Pilem India Keep Goin’


Dari survey kecil-kecilan yang saya adakan, hanya tiga orang dari sembilan orang yang suka ama filem india. Ketiga orang ini emang sedikit nyeleneh. Kesusakaannya agak mirip-mirip dikit. Misalnya, ketiganya suka Bang Haji Rhoma Irama, suka dangdut koplo, dan tentu saja mereka bertiga menyukai beberapa filem india. Saya katakan beberapa filem india karena tidak semua filem india mereka masukin dalam kategori “like”.

Saya sendiri men”like” hanya tiga filem india dari beberapa filem yang pernah saya lihat. Ketiganya adalah Kabikushi Kabhi Gam, Three Idiot, dan Rabne Banadi Jodi. Secara primordial, saya akui bahwa ketiganya menarik menurut saya -subjektif banget-selain karena emang cerita khayal banget (mirip doraemon) juga faktor artis india yang semlohai itu. Untuk musik, saya pribadi suka musiknya filem terakhir. Hingga sekarang, lagu berjudul “Rabne Banadi Jodi” masih tersimpan di hape cina saya. Kalo lagi perjalanan di bis, lagu ini masuk kategori most powerfull and repeated song alias paling banyak merasuk di dada (karena gak punya istri) dan paling sering saya putar berulang-ulang. He..he..he..

Memilih lagu india sebagai salah satu musik favorit di kalangan anak muda emang pilihan yang rumit. Saya sendiri pernah nyetel lagu ini di tengah-tengah kumpulan temen-temen, dan respon mereka? “Wah ganti-ganti, please jangan India dong,” kata salah satu diantaranya dengan mimik yang ogah banget. Keenam teman lainnya juga melirik dengan sinis ; mata melotot, dan mulut cemberut. Ini berarti musik India emang dipandang agak gimana gitu. Ya sudahlah, tak baik memaksakan kesenangan pribadi ke orang lain. Biarlah ini menjadi sisi primordial saya pribadi saja.

Filem india emang gak pernah berubah. Dan itu yang membuat saya salut. Di tengah-tengah dominasi filem hollywood, filem india tetap memasukkan kultur khas mereka dalam beberapa adegan. Ciri khas kayak musik, pakaian dan tari jadi hal yang gak bisa lepas dari filem-filem bollywood. Meski mereka juga memakai beberapa trik teknologi dari barat, namun unsur-unsur kultural tak pernah seratus persen di lepas. Inilah yang membuat saya takjub, dan mengakui eksistensi mereka.

Tapi alasan diatas gak bisa diterima oleh temen saya yang pernah kerja di Arab Saudi. Menurutnya, orang india gak kayak yang ditampilkan di filem-filem itu. Artis-artis yang putih mulus dan berkulit kuning itu berbeda dengan penampilan orang india aslinya. So, karena alasan ini, dia gak suka dengan filem India. Yah, gak papa. Wong namanya juga hobi dan setiap orang punya hobi masing-masing bukan? BUKAAAN…hehehe.

Dari sudut pandang cerita, filem india emang khayal banget. Maksudnya, ngayalnya keterlaluan. Tiba-tiba saja ketemu enaknya, tiba-tiba langsung ketemu jodohnya. Aha, mirip sinetron-sinetron di Indoensia. Misalnya di filem kabhikusi kabhi gam, tiba-tiba rahul yang hidup di Inggris jadi makmur, kaya raya, dan dapat respon positif dari warga inggris yang sudah terang-terangan telah menjajah mereka. Di situ ada adegan yang ngisahin penghormatan orang inggris kepada anak rahul yang nyayikan lagu kebangsaan India. What? Come on, England was primordial man. Khayal bangetzzz…..Namanya juga filem, ya begitulah filem. Perlu daya khayal buat menarik penontonnya, perlu juga adegan-adegan dramatis agar yang ngeliat senang, tertawa, atau nangis kalo perlu.

Eniwei…Ngeliat filem emang mirip dengan milih menu makanan. Gak bisa sebulan penuh kita makan pagi, makan siang, dan makan malam dengan satu menu saja. Bosan bro! Ada kalanya kita makan sayur asem, juga beberapa waktu makan tempe penyet, pun juga saat rejeki sedang nomplok kita makan steak plus dada ayam bakar ama susu soda gembira.

budi handuk 2.jpg

(Kejamnya Dunia…)

(Ehem…sejak kapan saya jadi pengamat filem?) Ya sudahlah, gak papa. Namanya juga komentator gadungan. Bisanya cuma ikut serta aktif walau itu berupa komentar. Gimanya yach-sambil mbatin– , kalo ikut serta daftar jadi artis perlu banget wajah cakep, atau paling tidak wajahnya rumit dan unik. Bagi saya, itu perlu biaya tinggi dan berada di luar “hukum sebab-akibat” jagad alam semesta. Balik lagi ke bahasan filem india. Bagi saya, yang paling menarik adalah musik mereka sangat menyentuh. Entah karena kultur hindustan atau emang dibikin semenyentuh mungkin, tapi lirik-lirik lagu india sangat spiritual. Nih contohnya, saya ambil dari lagu Rabne banadi Jodi (satu-satunya lagu india yang saya masukkan di hape) : “Tujh mein rabe dikhta…–lupa terusannya—tapi saya baca di subtitle lagunya memiliki terjemahan : “aku melhat tuhan dimatamu.” Ah, intim sekali!

NB : Kalo ngomongin artis Indonesia, saya paling suka sama Budi Handuk. Itu khas banget warga Jakarta, dan wajahnya emang dikit-dikit memper sama saya.


One response to “Pilem India Keep Goin’

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: