…hehehehe…sehingga mengingat-ngingat hal-hal yang langsung menancap ke diri jadi tidak peka lagi. Atau mungkin karena keadaan sekarang ini lagi nganggur, trus-trusan cari pekerjaan, dan pekerjaan itu adalah menganalisis mimpi. Hahahaha

Bisa jadi seperti ini; lagi belajar menulis, terobsesi menuangkan ide ke dalam bentuk naskah yang bisa dibaca buat membunuh waktu pengangguran yang lamaaaa sekali. Ribuan ledakan pengalaman menarik, atau ide-ide liar, bisa menimbulkan efek nyata yang tak terhingga. Tinggal menjalani, menikmati setiap perjalanan, dan bersyukur bahwa hidup ini memang ada. Yup, terlepas dari kondisi yang kadang menyiksa bathin; kekurangan duit, kekurangan ide, kurang sehat, apapun kekurangan yang kita rasakan, hakekatnya hidup ini ada. Sekarang ini, selama ruh masih di kandung badan, hidup ini belum berhenti.

Mimpi adalah salah satu kenyataan imaginer. Okey, saya sebut kenyataan karena kita merasakannya, menikmatinya, bisa jadi sangaat senang, bisa jadi deg-degan tak terhingga, bisa jadi penasaran, bisa jadi kapok merasakan mimpi, bisa jadi biasa saja, bisa jadi tegang gak karuan, atau bisa jadi kita cuek saja sambil diam-diam merasaka “oh” dan tersenyum bahagia. Imaginer karena keadaannya memang tidak ada, ilusi, dan seberkas pengalaman bathin yang sulit sekali melacaknya. Mimpi adalah kenyataan yang menimbulkan ribuan tanda tanya dan sikap.

Life must be continued. Hidup terus berjalan hingga titik akhir dimana kita akan meninggalkannya dan menjalani proses kehidupan berikutnya. Menggantungkan diri pada mimpi adalah naif, dan menghiraukan mimpi juga tergolong sebagai orang yang menghiraukan adanya kenyataan batin dalam sisi lain manusia. Seperti kata bijak yang aku dapatkan di kelas satu pesantren, bahwa sebaik-baiknya urusan adalah yang pertengahan. “ausatuha” pertengahan, tidak condong ke kanan atau ke kiri, tidak keatas atau kebawah, hanya pertengahan.

Pertengahan bukanlah sebuah ketidakjelasan sikap. Pertengahan sendiri itu adalah satu bentuk persikapan. Dan saya menambahinya, pertengahan itu menjadi sikap bathin yang sangat sulit untuk menyelidikinya. Sangat sulit karena ia berdimensi subyektif dan rahasia. Boleh jadi tampak seseorang sangat condong ke kiri tapi ia memaknai kekiriannya dalam bentuk kekananan dalam sanubari terdalam hatinya. Sangat rahasia, dan sulit untuk diterjemahkan.

Apa yang terjadi diantara satu manusia dengan manusia lainnya tidaklah sama. Pengalaman sama, potensi sama, tapi tidak akan menjamin hasil akhir yang sama pula. Itu semua sudah diatur sedemikian rupa guna mencari sejatinya hidup, kemana akan berlabuh, dan bagaimana proses tersebut dinilai, diassest oleh juri alam semesta. Hingga pada akhirnya, semuanya bersifat subyektif, individual, dan intim sekali antara dirinya sebagai manusia dengan pemilik alam semesta raya.

Ada yang mengganggap hidup adalah pengumpulan harta sebanyak-banyaknya, kalo perlu seluruh dunia ini kekayaannya diserap menjadi satu tabungan atas nama dirinya. Ada yang menanggap bahwa kehidupan ini sebagai proses aktualisasi diri, menjadi terkenal seluruh dunia, kalo perlu sejagad raya. Macam-macam lah orang menanggap apa arti nafas yang ditarik setiap hari tersebut. Ada yang sangat positif, hingga saking positipnya, yang negatif dimaknai sebagai positif. Ada juga yang menganggap negatif, saking negatipnya, sesuatu yang positif dimaknai sangat negatif. Dua kutub yang selalu ada dalam alam semesta. Dan Tuhan tidak berada di dua-duanya, ia positif sekaligus negatif, ia negatif namun bermakna positif. Kata orang jawa ; “kuwi mung dudu kuwi, dudu kuwi namung yo kuwi”. Penilaian kita sebagai manusia sangatlah rendah. Untuk itu benar kata Gus Dur “kudu rangkulang rino lan wengi”, bergelantungan, bersandar, menaruh seluruh tujuan hidup untuk kecintaan pada Pemilik Alam Semesta Raya.

Persikapan terhadap fenomena-fenomena yang hadir dalam kehidupan menimbulkan ledakan penilaian disekitar kita tentang kita, tentang diri kita, dan tentang kehidupan kita. Entahlah apa hasil penilaian tersebut, namun penilaian yang sesungguhnya ada di hadapan Pemilik Alam Semesta. Hanya dia yang berhak menilai persikapan yang telah diambil, dan tentunya hal tersebut akan sangat elok jika dibarengi dengan kecintaan pada Pemiliknya.
Saya ucapkan selamat pada teman-teman, pembaca, yang gemar mengumpulkan rupiah di kas tabungan. Pun juga saya ucapkan selamat pada kawan-kawan yang tidak menghiraukan adanya unsur kebahagiaan dalam banyaknya angka di tabungan. Asalkan satu hal, bahwa semuanya yang dijadikan landasan adalah Kecintaan terhadap Pemilik Alam Semesta Raya.🙂

Kecintaan terhadap-Nya menimbulkan kekuatan untuk berbuat apa saja, pun juga mengingatan bahwa kepoweran kita, kedigdayaan kita juga tak ada apa-apanya kalo tidak disertai oleh-Nya. Kesombongan di satu sisi, juga Ketawadlu’an di sisi lain. Sangat samar, namun jelas. Indah pada akhirnya, nikmat dalam setiap proses yang dirasakan. Dan tentunya sangat intim, kita yang disekeliling Anda hanya menilai, tapi itu bukan penilaian sesungguhnya. Kita hanya penonton, dan hinakah sebagai penonton? Ah tidak juga, kalo gak ada penonton, trus yang bertugas sebagai pemain siapa? Hehehe…..so, Enjoy lah terhadap segalah sesuatu yang terjadi, menikmati terus menerus walau dalam keadaan suka, duka, setengah duka, atau setengah bahagia. Just Enjoy, tidak ada yang lain. Sambil terus merawat hati, jantung, rasa, atau apalah namanya, yang hanya ditujukan kepada Pemilik Alam Semesta. Selamat menikmati setiap kejadian yang ada di sekeliling Anda.


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: