Sedang Ingin Bercinta dan Rahasia-Nya


Mmm…Mengagumkan! Itu kata pertama yang muncul saat mendengarkan salah satu alasan teman saya ketika Ia memberanikan diri untuk menikahi adik kelasnya disaat kerjaannya masih belum jelas.

Sebenarnya tidak terlalu belum jelas amat sih. Secara financial kehidupan pribadinya tercukupi dalam tataran mapan. Ia bekerja sebagai pegawai kontrak yang mengurusi proyek pembangunan PNPM di daerah Mojokerto Jawa Timur. Tapi jika diukur secara logika, gajinya belum dirasa cukup untuk menghidupi anak orang. Belum cukup untuk membeli Rumah, mobil, dan apalagi jika kemungkinan kebutuhan mencukupi anak ketika nanti benar-benar dikaruniai seorang, dua orang atau sepuluh orang putra.

Alasannya untuk menginjakkan kaki menuju keberanian menikah adalah alasan konyol yang sudah menjadi naluri dasar manusia : Seks! Tidak lebih dan tidak kurang. Kalo ada alasan lain semisal, untuk beribadah, agar menjadi dewasa, dan seabreg alasan lain, semuanya kandas dalam satu urusan ; bertemunya dua organ paling unik yang pernah diciptakan oleh Tuhan Semesta Alam.

Awalnya, ia merasa malu buat berkonsultasi langsung ke orang tua. Ia coba Tanya ke kakaknya yang sudah menikah duluan. Satu keyakinan yang sudah mantap akhirnya sempat mundur ketika ia ditanyai pertanyaan ini : “setelah menikah, hari pertama setelah menikah, planning apa yang kamu lakukan buat menghidupi istrimu?”. Ia tertunduk lesu. Menatap ke bawah sambil melihat perutnya yang memang super jumbo itu. Ia terdiam, dan dia mengurungkan niatnya.

Ah, Tuhan. Inilah rahasia yang tidak pernah aku tahu jawabannya. Ketakutan untuk menghidupi istri dan membawanya ketataran kesejahteraan hidup sungguh soal rahasia yang sengaja Engkau bikin agar kami terus bisa terkoneksi denganmu. Kau sengaja ciptakan aku dengan nafsu seksual yang sudah ingin menemukan jalannya sejak kelas 1 SD. Ingin sekali, ingin sekali, ingin sekali, saking inginnya sampai aku tulis tiga kali. Ingin sekali aku meluapkannya. Logikaku sudah tak mampu lagi menerima seribu satu alasan buat nolak keinginan ini. Himpitan celana seksi para perempuan, filem-filem dewasa, gurauan mesum kawan-kawan dan sejuta potensi yang secara kilat menyambar birahiku untuk memuaskannya. Jika kau telah menciptakan nafsu besar di badan besar ini, tentunya Kau juga yang akan memberikan solusinya. Aku percaya itu. Cukup hanya percaya. Titik.

Buntu! Jalan satu-satunya apalagi kalau tidak mengungkapkan kejujuran terdalamnya itu pada orang tuanya. Untung saja, orang tuanya maklum dan memelas melihat nafsu birahi anaknya itu. Dengan berbekal kalimat mujarab dari kitab agung Al-Quran “yang miskin akan diperluas rejekinya dengan menikah”, maka teman saya itu mendapat tok pengesahan untuk melangsungkan lamaran. Hanya lamaran, bukan pernikahan.

Kau masih menyimpan rahasia. Aku tak tahu secara jelas apa yang Kau simpan. Masih hanya percaya. Titik!

Yang ada di depan ini adalah lamaran. Dia masih menyimpan hulu ledak birahi yang masih rawan terkena sulut api selangkangan. Tapi, hanya pintu lamaran ini yang ada, dan itu pilihan satu-satunya. Pernikahan belum bisa dilaksanakan. Lamaran yang sudah ada ini memiliki satu syarat besar menuju jenjang pernikahan. Tidak tanggung-tanggung, ibunya bilang jika ingin menikah, syaratnya harus jadi PNS. Lep! Semakin gelap saja. Ini adalah syarat orang tua yang sudah dua puluh lima tahun menghidupi raga dan jiwanya. Himpitan syarat dan nafsu seksual menyesakkan dada. Lunglai dihadapan syarat yang sulit itu. Rahasia ini belum terungkap, dan lagi, dia tidak tahu jawabannya kecuali hanya percaya.

Tanpa sengaja, dan memang mirip serial Doraeman + Nobita, Ia mengikuti tes PNS untuk mengisi salah satu kursi BKD Jatim. Mirip cerita telenovela saja, tiba-tiba syarat-yang menjadi doa-ibunya terkabul. Ia diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil secara ajaib. Ah, Plong!

Ruang rahasia itu sedikit terbuka. Tuhan telah memainkan keindahannya sebagai Inovator paling tidak terduga. Hal-hal yang secara logika tidak bisa dijelaskan itu sedikit demi sedikit menjadi tabungan batin yang memperkaya jiwanya. Tuhan telah menampakkan satu sisinya di ruang rahasia hamba-Nya. Pun juga Tuhan akan menjadikan sejuta Rahasia yang siap menghampirinya di saat lain untuk mengizinkan seorang hamba bertemu dengan-Nya.

Saya sedang tidak menganjurkan menikah ala “bonek” apalagi dengan alasan seksual tanpa keberanian menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk setelah menikah. Pun juga saya tidak menganjurkan buat hitung-hitungan terperinci agar nantinya setelah menikah tidak menemui jalan berlubang. Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa Tuhan benar-benar menaruh Rahasia bagi siapapun yang sudah bertekad untuk merealisasikan tujuannya. Ia sengaja menciptakan ruang batas kemampuan seorang manusia agar manusia itu bisa terkoneksi kembali dengan-Nya.

Dua belas hari lagi pernikahan akan dilangsungkan. Count down menuju dua belas hari itu ia hitung baik-baik. Menuju hari kemenangan yang saya sangat yakin melebihi kemenangan apapun dalam hidupnya. Ibarat puasa, ia telah berpuasa sejak kelas 1 SD dan dua belas hari lagi ia akan “berbuka” dengan sajian nikmat dari langit.

Dengan hati takjub aku ucapkan kepada kawanku itu : Selamat berbuka kawan.


6 responses to “Sedang Ingin Bercinta dan Rahasia-Nya

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s