No More Ustad


sejujurnya..kutak rela…bila kau panggil aku dengannya…(ngawur)–nyayikan ala KerisPatih

Good Morning kawan-kawan, sudah lama gak ngeblog. Dan syukurlah, pagi dini hari ini bisa ngetik lagi buat ungkapkan uneg-uneg di cakkandas.wordpress.com

Begini, sejujurnya saja saya agak keberatan jika dipanggil Ustad. Masalahnya, pertama, saya bukan ustad lagi dan emang mantan ustad. Dulu pernah dipanggil gitu karena kebetulan ngisi pelajaran di sidoarjo. Tapi sekarang no more ustad, alias sudah menanggalkan ke-ustad-tannya. Wah, mantan narapidana lebih mulia ketimbang mantan ustadz lho?? Emang begitu, tapi saya lebih suka jika dipanggil langsung nama saja tanpa embel-embel ustadz. Kalo yang beranggapan begitu, baiklah gak papa. Yang penting perilaku dan kepribadian masih mencerminkan pola-pola “wajar” manusia pada umumnya.🙂

Kedua, karena emang antar manusia yang satu dengan yang lain tuh potensinya sama. Cuma, klasifikasinya yang berbeda-beda. Ada yang suka komputer, ada yang menonjol fisiknya, ada yang tokcer otaknya, ada yang pinter ngomong, dan berbagai keunikan manusia lainnya. So, pada dasarnya manusia sama, sehingga panggilan Ustadz itu memberikan dinding tebal bagi saya untuk menjadi diri sendiri. Untuk itulah, panggilan Ustadz pada nama saya sebenarnya “ponco setiawan” agak memberatkan.

Ketiga, Ustadz memberikan peringkat tertentu pada seseorang. Ada ustadz, yang diustati…Dan saya tidak mendukung hal itu. Strata manusia cukup rumit bila diterjemahkan dalam bentuk klasifikasi tertentu. Dan itu jugalah yang mengkungkung kemampuan diri untuk tampil dan menjalani hidup apa adanya. Tak jarang jika label ustadz itu dijadikan roket untuk mendorong popularitas, menghegemoni pikiran, apalagi untuk mengeruk keuntungan ekonomi. So, please, call me ponco setiawan saja tanpa embel-embel “ustadz”.

Dan seribu alasan lain yang emang gak enak (ditelinga saya) setiap kali chat, komen, dan deringan selepon yang memanggil nama “ustadz”.🙂

Lebih dari itu, kegiatan menghegemoni kalangan tertentu dengan embel-embel menarik bukanlah tipe saya. Dulu mungkin anda pernah saya ajari di kelas, tapi sekarang, plas, Anda sudah dewasa dan bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Ustad adalah salah satu episode kehidupan saya yang rumit untuk dijelaskan. Dan sekarang, periode itu berganti tanpa harus menyalahkan apa yang sedang terjadi, tapi masa lalu adalah masa lalu, dan hidup harus terus keep goin’.

Saya pribadipun lebih enjoy bergelar manusia. Tanpa tambahan, tanpa pengurangan, tanpa embel-embel “A”, “B”, “C”, dst. Di hati, ketika malu berhadapan dengan-Nya saya kira Dia paham kalo Ustad adalah salah satu episode untuk memahami lebih lanjut tentang makna kehidupan itu sendiri.

(Dakwah yang efektip tanpa jadi ustad…: “Loe mencuri, Gue Kokang Senjata”,,,hehehe)

Saya lebih bisa jujur, lebih bisa plong, dan lebih bisa bercumbu mesra tanpa embel-embel apapun. Tanpa mementingkan primordial apapun, saya harap perasaan itu benar adanya.

Selamat menikmati hari ini,besok,dan yang akan datang. Keep Goin’:)

Mil 39, Sabtu, 14 Januari 2012.


2 responses to “No More Ustad

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: