Semoga Hari Ini Lebih Baik Dari Hari Yang Akan Datang


Hari ini semoga akan terus lebih baik dari hari kemarin dan hari yang akan datang. Lho kok? Bukannya hari ini kudunya harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok kudu lebih baik dari hari sekarang. Saya tidak mengingkari keshohihan perkataan Kanjeng Nabi diatas, saya juga mengamini bahwa kemungkinan hari esok bisa lebih baik dari hari sekarang. Pun juga saya terus bersyukur bahwa pada hari yang saya rasa lebih baik dari kemarin akan terus terngiang-ngiang rasanya hingga akhirnya saya berharap bahwa sensasi “lebih baik” itu bisa saya ciptakan setiap hari.

Kadang saya merasa malu belum bisa merelasisasikan harapan dan dawuh Kanjeng Nabi itu dalam kegiatan sehari-hari. Tak bisa dihindari bahwa manusia kadang kala merasa stagnan, kadang juga merasa terpuruk, merasa sedih, merasa tidak lebih baik, merasa bahwa kehidupannya benar-benar ambruk untuk saat tertentu. Bagi saya, hanya dengan mengulang kembali sensasi rasa hari terbaik yang pernah kita alami sebelumnya, kemungkinan untuk mewujudkan hari depan yang lebih baik akan besar terwujud.

Maka saya berkomitmen untuk merasakan hari-hari terbaik saya setiap hari, setiap waktu, setiap detik kalo perlu. Mempublikasikannya dalam catatan rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali saya dan Pemilik saya.

Apakah Anda benar-benar yakin bahwa ada moment yang terbaik bagi Anda? Kok bisa tahu? Tentu saja bisa tahu. Wong kita sendiri yang merasakan bagaimana nikmatnya hari terbaik yang pernah kita lalui itu. Sifatnya sangat subjektif dan setiap orang memiliki pengalaman-pengalaman yang berbeda-beda. Proses merasakan sensasi ini membutuhkan kejelian. Titen dalam bahasa jawanya. Titen mirip dengan orang yang memungut kutu rambut. Memasang mata tajam-tajam pada gumpalan rambut yang disisir oleh jemari. Mengupas pelan-pelan setiap helainya. Dan ketika menemukan satu kutu diatas himpitan rambut, sep! dengan lincah si jemari langsung mengangkatnya.

Kegiatan ini membutuhkan kesadaran hati untuk mengerti, paham, mengangguk, dan akhirnya tersenyum bahagia. Dengan titen, kita akan lebih jeli menilai kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat. Menilik momen-momen dimana kita bisa menentukan perasaan untuk mengambil tindakan atau tidak. Juga termasuk melatih insting kita dalam merasakan saat-saat mana yang paling pas dan mengambil cela menuju tujuan yang kita harapkan.

Tak bisa dipungkiri kegiatan menimang-nimang hari terbaik kita membutuhkan juga hati yang besar untuk terus bersyukur pernah merasakan momen itu. Rasa yang sangat nikmat itu akhirnya menjadi doa buat semua orang untuk mewujudkan hari yang setidaknya “mirip” atau bahkan lebih dari yang pernah dirasakan sebelumnya.

Duh Kanjeng Nabi, hormatku dan kekagumanku akan selalu menjadi ruang rahasia. Tidak cukup hanya dengan mengucapkan salam balik kepadamu, tapi juga diizinkan untuk merasakan sensasi itu. Harapanku, semoga kelak nantinya saya sendiri benar-benar paham dan merasakan tentang perjalanan panjang yang telah engkau tempuh.


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: