Nasionalisme Tepi Kolam


Malam itu semilir angin berhembus agak kencang. Terhalang tepian apartemen mahasiswa dan merambat halus menyapa kita yang sedang duduk santai di tepi kolam pancing tepat di sebelah fakultas perikanan Universitas Airlangga. Telinga saya menangkap satu bahasan menarik yang membuat saya sedikit bangga sekaligus melahirkan kekhawatiran berlebihan tentang kecintaan pada bangsa Indonesia.

“Profesor Arysio Santos yang mengatakan bahwa atlantik adalah Indonesia banyak didukung fakta ilmiah,” kata seorang teman yang secara akademis memiliki otoritas lebih untuk mengklaim hal tersebut. Teman saya satu lagi yang mengkebetulkan diri ikut pengajian rutin forum pencerahan batin juga melontarkan gagasan lebih berani : “Ada kemungkinan bahwa istri Kanjeng Nabi Ibrahim, siti Hajar berasal dari Indonesia, mana ada nama orang bangsa keturunan Arab “hajar”, yang ada itu Ki Hajar Dewantara,” katanya sambil menimang-nimang kemungkinan-kemungkinan akan kebenaran logika gathuk-gathuk’an yang sangat khas jawa itu. Satunya lagi yang menjadi partner sharing ngajinya juga menambahi satu statement yang mengguncang : “Jangan salah loh, Kanjeng Nabi Muhammad juga ada kemungkinan keturunan Jawa. Mana ada orang arab yang senengannya cari wangsit di gunung-gunung kecuali hanya ada di sejarah raja-raja jawa,” tandasnya.

Secara akademis, alasan teman pertama itu didasarkan pada buku : Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia.

Saya dan tiga orang lainnya termenung. Satu teman lagi memainkan gitar dengan gaya petikan-petikan halus seolah-olah mengiringi diskusi dan curhat bebas malam itu.

Oh, begitu mulianya bangsa ini. Bahasan-bahasan yang mengembangkan hati. Diskusi yang seakan-akan memasukkan oksigen keberanian untuk menghembuskan persamaan potensi antar bangsa dan manusia. Sudah lama saya mendengar ucapan-ucapan supra wah tentang keagungan bangsa lain. Bahwa bangsa tertentu memiliki otoritas yang lebih leluasa untuk menguasai, bertindak lebih, dan ditakdirkan mengungguli bangsa-bangsa lainnya. Sebaliknya, fakta-fakta wah tentang bangsa indonesia tergerus oleh propaganda keagungan bangsa tertentu.

Menghancurkan sebuah bangsa tentu termasuk kriminal tingkat tinggi. Salah satu cara mudah untuk menghancurkannya adalah mengkerdilkan pikiran dan melupakan kemajuan-kemajuan yang pernah dicapai oleh pendahulunya. Rakyat yang baru, terutama generasi muda dibuat lupa, kalo perlu dipaksa untuk berani meremehkan potensi yang dimiliki oleh nenek moyang dan dirinya sendiri. Di sisi lain, semuanya kemudian diajak untuk mengagungkan manusia tertentu sehingga pikiran, energi dan kekuatannya terfokus untuk mendukung keagungan yang telah dikampanyekan. Satu catatan saja bagi saya, kiranya kalo memang potensi manusia itu luar biasa, maka mengkategorikan dan mengkelaskan satu golongan lebih memiliki potensi ketimbang manusia lainnya juga termasuk salah satu kriminal sosial yang perlu diluruskan atau diperangi saja sekalian.

Saya sendiri pernah didamprat habis-habisan karena mengungkapkan bahwa yang memiliki otoritas lebih untuk memimpin spiritual adalah mereka yang ditrahkan oleh pendahulunya digaris keilmuan agama. Teman saya menganggap hal itu tidak bisa diterima oleh akal manusia juga “akal” pertimbangan Tuhan. “Lha dimana letak KemahaKasihnya Tuhan kalo gitu, jika orang-orang bukan keturunan kiai tidak berhak untuk mempelajari sisi lahiriyah dan sisi batiniyah Al-Qur’an,” katanya kepadaku.

Semua manusia memiliki potensi dan wadah kemampuan bawaan yang setara. Manusia-selama ia dikatakan manusia-diberi otoritas sebagai Kholifatulloh, sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Bahkan Alloh sendiri menegaskan jika bapak manusia pertama versi Islam, Adam, di tiupkan ruh-Nya ke dalam ciptaan-Nya tersebut. Maka sempurnalah manusia sebagai ahsanut taqwim di bumi.

Lalu terjadinya proses sosialisasi yang mewajibkan manusia berhubungan dan bertata masyarakat. Muncullah mekanisme penggolongan antara yang mampu dan tak mampu, yang pandai dan bodoh, yang kuasa dan dikuasi. Uniknya proses itu juga berkaitan dengan hukum dualitas yang tak pernah hangus. Tidak mungkin semuanya kaya sehingga yang miskin harus terus ada. Pun juga mustahil jika semuanya menjadi penguasa sedangkan yang dikuasai tidak ada. Hal ini menunjukkan mekanisme keseimbangan (Yin dan Yang) yang sudah menjadi hukum alam semesta.

Optimisme muncul pada bangsa ini, terutama generasi muda yang memiliki semangat persamaan untuk melakukan pencapaian-pencapaian yang pernah atau sedang dilakukan bangsa lain. Mereka percaya bahwa semua manusia punya otak yang sama, badan yang bentuknya juga tak jauh-jauh amat, tinggal memupuk kemauan untuk belajar dan berbuat menuju kemajuan yang diinginkan. No bounderies!

Jika kemudian anak-anak muda yang sudah merapatkan barisan menuju persamaan kemajuan bangsa-bangsa lain itu benar-benar telah diraih, akankah mereka juga berbalik untuk meremehkan dan mengaggap rendah bangsa-bangsa yang telah meremehkannya tadi? Sebuah pertanyaan yang sulit di jawab, apalagi jika mengingat absolutisme mekanisme dualitas alam semesta.

Kulempar pandanganku ke kolam sebelah gubuk. Aku menyapa ombak-ombak kecil yang muncul-tenggelam di usap sinar neon gedung-gedung bertingkat fakultas perikanan. Hatiku berguman, “Duh Gusti, mungkinkah Kau memiliki opsi lain untuk bangsa ini? Opsi yang memajukan kami dan tidak meremehkan mereka yang telah meremehkan kami.”


4 responses to “Nasionalisme Tepi Kolam

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: