Milih Kumisan


Entah kenapa saya kok kumisan. Dan hanya itu satu-satunya yang kira-kira bisa memperbanyak point permak wajah saya.

Memiliki kumis adalah pilihan. Seperti juga memiliki brewok, jambang, dan berbagai atribut yang dirasa cocok untuk mempermanis penampilan.

Dan pilihan saya jatuh pada kumis.

Ada banyak factor yang mendukung kearah sana. Salah satunya adalah umur yang sudah mau kepala tiga. Apalagi didukung karena factor bujangan yang bisa berbuat apa aja sekehendak hati…ups

Factor pendukung lainnya adalah alat cukur yang mulai tumpul. Dan itu sangat menyakitkan bila digunakan buat mengerok kumis-kumis yang gak bisa diatur tumbuhnya. Daripada pusing mikirin sakitnya, lebih baik dibiarkan saja sekalian.

Faktor yang lain adalah factor ikut-ikutan. Beberapa orang yang saya hormati memiliki kumis; guru, dan bapak saya adalah sosok berkumis, untungnya, saya pengen jadi seperti mereka berdua.

Dan yang lebih lagi, dengan berkumis, saya masih mempertahankan pendirian bahwa saya adalah laki-laki. Kenapa? Bisa jengah kalo umur sudah merangkat naik sedangkan status masih bujang-bujang melulu.  Setidaknya, saya bisa memposisikan bahwa dengan berkumis, saya masih normal menjadi laki-laki.


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: