Helikopter Keep Goin’


Okey pembaca sekalian, ehem, begini…Teman saya yang sering menginspirasi lewat ide-ide briliyannya mengirimkan tulisan ke email. Nah, dia mengizinkan saya untuk mengupload di blog ini www.cakkandas.wordpress.com Berikut adalah cuplikan perjalannya ke job site di bumi papua sana :

November 5th 2011 03.58 ditanah Papua

Pagi kemarin tanggal 4 november pukul 08.33 pesawat airfast yang ditumpangi oleh rata-rata karyawan PT Freeport Indonesia mendarat di dermaga udara Timika. Sempat terkatung-katung dengan ketidakpastian jadwal keberangkatan pesawat dikarenakan salah satu system hydraulic yang bermasalah membuat para penumpang keleleran. Rasa enggan berangkat meninggalkan keluarga dan handai taulan dirumah menjadi bahan pupuk penyubur perasaan kesal oleh penat dan penasaran. Yah beginilah apabila kebutuhan dasar manusia untuk hidup bersama orang-orang terdekat berbenturan dengan desakan ekonomi yang bisa dibilang “darurat” saat ini. Setelah bertanya berulang kali kepada petugas AVCO sebagai perusahaan pengelola maskapai airfast, akhirnya aku mendapatkan angin segar berita bahwa pesawat akan diberangkatkan pukul 00.15 WIB plus bonus pernyataan maaf petugas yang disampaikan dalam keadaan capek dan mengantuk. Aku mengerti merekapun manusia biasa yang normalnya pada jam itu sudah seharusnya tidur pulas diatas ranjang.

Okey…Here we go! Akupun masuk pesawat. Sebagai karyawan kontraktor biasa, kursi penumpang agak belakang bernomor 21 C sudah cukup asyik. Seperti lazimnya, pramugari tampil ke depan menjelaskan aturan safety penerbangan dan peralatan darurat di atas cabin. Ah, macam nonton operet saja, sudah bosan aku dengan tetek bengek aturan di negeri ini yang tak ubahnya hanya hiasan dan kamuflase buat cari duit. Pertunjukan pramugari itu mirip tontonan para pejabat yang membosankan, bagiku berkenalan dan mengobrol sekenanya dengan tetangga sebelah lebih menarik daripada melihat paha dan mendengarkan rutinitas keterangan hafalan tersebut. Pesawatpun mulai lepas landas, mengudara diatas langit Surabaya…. Hmmm selamat tinggal Jawa, daku kan pergi jauh ke negeri seberang…Semoga 6 bulan kedepan aku bisa kembali pulang untuk mengihup segar udaramu, meminum jernih airmu, membaui khas aroma tanahmu dan tentu saja tidak ketinggalan mendengar gosip-gosip panas seputar pemerintahan dan kekuasaan diwarung-warung kopi oleh para kritikus warungan dan jalanan.

Bapak Abdussalam, demikian beliau memperkenalkan namanya. Sosok pribadi yang amat sopan dan selalu tersenyum, tata bahasanya senantiasa dibuat sehalus mungkin, sehingga aku pun tidak menyangka kalu dia adalah seorang aparatur negara. Oh my God, baru saja aku bosan dengan pejabat negara, kali ini saya bertemu langsung dengan seorang aparatur negara. At least, bapak ini belum menjadi seorang pejabat, so saya tak menampakkan kekecewaan yang sering kali terucap mengomentari buruknya wajah politikus di negeri ini. Well, Abdussalam adalah seorang marinir Angkatan Laut, tempat kerjanya di diwilayah portsite ; sebuah pelabuhan pengapalan konsentrat emas dan tembaga milik PTFI ke perusahaan-perusahaan smelting di berbagai pelosok negeri entah berantah. Tapi hal itu bukan pokok bahasan kami diatas pesawat. Saya dan Pak Abdussalam sama-sama berdiskusi tentang hobi kami yang hampir serupa ; memancing dan berburu burung.

Setelah sekitar 30 menit pesawat terapung melayang menjelajah wilayah udara Nusantara, aku pun berangkat menuju rencanaku saat tiba di bandara. Aku mohon ijin pada teman sebelah dengan sopan. Aha, saatnya memejamkan mata. It’s time to sleep. Badan ini sudah lemas, terkuras habis dengan macam-macam persiapan. Tidur di pesawat adalah pilihan yang pas. Aku pun lunglai, yah, kalo mau berbicara soal kwalitas dan nyenyak tidaknya tidur di pesawat, mungkin jauh lebih nyaman tidur diatas bus Sumber Kencono yang terkenal ugal-ugalan itu. Turbulence, dingin AC yang menggigit untuk ukuran orang dusun seperti aku , plus bonus perasaan takut mati berlebihan, tampak jelas di lima belas menit pertama pasca mata tertutup. Lambat laut aku terlelap, lima jam penerbangan tidak terasa.

Aku tersadar saat hentakan keras roda pesawat menghantam landasan pacu Bandara Timika. Mendung tebal , kabut dan hujan rintik-rintik menyambut kedatangan sekitar 40 penumpang pesawat. Welcome to the jungle, I mean the real jungle!!! Para pemburu rupiah itu selanjutnya di jemput dengan bus bandara, mengantri barang bawaan, dan kemudian mereka (termasuk aku) berlarian menuju loket helicopter untuk diangkut menuju tempat kerja masing-masing.

Sebenarnya ini bukanlah prosedur rutin di PTFI untuk menggunakan helicopter menuju lokasi kerja. Biasanya setelah mengambil bagasi, para pekerja harus menuju loket penumpang bus cuti lantas mendapatkan pengawalan dari brimob dan advisor security triple canopy. Akan tetapi karena saat ini Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) PTFI sedang memblokir seluruh akses masuk lokasi kerja PTFI menuntut 400% kenaikan gaji, maka helicopter menjadi pilihan paling logis bagi human and stuff delivery. Mmmm…Helicopter, it’s new for me. Ini adalah pengalaman pertama saya naik capung raksasa tersebut.

Aku harus dapat tiket demikian kira-kira pikirku. Dengan tergopoh menuju loket dan mendapatkan tiket idaman, lalu bergegas check in dan duduk manis menunggu. Disitu aku bertemu dengan Indra, teman seprofesi dan selokasi kerja denganku sebagai interpreter yang support triple canopy untuk proyek pengamanan lokasi kerja PTFI bekerja sama dengan aparatur Brimob dan TNI. Kami ngobrol berbicara dan bercanda ngalor ngidul utamanya menceritakan pengalaman saat cuti selama hampir sejam. “Ah, lama sekali ini helicopter, sudah gak sabar aku pengen naik dan merebahkan badan di barak,” pikirku. Kuhampiri petugas keamanan AVCO yang mengelola heli PTFI. Dengan tenang petugas itu berkata : “Maaf pak karena cuaca masih berkabut maka pilot helicopter belum berani mengudara sekalipun demikian helicopter telah siap di hangar sehinggal apabila sewaktu waktu cuaca membaik akan segera diberangkatkan“.

Tubuhku merosot. Rasa letih dan kantuk sudah tak tertahan lagi. Jawaban “menunggu membaiknya cuaca” menjadi kafein yang memaksaku untuk menopang tubuh ini sementara waktu. OK, memang petugas itu sama sekali tidak salah karena bagaimanapun kita harus berfikir safety first, tapi ini Papua saudara!!! Berada nyaris dibawah garis equator yang cuacanya amat susah ditebak. Bagiku, di Papua hanya ada dua musim ; hujan dan hujan deras. Pilihan cuaca lain nampaknya tak jauh-jauh amat dari dua kategori itu, kalo nggak berkabut, gerimis, lembab, mendung, dan varian-varian musin penghujan lainnya.

Berulang kali aku harus keluar masuk ruangan bandara untuk bisa menghisap berbatang-batang rokok surya 16 kesukaanku. Berulang kali pula aku harus melewati pemeriksaan detector logam dan sesekali menanyakan perihal keberangkatan helicopter kepada petugas. Banyak diantara ke 40 penumpang yang tidak sabar dan lebih memilih meninggalkan bandara lantas bermalam disalah satu hotel di Timika yang tarifnya 3x lipat tarif hotel sekelas dijawa. Tapi aku yang memang telah menghabiskan semua ransum finansialku untuk bersenang-senang, tetap bertahan dibandara menunggu keberangkatan helicopter yang akan mebawaku kedalam area free housing and meal. Rasa pusing pun datang. Kafein “menunggu” sudah gak mempan lagi. “Aku butuh kopi, butuh kafein sebenarnya” pikirku. Betis seolah kaku dan mengeras karena terlalu sering mondar-mandir membunuh kesepian di bandara. Aku melihat jam tangan, 13.30…lama seka….li ; “Tujuan Kuala Kencana masuk!” Teriak petugas AVCO membuyarkan keluhanku. Aku terlonjak bergegas menyambar back pack. Bersama Indra berlarian menuju mobil yang akan mengangkut kami ke pangkalan heli. Sesampainya diatas mobil aku mendapati bahwa hanya aku dan Indra sajalah yang datang. Hingga 5 menit ditunggu tidak ada seorangpun yang datang, akhirnya dengan asas professionalisme kami harus tetap diberangkatkan. Ehem…Saudara-saudara, aku dihinggapi perasaan kompulsif. Serasa seorang pejabat penting yang diantar-jemput pake helikopter segala. Enam kursi kosong dari total delapan muatan manusia menambah rasa ajaib itu. “Ini helikopter yang dikhususkan untuk dua pejabat penting, hehehehe,” pikirku dalam hati. Sambil menahan senyum bangga, aku bunuh sesaat rasa kampunganku, aku cekik dia agar tak fulgar dihadapan petugas AVCO dan Indra tentunya. Aku benar-benar menikmati 15 menit perjalanan menuju kuala kencana dengan helicopter.

Awalnya mirip layang-layang saat diluncurkan ; ia rentan, bergoyang ke kanan dan ke kiri, sesekali naik lalu agak turun beberapa inci. Baling-baling yang dipadu kemudi mencoba mencari keseimbangan. Aku lihat pilotnya memencet tombol-tombol yang tak pernah aku pahami apa maksudnya. Angin berhembus kencang, untung saja rambutku sudah aku pangkas habis, tak sempat aku merasakan sensasi rambut berhamburan. Mulut aku tahan sebisanya agar tak komat-kamit tertiup dahsyatnya pusaran angin. Semakin meninggalkan permukaan tanah, helicopter makin imbang. Si pilot dengan cekatan mengendalikan kemudi, seungguk kemudian sensasi berubah menjadi getaran-gerataran halus mirip traktor yang sering aku lihat di belakang rumah saat musim panen tiba. Aku takut dibuatnya, tapi ini adalah kesempatan langka. “Kapan lagi bisa serasa pejabat tinggi?”. Obesi kompulsif ini memberanikan hati untuk menyembunyikan dalam-dalam ketakutanku. Hanya saja kawan, ini bukan di darat, capung mekanik ini mirip traktor terbang yang tak mungkin bisa turun seenak udelku sendiri. Aku alihkan pandangan ke hamparan hutan lebat yang sangat indah. Pohon-pohon besar nampak sekepalan tangan, jalan-jalan yang berliku membelah hutan belantara itu seolah menjadi bukti arkeologis keberadaan peradaban modern diantara pepohonan yang menjulang tinggi, pun pemilik peradabannya-manusia-manusia yang menempati area tambang-nampak seperti biji paku yang bertebaran dimana-mana. Aku takjub dibuat kagum keindahan bumi papua, pesona kemolekannya bak gadis Sisilia yang menggoda siapapun untuk mencoleknya. Kemolekan papua melebihi sensasiku pada Monica Belucci sekalipun. Dan…Lamunanku buyar. Aku dan Indra tiba-tiba terpaksa berpegangan handle kuat-kuat, heli menukik tajam, mesIMG00046-20111104-1247.jpgin terbang ini ngedrift. Aku kenal gerakan ini karena pernah main game need for speed, kawan, satu catatan saja yang membuatku mulai tak tahan menampakkan ketakutan, gerakan drift ini dilakukan di udara! Aku sempat terpikir kalo heli ini nyangkut diantara pepohonan. Ah, lega, heli ini ternyata mendarat. Ia perlu menukik seperti itu untuk mengambil posisi landing yang pas dengan landasan.

Hehehe…Photo dulu ah, di kampung gak pernah naek heli🙂

Well, 15 menit penuh kebanggaan kurasa lebih dari cukup untuk seorang muda perantau sepertiku, sesampainya dihelipad kuala kencana, aku mendapati lebih dari sepuluh orang karyawan sedang menunggu helicopter untuk membawa mereka menuju bandara, dan rupanya karena merekalah helicopter tetap diberangkatkan sekalipun hanya ada 2 orang penumpang. Selepas semua itu, aku dan indra harus kembali menunggu jemputan yang akan membawa kami menuju barrack di mile 38, baru pada pukul 14.30 WIT jemputan itu tiba dan sekitar pukul 14.55 tibalah kami di permukiman karyawan mile 38 untuk segera menyerbu mess hall menikmati makan malam seadanya yang terasa begitu nikmat bagi kami, kemudian memanjakan tubuh akan nyamannya mengguyur tubuh dengan air hangat dan lantas merebahkan badan yang penat diatas pembaringan untuk tidur pulas sampai pagi dini hari.


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: