Kaget Jadi Penyambung Lidah Cinta


Baru saja kemaren malam saya berada di tengah-tengah perseteruan cinta antara dua anak manusia. Satunya wanita lokal, dan satunya warga negara Amerika serikat. Saya duduk diantara mereka bukan karena ingin mencampuri urusan cinta, tapi lebih spesifik saya menjadi “penyambung lidah cinta” dua anak manusia itu.

Kawan, jika si Bule berkata A , saya melihat ke si perempuan sambil menerjemahkan apa yang sudah dikatakan tadi. Pun juga sebaliknya, jika perempuannya mau berkata sesuatu, saya terjemahkan ke Bulenya pake bahasa inggris. Sesekali saya juga tersipu malu, tapi ya sudahlah, namanya juga dimintai tolong, saya pun juga sampaikan apa adanya. Hampir-hampir saya gusar sampek berkata : hei, kalo pas lagi nerjemahkan, tolong tatap mata pasangan kamu ya, jangan tatap mata saya!

Malam di Timika saya hanya bersandar di kursi restoran. Menikmati daging rusa dan membiarkan keduanya larut dalam harmoni cinta kasih. Aku memejamkan mata sambil memendam rasa rindu paling dalam pada cintaku di Surabaya. Aku pun bergumam dalam hati : “Sayangku, aku tidak mau mencurangimu. Aku selalu menjaga cintaku kepadamu dek.”


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: