Sakit Dilarang Menjamah (kalo bisa)


Seingat saya, kejadian masuk rumah sakit terkait dengan penyakit yang saya derita terjadi beberapa kali. Mmm…coba saya ingat-ingat. Yup! Inilah beberapa episode masa sakit yang mengharuskan saya masuk pesakitan (rumah sakit maksudnya🙂 ) :

1. Tahun 1991 masuk rumah sakit dokter sutomo surabaya karena kena demam berdarah. Waktu itu saya masih kelas nol besar.
2. Tahun 1995, saya terkena polip dan amandel. Masuk ruang operasi untuk pengangkatan kedua penyakit itu.
3. Tahun 1996 entah ini bisa dikategorikan sakit apa tidak, tapi pada tahun ini saya mengikuti rutinitas anak laki-laki di Indonesia pada umumnya. Pada tahun tersebut saya sunat alias potong bagian ujung senjata utama seluruh anak adam.

Setelah itu saya tidak pernah memasuki rumah sakit untuk menjalani pengobatan penyakit yang saya derita kecuali harus berkunjung ke teman yang lagi sakit atau nawarin obat buat pasien-pasien ketika saya terjerembab dalam dunia multilevel yang menjanjikan itu.

Nah, jum’at kemarin, akhirnya rumah sakit mendatangi jadwal harian minggu itu. Bukan untuk menjenguk teman, apalagi nawarin produk kesehatan multilevel (ndak,,sudahlah,,,masa lalu ya masa lalu,,hahahaha). Kedatangan ke RSAL wonokromo surabaya kemaren untuk medical check up.

Ada banyak bagian tubuh saya yang perlu di periksa. Mulai dari mata, THT (telinga, hidung dan tenggorokan), jantung, paru-paru, tes darah, dan urine. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Semoga saja salah satu tes persyaratan kerja ini bisa lolos. Gimana hasilnya? Ah saya tidak tahu. Harapannya tentu tidak ada penyakit yang kronis, apalagi penyakit-penyakit yang saya takutkan semisal epilepsi, raja singa, dan aids.

Emang awalnya saya agak ketakutan. Pertama karena malam sebelum prosesi ini, saya keujanan dan kondisi tubuh tidak fit. Badan agak meriang, tapi gairah untuk sehat tetap saya tanamkan dalam hati. Pikiran dan perasaan saya cuma terfokus pada “sehat”, “sehat”, dan “sehat” khususnya untuk hari ini. Besoknya terserah yang penting hasil medical bernilai normal.🙂 Kedua, dari semua tes yang paling saya takutkan adalah tes darah. Yup, karena jarum suntik itu bikin ngeri, tentu saja ketakutan sempat mencuat. Ketika mau diambil darah, saya izin ke susternya supaya diperbolehkan merem dan nengok ke samping. Pikiran saya alihkan ke hal-hal lain. Saya meminta tangan untuk berhenti merasakan tusukan jarum. Yach, mirip metode cabut bulu idung yang biasa saya lakukan. Syukurnya ; It’s work! Proses pengambilan darah tidak disangka-sangka berjalan mulus. Saya pun kaget karena ditegur sama mbaknya : “Mas, sudah mas, mas sudah mas, sudah kok, sudah keluar kok (darahnya),” kata mbaknya sambil nunjukin tabung darah saya.

Sayang sekali, postingan kali ini tidak ada photonya. Tepatnya kelupaan buat ngambil photo. Ntarlah, jika memang diberi izin oleh Pengeran buat beli kamera yang agak lumayan, baru saya kasih photo-photo pada postingan di blog ini.

Gitu aja postingan kali ini.
Keep goin’ bagi semua pengangguran di seluruh Indonesia…:)


2 responses to “Sakit Dilarang Menjamah (kalo bisa)

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: