Tad….


Malam ini saya dikejutkan oleh sms lagi. Mengingat jam yang sudah larut malam, dan juga sms yang nomornya gak tercatat secara “resmi” di buku telepon hape cina milik ane.

“Ust” kata sms itu. Panggilan ustad ini memang mengerikan. Bukan berarti ustad setara monster atau hantu, tapi ustad menurut teman-teman saya yang pernah kuliah di Mesir adalah panggilan untuk Profesor. Kira-kira kita memanggilnya “prof” seperti anak-anak kedokteran yang wajib memanggil profesor-profesor mereka. Tapi di sini, ustadz bisa berarti dua arti; satu untuk penda’i komersial kayak di masjid-masjid dan telephisi, dan kedua sebagai julukan anak-anak sebaya agar mudah mengingat nama. Panggilan “ustadz” yang melekat pada diri ane kiranya adalah kategori kedua. Semua teman yang saya kategorikan di ring tiga dalam dalam relationship saya, sudah tak save semua nomornya(safety can be fun…) tapi kali ini nomer yang memanggil saya “ustadz ” gak tercatat di buku telepon.

Ah, seng-iseng saya sms balik. “Niki sinten?” alias ini siapa? Ternyata dia menjawab, bahwa dirinya adalah mantan murid yang pernah saya ajar tatkala masih nyambi di salah satu pesantren di sidoarjo. Untuk urusan yang satu ini, saya memang membuang jauh-jauh masa lalu itu. Tidak realistis jika kita hidup di masa lalu. Saat inilah yang kita hadapi, yang lalu biarlah menjadi bahan pertimbangan untuk menghadapi hari esok. Sejarah tetaplah sejarah, tergantung konteks ruang dan waktu.

Usut punya usut, ternyata ni mantan anak didik nawarin kerjaan. Tuh kan, masalah kerjaan lagi. Fuih, saya sempat mbahas ini habis-habisan di thread saya berjudul “Ditanyain Kerjaan.” Okelah, saya yakin sekali bahwa sms ini masuk bukan tanpa diatur, bukan tanpa grand design. Sms ini datang sudah ditakdirkan oleh Alloh swt. Tentunya Dia memiliki rencana sendiri dengan sms ini. Tak adil jika saya menghardiknya langsung. Cukup ditanggapi secara wajar.

Kerjanya adalah marketing. Sales bahasa agak kasarnya. Bahasa lugasnya disuruh nawarkan produk orang, kalo laku di bayar, kalo gak laku gak bayaran. Pernah temanku secara terang-terangan kaget tentang penghinaan profesi yang satu ini. Suatu ketika ia masuk kawasan perumahan (entah elit apa engak) di situ tertera : Pemulung, peminta bantuan, dan Sales dilarang masuk! Aduh, benar-benar buruk citra sales dibuatnya sampai-sampai tertera sebagai profesi yang dilarang masuk perumahan. Tapi tak papa, sales adalah profesi yang menantang. Ujung tombak perusahaan supaya produknya tetep memperoleh pasar baru dan terus mempertahankan konsumen. Ah, indah sekali permainan bahasa sehingga tidak menunjukkan hakekat sejatinya makna.

Lanjut. Aku bilang : “Okey, gak papa”. Apa yang dijual? Nyalesin perusahaan pialang saham. Sapa tahu di sekitaran surabaya, ada orang yang kelebihan duit, lalu bingung mau ngelempar kemana, nah perusahaan ini menghire orang-orang buat nampung dana-dana itu untuk dianak pinakkan.

Saya sebenarnya sudah tahu lama info perusahaan macam ini. Setidaknya ada…mmm…lima orang teman yang pernah bekerja di perusahaan modern macam ini. Mereka semua juga sebagai sales. Dan mereka semua keluar dengan selamat. Lho kok? Ya gak papa, mereka berlima mencari peruntungan di tempat lain. Dan ternyata lebih beruntung dengan bekerja di tempat lain.

Apakah saya punya stigma negatip tentang perusahaan semacam ini? Tunggu dulu. Stigma belum tentu menunjukkan apa sebenarnya dibalik yang distigmakan. Citra belum tentu menunjukkan apa sejatinya dibalik yang dicitrakan. So, untuk kali ini saya hanya pengen “tahu” “rasanya” tentang stigma negatif yang dicitrakan oleh teman-teman. Saya mengkategorikannya sebagai negatif, dan saya hanya ingin tahu bagaimana “rasanya” negatif itu. Ya, hitung-hitung pahala silaturahmi sama murid yang mau ketemu gurunya dan memperoleh sejatinya “rasa” negatif yang dicitrakan itu.

Maka saya pun tak menolak, berlagak bodoh, dan mau-mau saja di ajak ketemuan ntar hari senin. Saya kira inilah perjalanan memperoleh sejatinya “rasa” dari citra yang saya terima melalui pembicaraan teman-teman. Saya pun telah membangun kepentingan sejak awal yakni; tidak mungkin saya bergabung disitu dan hanya pahala silaturahmi saja yang saya tuju. Memang pekerjaan yang agak sia-sia, membuang-buang umur. Sudah tahu negatif malah mau tahu gimana rasanya negatif.

Inilah proses pengangguran yang keep goin’ Terus bergerak walau tujuannya yang ada di depan mirip motto : setelah keluar dari pantat mlm masuk ke liang lahat money game. Apes nian. But, hidup harus terus berjalan. Disyukuri adanya. Setidaknya bisa tersenyum bahagia menyaksikan sepak terjang makhluk-makhluk Tuhan menunaikan misinya menuju kesejatian hidup.

Tak bosan-bosan aku sampaikan : Keep goin’ penangguran Indonesia! Hindari MLM hindari Money Game. Kerja ikut orang atau nyalesin karya kamu sendiri.🙂


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: