Ditanyain Kerjaan


Teman saya suatu ketika ngechat melalui fb…”Kerja dimana?”

Ini pertanyaan ratusan kali ditanyain setiap ada yang ngechat ke ane. Pernyataan yang rumit. Di jawab jujur, ntar dikira bohong, di jawab bohong ntar malah ngebohong ke yang lain-lain. Dilema. Misalnya gini, dijawab gak ada kerjaan, mereka semua pada gak percaya. Dijawab, kerja sales, ntar mereka tanya lagi : “Nyales apa?” tuh kan, ribet jadinya.

Ya udahlah, biasanya kalo gini, ane punya trik khusus, supaya gak ditanya kerjaan. Langsung saja mereka yang pertama kali ngechat kerjaan selalu aku bombardir dengan pertanyaan balik yang gak ada sangkut pautnya sama kerjaan. Nih contohnya : “Woi apa kabar bung, wah lama tak jumpa, senang sekali ketemu kamu disini, kabar baik tentunya dan terus maju yach, salam buat anak-anak kamu, salamin juga buat cewek-cewek yang ada di sekeliling kamu, tq.”

Kalo udah gini, berarti kita sedang membahas sekedar yang lips-lips doang. Sekedar say hello yang tentunya gak mengurangi esensi silaturahmi. Pokoknya pertanyaan inti tentang pekerjaan dihapus total dari pembahasan ngechat. Sebisa mungkin tidak membahas masalah ini.

Suntuk juga ditanyain masalah kerjaan. Perkaranya ya simple saja, mulai tahun 2009 hingga sekarang pekerjaan yang aku lamar tak kunjung-kunjung diterima. Yup, setidaknya ada dua perusahaan yang menerima pas di waktu yang bersamaan. Satu tawaran menjadi dosen aku terima karena alasan orang tua yang tidak menghendaki kerja jauh-jauh, dan naifnya, aku hanya satu semester doang di situ. Satu lagi perusahaan rokok dari malang yang menerima ane jadi officer penempatan bandung. Yang terakhir ini menarik. Kerjaannya kumpul-kumpul sama spg-spgnya rokok, menerima tamu dari jakarta dan bandung, dan happy parti setiap hari. Orang tua tampaknya mengendus alam kerja yang mengasyikkan ini, so absolutely and directly banned immedietly…hahaha

Silih berganti teman-teman menasehati, dan dengan hati lapang seluas lapangan pesawat terbang juanda, nasehat-nasehat itu selalu aku terima dan sebisa mungkin aku jalankan. “Bos, yang penting kerja dan menabung,” kata temenku yang menjadi pegawai BRI. Satu lagi menasehat “Bos, ayo bisnis bos, maju terus pantang mundur,” kata temen yang satunya lagi. Terima kasih kawan-kawan yang baik hati, nasehat-nasehatmu sungguh mengena. Tapi ini diluar batas kemampuan diriku untuk mengaplikasikannya. Lho kok? Pesimis. Tidak sama sekali kawan, sama sekali tidak pesimis, dan saking optimisnya, tukang pos rungkut sampek hafal nama dan wajah saya karena keseringan ngirim lamaran kerja.

Saya pun ngadain survey kecil-kecilan. Dari kesemua teman-teman seperkuliahan, mereka semua telah bekerja dan mantan pekerja. Sungguh luar biasa. Dan ternyata usut punya usut, perempuan lebih cepat bekerja ketimbang laki-laki. Apalagi kalo punya advantage seperti ; kerapihan, kerampingan, kecantikan, keelokan, keaduhaihan, dst, maka jenis manusia yang satu ini sungguh-sungguh cepat meraih kerja. Wonderful..! Sedangkan kalo laki-laki, mereka semua bekerja dan memulai dari grade paling dasar, biasanya sebagai sales kemudian merangkak naik jadi officer, terus naik-terus naik- dan menjadi pegawai tetap.

Pekerjaan inilah yang menjadi taruhan utama ketika teman-teman sudah ngumpul. Entah itu pas acara kawinan, pas acara makan-makan, pas ketemu di jalan, pokok’e pas lagi ketemulah. Pernyataan pertama : “woi, sekarang dimana, (lebih tepatnya) kerja dimana?” tuh kan, pertaruhan harga diri. Dan barang siapa yang memiliki pekerjaan gak tetap, siap-siap menerima ekspresi kekecewaan dari wajah-wajah gak berdosa itu. Pekerjaan, sungguh engkau mengekspresikan dan berhasil mengganti manusia, kami telah kau ganti dengan warnamu, wajah kami tertutupi oleh wajah pekerjaan yang menempel erat menjadi identitas baru kemanusiaan.

Apakah semangatnya sudah burn out? Kok rasanya artikel ini sedang curhat hebat kondisi pengagguran yang gak tuntas-tuntas. Entah sampai mana batas kesemangatan ini, setidaknya hingga detik ini semangat membara untuk merubah nasib dari pengangguran ke tingkat memiliki pekerjaan selalu terjaga. Lebih-lebih semangat untuk memperbaiki nasib dan keturunan, tentu ini harus diperjuangkan. Perjuangan yang tak pernah berhenti. Perjuangan dan semangat membara untuk “mengubah” dan “merawat diri” yang telah diperintahkan oleh Tuhan melalui kitab suci-Nya. Kadang juga saya agak nakal menggoda-Nya : “Ya Tuhan, semoga orangnya yang ngurusi masalah rekruitment ngantuk, hingga terlelap, dan terbangun dengan jemari yang tak sengaja nempel tepat di cv yang sudah aku kirimkan. Karena pandangan agak pudar dan jam kerja yang mepet, dengan terpaksa ia mencabut saja lamaran itu dan memasukkannya dalam daftar interview.” Sungguh doa yang benar-benar kepepet.

Kini, dengan bangga saya kenakan titel pengangguran itu kemana-mana. Pengangguran yang terus keep goin’. Pengangguran terselubung yang tertutupi dengan kegiatan dagang kecil-kecilan untuk menyambung kebutuhan bensin dan ngopi. Entalah sampai dimana ini akan berakhir, kita lihat saja.

Buat pengangguran seluruh Indonesia : Keep goin’


4 responses to “Ditanyain Kerjaan

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: