Perjalanan Ke Madiun


Sudah pasti kalau ke sana akan melewati Madiun. Sejak tahun 1996-2001 saya pribadi rutin melewatinya. Kota yang sempat jadi basis pertahanan RI ketika masa perjuangan, dan menyisakan ke-khasan tersendiri. Selama ini Madiun terkenal dengan pecelnya. Mmmm, ada pertanyaan, apa bedanya pecel madiun dibandingkan pecel-pecel yang lain? Menurut versi teman saya, pembedanya adalah srundeng yang disertakan dalam nasi, kalo pake srundeng berarti pecel madiun, kalau tidak ya bukan pecel madiun. Beberapa kali saya menikmati pecel, pernah suatu ketika menikmati pecel ponorogo-gak ada srundengnya– di dekat alun-alun kota Ponorogo, nikmat nian, lauk-pauk tersaji panjang di depan di penjual, dan kita tinggal memungut apa yang dimaui sambil totalan di saat akhir. Beberapa kali juga menikmati pecel Madiun di Pabean Sidoarjo, sama nikmatnya, sambalnya khas. Ada semacam bau kencur yang menyengat tapi tetap nikmat. Madiun secara umum bisa dilihat dari pecel yang sudah menjadi ciri khasnya. Ah semakin rindu saja dengan pecel.

Bukan pecel tujuan utama kesana, tapi sowan atau silaturahmi ke makam ayahnya teman. Perjalanan ini agak unik, selain tujuannya yang tidak umum, juga si sopir yang juga pernah menjadi sopir presiden RI ke empat, Abdurrohman Wahid. Disopiri oleh mantan driver pribadi presiden sangat istimewa; santai tapi sangat cepat, tidak gugup walau sempat crash berhadapan langsung dengan mobil lain yang juga kencangnya minta ampun, tetap cool ketika beradu speed walau dengan jenis mobil diatas kendaraan yang kita naiki, juga sedikit bonus tentang cerita bagaimana ketika presiden RI berada dalam kendaraan. Sedikit kebanggaan menyeruap dalam diri ane; seperti ini ya rasanya jadi presiden. J

Apa yang terbentang selama perjalanan Jombang-Madiun merupakan sebagian kecil fenomena yang menghinggapi kebangsaan kita. Misalkan saja pesona kuliner di Nganjuk. Sempat sekitar empat puluh lima menit kita hinggapi nganjuk, menikmati nasi pecel yang terkesan biasa, tapi nikmatnya minta ampun dengan harga yang pas dikantong. Sangat sempurna untuk sarapan pagi. Lokasinya ada di depan Departemen kehutanan, pas dilokasi tempat petugas polisi mengumpulkan mobil dan kendaraan pasca tabrakan. Bolehlah lain waktu, bagi para pembaca untuk mampir sebentar di warung yang tak sempat tahu apa namanya, tapi saya berikan jaminan “spesial” buat Anda yang menginginkan kenikmatan di pagi hari (breakfast) bersama pecel Nganjuk, ditemani view spesial kendaraan-kendaraan penyok. J

Memasuki Madiun, kita disuguhkan pesona kejayaan Hindia-Belanda masa lampau. Pabrik Gula yang juga warisan Belanda, Pabrik Kereta Api, dan ini yang lebih penting; kekhasan muda-mudinya yang terjebak antara kemodernan masa lampau dan kebutuhan untuk mengikuti kekinian. Bagi rekan-rekan yang masih beranggapan bahwa wanita kota adalah tipe ideal untuk mengikuti kemodernan, saya anjurkan mulai sekarang ikut menjelajah di kampung-kampung kota tanggung seperti Madiun.

Kita menemukan mudi-mudi yang super seksi dengan balutan kesintalan modernitas. Menunjukkan bahwa sisi tubuhnya adalah anugrah agung yang sangat layak diperhatikan oleh masyarakat. Mengagumi ciptaan Tuhanlah, semacam itu. Tapi kita juga sempat kecewa ketika menemukan satu diantara mereka dengan paras wajahnya yang masih menyisakan kekhasan kota itu sendiri; bersahaja, hitam manis, dan terkesan sangat memaksakan diri untuk bergabung dengan kemodernan. Overall, the grade still obviously interesting by the way. Indah untuk dinimati, layak untuk disyukuri. Bukan berarti dengan statement tersebut, saya tergolong modern untuk menilai orang lain layak atau belum digolongkan modern, ini hanya usaha saya menyampaikan bagaimana keindahan kota-kota lain di benak Anda. J

Saya pun merasa terlalu picik jika menganggap Surabaya adalah kota terlengkap di Jawa Timur. Dengan bangunan-bangunan yang spesial, sejarah kepatriotan, multietnis yang beragam, atau segebok cap mentereng yang melekat padanya. Dengan berkunjung ke Madiun, saya merasakan sensasi lain bahwa masih terlalu luas untuk menilai sesuatu. Masih ada Langit diatas Langit. Masih ada tipe-tipe lain yang sangat layak diexplore, dinikmati, dijadikan tabungan dalam pemahaman makna kehidupan. Secara gentle saya berterima kasih pada kota Madiun, dan Tuhan tentunya.

Beberapa teman saya berasal dari Madiun, dari yang saya kenal, mereka sukses bukan kepalang. Kesuksesan yang berada diatas grade rata-rata anak Muda Kota. Masih umur 25-30 tapi sudah bermain properti, kuliah S2, bekerja pada perusahaan yang mapan, menjadi guru, jadi PNS rumah sakit, dan mereka sangat cukup untuk sustain dalam hidup, berada di garis kemapanan.

Sepulang dari makam, kita mampir sebentar untuk ngopi dan jajan gorengan di tengah alas jati Saradan. Tempatnya pas di belakang pos polisi, agak nyelempit, tapi kata si sopir, tempat ini enak untuk cangkruk, murah meriah, pas di kantong, dan jaminan kenyang. Dan memang begitu adanya. Hehehe….Kita memesan kopi, teh hangat, ote-ote, tahu isi, jeroan ati-rempelo, dan duduk di atas kursi jati yang kuno.

Perjalanan berlanjut dan kita berdiskusi tentang polisi yang nakal di kawasan Saradan-Bagor, tentang rumah remang-remang yang berada di perbatasan Madiun-Nganjuk (yang hampir tak kupercayai dan aku yakini setelahnya ketika melihat para wanita setengah baya yang duduk berderet sambil memamerkan pose menantang di siang bolong), tentang mekanisme pengawalan mulai dari Gubernur, Kepala Daerah, dan Presiden RI, tentang cara menarik konsumen dengan memancing naluri kelaki-lakian, tentang modifikasi mobil setelah kita menjumpai fenomena unik berupa mobil berwajah kijang yang ternyata adalah Colt Diesel butut, juga tentang kehidupan itu sendiri yang sangat layak untuk disyukuri.


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: