Rintihan Keep Goin’


Kawan saya yang bekerja di Papua akhirnya mengirimkan kembali tulisannya untuk di posting di blog ini. Tulisan kedua mengisahkan perjumpaannya dengan gadis kecil di hutan belantara. Tentu yang paling menarik adalah “rasa” sebangsa dan ketidakmampuan untuk berbuat lebih pada mereka. Tulisan ini sungguh menggelitik kita dan mengujinya sampai dimana engkau mencintai bangsa bernama “Indonesia”.

RINTIHAN DISUDUT BELANTARA

Gadis cilik itu berwajah lugu.
Senyum manis terpulas bak kuncup bunga seroja.
Bening tatapannya sejernih mata air diatambua.
Jujur gerak tubuhnya seirama riak angin disudut belantara.
Namun lelehan ingus diujung bibir kering hendak sampaikan makna.
Kental keringat mengalir diwajah seakan rintihan jiwa.
Saudaraku, pintanya tak berlebih, asanya sederhana.
Dia ingin seperti aku dan engkau.
Buminya kita perkosa, hendakkah nasibnya teraniyaya?
Gadis cilik itu berdiri diam terpaku.

Kutulis puisi ini untuk gadis kecil yang memandangku dan Mr. Danniel Gowen suatu senja dikawulawaga Papua dari luar mobil kami bulan Juli yang lalu. Tatap matanya yang bening dan penuh kepolosan mampu membuat kami berdua meneteskan air mata. Aku mungkin hanya pemuda cengeng dari negeri antah barantah, namun Danny adalah seorang letnan aktif di kepolisian Amhest County dan merupakan salah satu polisi terbaik negara bagian Virginia Amerika serikat, belum lagi diapun tergabung dalam tim SWAT, SRT, K9 dan seabrek prestasi membanggakan lainnya.

Kami tidaklah tersentuh atas nama kebangsaan, kebanggaan pribadi apalagi hegemoni materialisme. Satu-satunya hal yang menyobek keangkuhan saat itu adalah rasa kemanusiaan. Betapa tidak, saat anak-anak usia sebayanya dibanyak tempat sedang berjalan-jalan dimall, asyik bercengkrama dengan komunitasnya lewat media social atau aktif menatap masa depan dibangku fullday school, Gadis ini berjalan dengan kwalitas pakaian dibawah standard terendah orang miskin dijawa, aku tidak sedang bercerita tentang tambalan disana sini kawan, aku berbicara tentang pakaian yang seakan baru diangkat dari bak sampah setelah tertimbun disana selama seminggu. Apa kau fikir aku sedang mempropaganda? Percayalah wahai saudara-saudaraku sesama manusia, aku berkata sesungguhnya dan apa adanya.

Langkahnya pelan dan lunglai, dari kejahuan diamatinya mobil Toyota land cruiser 4500cc turbo yang kami naiki, aku tidak menganggap dia benar-benar tertarik pada hal ihwal otomotif atau kemewahan semacam itu, karena langkah dan pandang matanya terhenti disamping jendela kiri depan atau lebih tepatnya disamping tempat dudukku. Dipandanginya kami seakan tanpa berkedip, tanpa dia pedulikan ingus mengalir dari hidungnya hingga keatas bibir, ak menerima itu kawan karena senyum wajahnya demikian wajar dan polos, sumpah kalaulah ada kontras warna didunia yang amat mencolok tentu antara baju dan bening matanya. Dia tersenyum manis sekali dan seakan ingin berkata, alangkah hebatnya apabila aku bisa terlahir sebagai orang jawa. Tapi sekali lagi itu hanyalah mungkin, terlalu banyak makna tersirat dibalik tatap mata dan senyum itu.
Suasana senja nan temaram menjadikan segalanya kian mengharukan bagi kami, lantas tiba-tiba Danny berkata memecah kesunyian, “do you think that girl talks in bahasa Indonesia?”, “yes sir I think so” agak gamang dan ragu aku menjawabnya”,”so how does she learn it? I mean she doesn’t go to school right? Cause I think people here live in the jungle”, wah banyak Tanya juga orang ini fikirku, tapi tetap juga kujawab pertanyaan itu “well I think her parent could speak bahasa Indonesia, probably just for basic vocabularies but yes she learns it in the jungle”. Kami kembali terdiam dan bermain dengan sanubari dan angan masing-masing sambil beradu pandang mata gadis cilik itu. Selang beberapa saat kembali Danny bertanya “if you have a chance to get better opportunity what will you do?” dengan seketika tanpa berfikir panjang kujawab pertanyaan itu “I’ll do my best to provide better life for my people.” Aku lantas segera berpamitan ke Denny dan turun dari mobil mewah disudut belantara itu, lantas segera kusapa gadis kecilku, “adik apa kabar?” senyumnya melebar dan memamerkan deretan gigi yang bersih kemerahan karena terbiasa mengunyah buah pinang, “baik kakak” jawabnya singkat namun cukup membuatku lega karena dia memang bisa berbahasa Indonesia. Keharuanku terlalu dalam untuk terus berkata kata, aku akhirnya memungkasi “kakak mau kekamar dulu ya adik” dia kembali menjawab pendek ” iya kakak”. Aku bergegas berjalan kearah barak dengan berusaha keras menyembunyikan air mataku diikuti pandang mata dan senyum gadis cilik putri papua tersebut.


6 responses to “Rintihan Keep Goin’

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: