Ma’eman Nikmat Tapi…?


Mau mosting tulisan ini, gue mikir berkali-kali. Entah apa  nanti persepsi public sama gue, tapi tolong dipahami bahwa postingan kali ini bukan tentang “embel-embel” gue, bukan tentang “show off” gue, dan bukan tentang sombong-sombongan.  Makanya gue ragu bener pada persepsi orang-orang ntar. Tapi karena moodnya pengen nulis dan yang nongol adalah nulis tentang makanan, so akhirnya ketulis juga tuh menu-menu makanan di lingkungan kerja.

(NB : sudah lama saya pake kata pengganti yang pas. Pernah pake “Ane”, pernah pake “Beta”, dan akhirnya luluh juga dengan public lingua yang mengharuskan pake “Gue”. Dalam hati rasanya gak enak. Alasannya simple ; karena saya orang jawa timuran, sehingga memakai istilah itu jadi ribet ungkapkannya. Apa boleh bikin, mulai sekarang, kata “saya” diganti “gue”)

Pas pertama kali datang kemari, jaminan bahwa makananannya enak-enak adalah hal yang logis. Itu pun benar. Jangan heran jika ntar lama-lama bosen sama ayam, ikan, daging dan lauk pauk yang dikategorikan high cholesterol.

(Hari Pertama Breakfast)

(Hari Pertama : Lunch)

(Hari Pertama : Dinner)

Makanan serba enak adalah problema bagi gue. Jujur saja, karena termasuk orang-orang yang ngiler jika lihat makanan enak, maka memakan makanan enak tiap hari berakibat serius pada melarnya perut dan pantat. Terlebih lagi jika makanannya gratis….Waduh…Sangat-sangat rawan obesitas.

Menu pagi sudah karbohidrat, siang juga begitu, dan malamnya apalagi. Godaan makanan enak dan gratis macam gitu butuh iman yang kuat, nekan “perut” keroncongan buat shut up! Sementara, serta mengangkat tinggi-tinggi “kesadaran” tentang pentingnya kesehatan dengan menjaga makanan. Naifnya, kesadaran dimanapun itu kadang terkalahkan dengan berbagai logika untuk memuaskan nafsu.

Oleh karena kenikmatan perut yang luar biasa itu, sangat jarang disini didapatkan orang yang secara fisik perfect ; perut six pack, dada berbentuk kotak, lengan selebar jalan tol, betis berotot, dan punggung yang bidang. Alih-alih memanfaatkan menu istimewa yang berprotein tinggi, yang terjadi adalah kebalikannya; perut buncit, dada kisut, lengan menggelambir, pantat semok, dan betis bergoyang karena kebanyak lemak.

Yang harus digaris bawahi adalah, tindakan agar “perut” tetep full, dan makan terus setip hari itu (walaupun over kadang kala) punya alasan logis. Memang kita jarang olahraga, supaya kondisi tetep fit, solusinya adalah tidur yang teratur dan makan yang “bergizi”. Jika tidak, ingat bung,,,ini papua…MALARIA Siap menghinggapi siapa saja yang tidak fit kondisinya.

Balik lagi ke permasalahan menu disini. Wow….Teman sekamar mesam-mesem ketika ngeliat gue mbayak-mbayakin makan ayam. “Biasa, new kid in the jungle, lama-kelamaan juga bosen sama ayam,” katanya. Saya awalnya gak yakin, tapi lambat laun, saya pun bosen, eit bukan bosen, boseeeeeeen banget dengan menu ayam.

Gue pengen tempe, tahu, lele penyet, pecel, nasi kucing, dan seabrek tetep bengek yang serba murah-murah di jawa. Bukan murahnya kawan, tapi sensasi rasanya agar lidah ini tidak kelu karena stagnasi rasa.

Tanpa sengaja, sehari sebelum nulis postingan ini, gue nyasar mindah-mindah channel teve dan mandek di acaranya kick Andy…Pertama ada Adnan Buyung, terus Bob Sadino, terus juga Hercules dari tanah abang. Gue termenung ndengerin Bob Sadino yang dengan gaya seenaknya tapi mengena…..
Bob Sadino : “Sukses itu apa, saya juga gak tahu…”, katanya sambil cengengesan…Hadirin pun tertawa. Tapi itu serius…….Mereka yang dikategorikan sukses pun juga gak tahu apa sih kondisi sukses itu??? Emang agak rumit diterangkan sehingga ketika Dahlan Iskan ditanyain gimana caranya sukses, dia pun mesam-mesem sambil menjawab : “Gak tahu, ya gitu itu, bukan saya pelit,,tapi sukses emang kudu dilakukan dan tidak bisa diterangkan.” Sebagai orang yang bijak, sukses ternyata lebih didukung “kehendak Tuhan” ketimbang “kehendak manusianya sendiri”. Geraknya adalah gerak Tuhan sehingga kegagalan pun dikategorikan sukses, Pikirannya pun pikiran Tuhan sehingga kalo salah strategi juga dikategorikan sukses. Pada akhirnya semuanya “rahayu” dihadapan Sang Maha Mengecat Lombok dan Tomat.

(Kamu nulis apa toh co,,,kok kayak ngelindur gitu…???) Balik lagi ke bahasan lidah dan menu makanan. Korelasinya adalah : ternyata tidak anggota fisik kita saja yang perlu variasi, hidup pun juga demikian. Enak tidak enak, baik tidak baik, buruk tidak buruk, merupakan hukum alam yang mutlak ada, tapi sirna ketika kita berhadapan dengan-Nya.

That it’s…alias gitu aja postingan kali ini.

Keep Goin’ my buddy…

Mil 39, habis bangun tidur, 14 Januari 2012


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: