Keenakan Kalo Sudah Merasakan


Pekerjaan favorit di Indonesia adalah Pegawai Negeri Sipil. Mungkin pendapat ini debateable, bisa benar-bisa salah. Tapi itulah yang saya dapatkan dari percakapan 8 orang teman saya yang semuanya lulusan Airlangga. Mereka sangat mengidam-idamkan pekerjaan sebagai PNS. Alasannya? Seabgreg fasilitas, dan yang pasti ; kesempatan untuk mengumpulkan rupiah lebih cepat dalam waktu yang singkat.

Baru-baru ini ada kenikmatan jadi PNS itu muncul di BBM.

Temen yang PNS menulis :

—Hari jumat berangkat jam 8, trus aerobic di kantor, selesai istirahat langsung makan, ngobrol sama temen-temen, sampek Jam 12 Sholat Jum’at, jam 1 Pulang.

Teman yang lain pun merespon positif hal tersebut. Kalimat-kalimatnya mendukung rejeki yang nomplok ke teman satu itu. Dia berpendapat bahwa “Orang beruntung lebih baik dari orang pinter.” Jadi pinter saja tidak cukup, keberuntungan yang besar adalah hal utama dalam hidup. Ia adalah blue print yang gak bisa ditiru orang lain.

Itulah salah satu kenikmatan yang didapatkan jadi PNS. Saat saya terakhir berskype ria dengannya di kantor, kerjaannya pun gak ada –atau paling tidak hampir gak ada. Mengapa? Karena semua pekerjaannya sudah dihandle oleh anak-anak SMK yang magang disitu. Jadi tupoksinya jelas ; mengajari anak-anak magang supaya benar kerjanya.šŸ˜€

Salah seorang teman yang frontal pun menjawab tegas pernyataan tentang kenikmatan jadi PNS. Ia menulis di group :

—Emang enak jadi PNS
—Hanya orang terpilih
—…(Loading lama) ….Terpilih untuk masuk neraka.

Itulah mengapa jadi PNS sangat menarik. Semua orang mengharapkannya. Berlomba-lomba untuk mendapatkan salah satu kursi lowong menjadi abdi negara.

***
Saya punya kisah lain terkait dengan abdi negara. Kebetulan saya kerja sebagai penerjemah yang setiap hari bergumul dengan Bule Amerika. Kok kebetulan juga mereka itu mantan-mantan tentara dan polisi yang sengaja di hire buat menjadi rekanan perusahaan tambang terbesar di Indonesia.

“Mengapa pilih pekerjaan ini? Khan jadi Abdi negara enak?”, tanya saya ke mereka. Salah seorang dari mereka pun menjawab : “Karena saya butuh uang, kalo saya terus jadi abdi negara, kebutuhan dan hutang saya gak lunas-lunas,” imbuhnya. Menurutnya menjadi seorang penegak hukum di Amerika sana memang bisa menutupi biaya bulanan, tapi tatkala keinginan mereka untuk membeli atribut-atribut seperti mobil, rumah, dll, mereka butuh kerjaan lain supaya bisa merealisasikannya. “Hampir setiap teman saya yang kerja di jalanan juga punya kerja sambilan,” katanya. “Ada yang jadi instruktur fitness, ikut kerja di mall, jadi petugas cuci kapal, dll,” katanya lagi.

***

Saya memang sedang membandingkan, tapi di satu sisi saya juga takut. Ketakutan itu muncul tatkala yang kita hadapi sesungguhnya adalah “mental problem”. Saya jadi teringat kata seorang pembicara yang mengkomentari kusutnya permasalahan negeri ; “Emang kita aja yang belum merasakan, kalo sudah merasakan?? Bisa-bisa saya sendiri pun lupa diri akan nilai-nilai perjuangan yang dulu saya bawa.”

Aku takut kalo ini adalah masalah mentalitas bangsa, mentalitas yang didasarkan pada “keenakan kalo sudah merasakan.”


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: