Facebook Keep Goin’


Baru-baru ini saya agak kaget dan berbahagia. Alasannya? Salah satu kakak perempuan saya yang notabene adalah ibu rumah tangga meminta bantuan untuk membuat email. Usut punya usut, ternyata dia juga mau jadi komunitas facebooker yang selama dua tahun ini lagi booming di Indonesia.

Ibu rumah tangga pengen facebookan juga ternyata. Hehehehe…entah untuk membunuh waktu atau ingin bertemu dengan kawan-kawan lama, bertemu dengan kawan-kawan virtual atau apalah, fenomena “disuruh” buatin email untuk facebook adalah fenomena global yang mengisyaratkan bahwa dunia interkoneksi sudah merambah ke sela-sela terdalam masyarakat indonesia.

Hal ini memang tidak seekstreem yang pernah saya baca di buku. Di buku berjudul “Facebook Cook Book”, pengarangnya terang-terangan ngeliat neneknya sendiri kecanduan facebook. Ia mengatakan bahwa facebook adalah fenomena global yang menyedot siapapun untuk ikut serta di dalamnya. Sebuah penetrasi media sosial yang merasuk dalam relung-relung masyarakat digital negara-negara dunia ketiga.

Tak jarang kekhawatiran juga menyeruap keluar, seperti yang banyak kita dengar bahwa penyesatan fungsi teknologi acapkali menyertai penetrasi ini. Menggunakan facebook untuk media selingkuh, memakainya untuk sharing kehidupan pribadi, sampai-sampai ada suami yang mensyaratkan “talak” bagi istrinya yang bermain facebook. Unik dan menarik juga didalami, mengapa facebook begitu powerfulnya sehingga membuat si pengguna benar-benar hidup dan ketergantungan terhadapnya.

Having fun dengan facebook boleh-boleh saja, atau menggunakannya sebagai media komunikasi buat memasarkan produk juga monggo, tapi yang harus digarisbawahi bahwa facebook-begitu juga media sosial yang lain-is just a tool. Hanya sebagai alat. Titik. Ia hanya small amount dari kehidupan yang kita jalani dan bukan totally about giving life mati-matian untuk hidup terus terkoneksi melototin status orang lain, mengomentari mereka, atau menghabiskan berjam-jam bermain poker.

Ane kira, biarkan saja proses penggunaan sosial media ini berjalan apa adanya. Boleh jadi untuk pertama kali, hidupnya berasa kurang kalo tidak online di facebook. Dikit-dikit update status, dikit-dikit komen, dikit-dikit langsung ngeadd teman. Tapi lambat laun, perjalanan ini menemukan sisi lain. Yup, kebosanan adalah jalan lain itu. Dari titik ini, netter akan mencari hal-hal lain yang bisa digunakan untuk meningkatkan sisi kehidupan yang lain, entah itu meningkatkan taraf ekonomi, meningkatkan kapasitas keilmuan, atau juga memanfaatkan untuk hal-hal bersifat building social capital masyarakat Indonesia.

Saya tidak sedang negatif dengan facebook, saya juga tidak ingin menghancurkan citra facebook yang sudah kadung menggeneral itu. Saya malah berterima kasih kepadanya. Berkat facebooklah, silaturahmi dengan kawan-kawan lama bisa berlangsung, kerinduan kepada mereka jadi sedikit terobati. Ucapan terima kasih itu saya ungkapkan lewat ngeklik iklan-iklan yang terpampang di beranda website. Dengan mengeklik itu, saya ikut menyumbang pundi-pundi uang buat perusahaan ini.

Dengan facebook, orang juga mulai mengungkapkan perasaan mereka dalam bentuk tulisan. Setelah hampir dua dasawarsa masyarakat kita dijelali dengan tanyangan-tanyangan yang mendukung bakat keberlisanan. Kita biasa disuguhi tanyangan infotaintment kayak Cek & Ricek, Silet, Hot Sot, Insert yang mengekslporasi habis-habisan gosip seputar kehidupan selebriti tanah air. Fenomena ini setidaknya harus diwaspadai, setidak-tidaknya harus dikurangi. Suatu bangsa dengan tingkat budaya tulis yang lemah cenderung mengekspresikan diri dengan hal-hal yang sifatnya fisikal, destruktif, dan umpatan. Nah, penguarangan budaya ngerasani inilah yang kudu didekonstruksi dengan mengeskpresikan perasaan dan ide melalui tulisan, walaupun itu bentuknya cuma update status di facebook.

Saya benar-benar berharap, dan bermimpi bahwa suatu ketika peningkatan social capital ini dimulai dari internet. Kebebasan untuk mengekspresikan diri, menilai fenomena-fenomena di masyarakat kita, hingga mengkritik kinerja pemerintah melalui media maya dapat menjamur di kalangan kita. Inilah saat dimana internet memiliki kekuatan untuk menekan. Internet dinilai sebagai media mengekspresikan dukungan atau penolakan. Internet akhirnya menjadi pioner untuk memajukan sebuah bangsa.

Beberapa mungkin tercerahkan dengan media sosial dan saya bersyukur akan hal itu. Beberapa mungkin terperosok tajam ke jurang yang gelap gulita kemanusiaan dan saya memahaminya sebagai sebuah proses yang tak boleh berhenti. Karena ini adalah proses, so kita lihat saja bagaimana proses ini akan berlanjut dan menemukan hasilnya sendiri.

Terus Keep Goin’. Terus melaju. Terus bersemangat. Dan terus bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa. Matur Nuwun (Terima Kasih).


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: