Secret Keep Goin’


Saya pernah stress berat menerapkan hukum the law of attraction yang dulu pernah banyak didiskusikan oleh orang-orang pasca kemunculan buku best seller “the secret”. Apa tanggapan cak kandas tentang buku ini? Bagus. Titik. Itu saja. Sebuah buku tentang “how to” yang sebenarnya bukan terletak bagaimana menikmati informasi-informasi bagus melalui bukunya Rhonda Bryne itu, tapi lebih pada tataran lelaku, menjalankan informasi yang telah disharekan dan dibuka ke seluruh pembaca di dunia.

Karena kodratnya adalah rahasia, maka sampai kapanpun ia akan tetap menjadi rahasia. Memang rahasia itu telah dibuka untuk semua orang, tapi ia akan menjadi rahasianya rahasia. Tetap saja rahasia akan selamanya menjadi rahasia. Ia adalah perjalanan panjang bukan hanya untuk menarik apapun keinginan nafsu Anda, tetapi ia lebih pada rahasia pribadi kita masing-masing dengan tujuan penciptaan alam semesta itu sendiri. Nah, disitulah kita berdiskusi, menawar, dan juga kadang bercanda dengan Pencipta kita. Karena ini urusan batin, tentu saja selalu akan menjadi rahasia. Wong batin sendiri itu sifatnya rahasia, apalagi yang termaktub dalam ruang batin, wah kalo ini super rahasia, super secret.

Saking sumringahnya memperoleh informasi : “Anda adalah apa yang Anda pikirkan.” Akhirnya saya ambil jalan pintas, okey, apapun bisa diciptakan dengan pikiran saya. Suatu ketika, saat sedang menunggu emak keluar dari pabrik, saya berpikir dengan dahsyat; “Habis ini yang lewat di depan saya adalah cewek cakep, bahenol, pake jeans ketat, bodinya tertutup rapi di balutan jaket jeans yang tak kalah ketatnya.” Satu menit, dua menit, dan mirip adegan spongebob “Satu jam berikutnya,” harapan tentang pikiran yang telah saya ciptakan itu kandas. Gelombang dan getaran pikiran yang saya ciptakan ternyata tidak muncul-muncul di depan mata. Beberapa kali saya coba untuk menarik hal-hal lain, dan semuanya kandas. Apa pula ini? Saya pun stress.

Itulah gambaran umum informasi, pengetahuan, asupan informasi yang masuk ke otak kita tapi belum sepenuh menjadi ilmu. Ngelmu kata orang jawa, ngelmu bukan saja tahu akan informasi yang datang ke kita, tapi ngelmu lebih pada mengugemi, terus nggubet, terus menjaganya menjadi ilmu yang benar-benar bisa digunakan. Ia adalah tool, alat, yang memang disediakan oleh alam semesta untuk kemuliaan manusia. Saya pun belajar diri saya sendiri melalui proses itu. Saya bersyukur dan memahami bahwa (ini cocok bagi saya, tapi entah bagi Anda) ketika saya terlalu sering berpikir akan sesuatu, ia yang saya pikirkan akan selalu menjauhi. Ketika saya tidak berpikir atau membahasnya, maka ia akan datang dengan manja dan pengen dicolek seketika.

Indah sekali. Saya bisa bersyukur dan tersenyum di tengah-tengah stigma orang-orang yang menegatifkan saya. Tapi entahlah, secara diam-diam saya senang, saya sangat bahagia dengan kondisi apapun yang menghampiri. Secara diam-diam pula saya memiliki banyak cerita yang sifatnya personnel dan terlalu sayang untuk diceritakan.

Lalu lanjutannya gimana? Ya berlanjut saja. Jalani aja hingga akhirnya kita menemukan apa yang membuat diri kita bahagia, tersenyum, dan yang terpenting adalah mengetahui dengan sebenar-benarnya pengetahuan tentang Dia.

Saya akan melazimkan diri untuk terus bersujud kepada-Nya, saya juga berterima kasih pada orang tua yang telah sadar atau tidak mensupport untuk mencapai posisi terbaik dalam hidup, saya takzim dengan tata batin kanjeng Nabi yang dengan tanpa dipaksa membuat saya kagum dan bersholawat kepadanya, saya berterima kasih pada pesantren yang telah memberi bekal ilmu dan pengalaman unik semasa berada di sana, saya berterima kasih pada buku-buku yang telah saya baca, saya berterima kasih pada teman-teman yang dengan sengaja atau tidak memberikan ilmu-ilmu mereka, saya berterima kasih pada guru-guru saya yang telah melatih sedemikian rupa, saya berterima kasih pada internet yang memberikan fasilitas untuk menuliskan uneg-uneg saya kepada khalayak publik, dan saya berterima kasih pada Anda yang dengan jengkel meluangkan beberapa menit untuk membaca tulisan ini.

Pesan saya yang tak bosan-bosan untuk terus didengungkan ; Keep Goin’ pengangguran di Indonesia.


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: