Celotehan tentang Menulis


Hari ini benar-benar mengesankan. Pagi sudah terbangun dan aktifitas dimulai meskipun kebanyak kantor-kantor sedang tutup. Kesibukan pagi dimulai dengan mangantarkan ibu ke pasar turi buat belanja dagangan yang nantinya dijual lagi di pabrik. After that, saya bisa menikmati kegiatan yang sedang saya selidiki, yakni belajar menulis.

Ada yang mengatakan menulis adalah urusan jiwa. Seolah campur aduknya jiwa, rasa, dan logika bergabung dan menitikan huruf demi huruf dalam lembaran naskah. Ungkapan-ungkapan jiwa yang terstruktur itu sama dengan cermin bagi yang menulisnya. Seolah-olah yang menulis secara imajiner betutur pada si pembacanya. Jika yang dituliskan runtut, logic, apalagi ditambahi bumbu yang sedap, tulisan-tulisan tadi macam makanan lezat bergizi yang layak disantap oleh pecinta informasi.

Bagi penulisnya sendiri, hampir akan sangat sulit untuk menjelaskan bagaimana mereka bisa menulis sejenius itu. Rata-rata mereka memberikan tips-tips seadanya, memberikan proses-proses kreatif dalam menulis, memberikan cara-cara yang pas buat menggali ide. Dan selanjutnya, silahkan Anda langsung praktek saja menulis! Titik. Resep cespleng seperti apapun akan berakhir pada bagaimana Anda akan melaksanakan misi berikutnya yaitu misi tetap mengetik dan mengungkapkan logika runtut ada di depan Office atau mesin ketik.

Atribut-atribut menulis selain bergantung sepenuhnya pada jam terbang dalam melontarkan ide, juga tergantung bagaimana kejelian dalam menilik suatu permasalahan yang sedang dibahas. Memiliki sisi penglihatan yang berbeda dan mengena sangat tergantung bagaimana pula “jam terbang” lain dari penulis. Jam terbang pengalaman dalam membaca situasi, kondisi, fenomena, dan buku. Juga jam terbang dalam merenungi, mensarikan, menghayati permasalahan yang sedang ditulisnya. Untuk permasalahan di luar jam terbang pertama-yaitu praktik menulis–, penulis-penulis akan menemukan bentuk dan formulasinya sendiri yang akan menjadi karakteristik khusus sehingga dia dikenal luas dengan gaya tulisannya yang khas. Kita bisa merasakan bagaimana menariknya tulisan-tulisan tokoh-tokoh dan pengarang buku semisal : Dahlan Iskan, Emha Ainun Najib, Mustofa Bisri, Andrea Hirata, dll.

Siapapun akan bertemu dengan sebuah masa yang dinamakan proses. Termasuk dalam tulis menulis. Seseorang akan melewatinya guna menemukan gaya dan cirri khasnya sendiri. Menjadi penulis, atau paling tidak memiliki hobi menulis akan benar-benar diuji dengan berbagai hal yang kelihatannya menghalanginya untuk menulis lagi. Entah itu karena hilangnya kreatifitas, tidak adanya ide, bingung bagaimana harus menulisnya, bingung memilih susunan kalimat karena kata-kata ini dan itu telah digunakan di karangan sebelumnya, dan seribu satu persoalan lain yang datang baik secara sengaja atau tidak. Proses ini sangat lumrah. Biarkan saja mengalir, biarkan berlalu, dan biarkan akan tetap ada. Sekarang tinggal yang bersangkuatan apakah akan terus melanjutkan hobi menulis atau lempar handuk menekuni hobi yang lain.

Menulis sendiri mirip kisah cinta. Kenapa cinta? Ya karena memang penulisnya akan benar-benar dipertanyakan tentang seberapa cinta dia sama dunia tulis menulis. Ingatkah Anda pesan teman-teman yang mengomentari temannya yang lain ketika jatuh cinta? “Karena cinta, (maaf!) tai kucing bisa berubah jadi cokelat”, atau “Love is Blind, everything I do it for you,” dan berbagai ungkapan lain yang mengkaharkan adanya kegilaan serius ketika seseorang mengalami cinta. Seberapa cinta Anda dengan dunia ini?

Resiko menulis karena cinta dengan dunia ini adalah memang benar-benar cinta dengan dunia tulis menulis itu sendiri. Bukan karena uang, bukan karena ketenaran, bukan karena pengen dikenal, bukan karena memang tulis menulis menjadi jalan baginya untuk meraih kekayaan. Ketenaran, kekayaan, dan uang adalah efek bonus dari kecintaannya terhadap dunia tulis menulis.

Terlalu beresiko menaruh harapan tulis menulis karena kekayaan atau ketenaran. Untuk itu, saya pun tidak meletakkannya dalam koridor ini. Yang saya lakukan adalah terus menulis, dan terus menulis apa pun yang menurut saya layak ditulis. Lalu hidup dari mana? Ya kerja yang lain lah. Saya cinta tulis menulis dan memang akan selalu begitu. Bagi saya, tulisan ini sudah tertulis saja sudah senangnya minta ampun. Terlepas dari compang-campingnya struktur bahasa, monotonnya gaya tulisan, bahasan yang tidak menarik, blas gadas saya tidak mengurusi tetek bengek itu. Yang penting bagi saya adalah ketika memang waktu longgar menanti, ya sudah, siap-siap menuangkan ide ke bentuk naskah.

Ah, menulis, kalo kau ibarat lautan, apa yang kulakukan hanya sebatas mengambil air segelas dari tepianmu.

Selamat tidur…


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: