Orang Tua Keep Goin’


Tanggal 19 Nopember menjadi hari bersejarah bagi saya. Saat itulah satu diantara teman dekat mengadakan resepsi pernikahan. Kagum aku dibuatnya, dan…terus terang walaupun aku sungguh agak gak pengen mengungkapkannya kepada Anda; saya menitikkan air mata.

Inilah resepsi pertama saya yang disertai tetesan air mata. Walau gak sempat sesenggukan dan saya hapus seketika itu juga, tapi inilah bentuk rasa syukur yang tak bisa diungkapkan lewat kata-kata. Hanya setetes air mata kebahagian yang menitik lembut menghiasi kacamata saya hingga berembun. Ampuun….

Saya datang berdua dengan wirastya ariestianto. Kami memang sepakat untuk bertemu sebelumnya di jalan, dan berbarengan menuju tempat resepsi. Di parkiran, kami juga bertemu teman akrab lainnya ; ismaya indra praja, dan langsung menuju gedung pertemuan Universitas Pembangunan Nasional (UPN Surabaya). Disana kami sempat berphoto sebentar, karena kaget melihat gambar dua sosok terpajang yang tampak sangat mesra dengan mimik muka lepas. Ini menarik bagi kami, dan photopun dilakukan. Saya yang menjepret, dan dua teman nongkrong berdua disamping photo unik itu. Sayangnya para pembaca sekalian, saya tak memiliki photo itu. Kapan-kapan akan saya lengkapi thread ini dengan photo yang tersimpan di BB milik teman.

Setelah berphoto di depan photo 20 R itu, kami langsung menuju tempat pelaminan dimana “duo sejoli” didudukkan bersama dan didampingi orang tua mereka. Bapak dan Ibu dari Rajma Tri Handoko memang mengenal sosok kami bertiga. Tiga orang ini adalah salah satu sahabat akrab yang mengiringi perjalanan hidup anak beliau. Dua orang sudah bekerja, dan satu orang menunggu panggilan untuk direlokasi ke job site. Kami teman-teman anaknya memang sering mengadakan acara di rumah rajma; merayakan tahun baru di situ, tanpa sengaja berbarengan maen pe es saat hari libur, dan paling sering meminjam mobil orang tuanya untuk transportasi acara luar kota. Pendek kata, kami memang akrab dengan kedua orang tua mempelai lelaki.

Saat jarak menuju tangga pelaminan tinggal 2 meter, keduanya sudah melihat dan langsung berdiri. Aku pun tak kuasa untuk menyampaikan penghormatan kepada keduanya. Aku menyangga badan ke lutut yang kuayunkan ke bawah. Aku berdiri setengah badan dan mencium tangan beliau, saat itu pula, entah kenapa saya menitikkan air mata.

Orang tua, seperti kebanyakan manusia-manusia “mulia” lainnya adalah sosok yang banyak terlupa dari diri kita. Kita ingat sekali dengan teman, atau bahkan kita sangat menyayangi kekasih kita, tapi kadang Kasih sayang orang tua yang menyirami anak dari lahir hingga dewasa sering kalah tatkala berhadapan dengan kepentingan-kepentingan yang menyelimuti kehidupan sang anak. Yang sungguh membuat takjub; bagaimana orang tua itu tidak menginginkan balasan material pada anak mereka. Siraman kasihnya adalah murni dan suci. Ia adalah refleksi kasih tak berbalas dari Yang Maha Kuasa. Inilah kemurnian kasih sayang universal yang tercermin dan berwujud pada sosok orang tua. Hingga Kanjeng Nabi sendiri berkata : “Surga ada di telapak kaki ibu.” “Ridlo Tuhan Semesta alam terletak pada Ridlo Orang Tua.” Dan berbagai perkataan bijak lainnya yang menunjukkan keagungan orang tua.

Masa mereka berdua sudah lengkap. Mereka punya cucu, punya menantu, dan mereka berdua telah menikahkan putra bungsu mereka. Fase untuk melanggengkan kasih sayang itu terus berlanjut. Tuhan memberikan fase estafet itu untuk anak-anak yang telah mereka nikahkan. “Nak, sudah saatnya kau merasakan sebagai orang tua.” Itulah dimana fase ketidakmustahilan, keajaiban, pengorbanan, misteri, kasih tak terhingga akan menimpa kita. Informasi yang bukan hanya sekedar informasi, tapi lebih tepatnya informasi yang sudah dirasakan sendiri, dijalani, dilakoni, dingelmuni dan berakhir di ujung tebing umur sambil berkata : “Sudah aku tunaikan salah satu misiku di dunia. Inilah pengabdianku kepadaMU, TUHAN.” Kepada temanku yang baru saja menikah : Selamat menjadi Orang Tua.

Postingan lain kayaknya akan saya sertakan dengan photo-photo. Apalagi, besoknya, tanggal 20 Nopember 2011, ada dua teman yang melangsungkan lamaran. Bukan lamaran kerja, tapi ngelamar dan meminta anak orang buat dijadikan pendamping hidup.

See U…Keep Goin’


8 responses to “Orang Tua Keep Goin’

  • fadjar pradika

    rasa tulisan ini agak beda…. apalagi yang sebelumnya kan pernah menceritakan tentang pernikahan juga…. itu tu… yang lupa pake kopiah tapi gak lupa pake sempak… wkwkwkwkkwkwkwkkwkw….

    tapi dari tulisan ini, Cakkandas menegaskan dirinya tidak hanya bisa menertawai diri sendiri… kadang-kadang nangis juga… ini saya kasih tisu hehehehehe

    • cakkandas

      hahahahaha….ada jarak antara penulis-fenomena-kepentingan-dan hasil karyanya….Ini salah satu tipe yang smooth alias gak ‘gila-gila’ amat….kapan-kapan saya kirimkan versi very crazy….hehehehehehe. (ohya,,,makasi tisunya, but btw,,ini tisu kok basah, apa bekas ambil di toilet….???) hahahahaha

  • Anonymous

    suwun dulur dungone, pangestunipun

  • Takhur

    Hahaha… Sayang, aq wingi g kebagian KIKIL… :p

    • cakkandas

      benar-benar hilang “nafsu birahi” saya untuk menyantap semua makanan disana…saya hanya minum aqua, makan kikil semangkok, minum es buah, dan minum aku lagi. That’s all,,,,,Hehehe…Haru liat rajma nikah..Lebih haru lagi liat rahma ntar malamnya bakalan diapain sama rajma….Hahahahahahahahahahahahahahahahaha

  • Reza Rendy

    Aq nyusul main bal2an maringene😀

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: