Bergaji Untuk Apa? Sindrom Kaget Gajian


Sandang, Pangan, Papan, begitulah kata orang tentang kebutuhan dasar seorang manusia. Saat pertama kali kerja, yang terpikir adalah menikmatinya detik itu juga. Pikiran berjibaku dengan berbagai keinginan remeh semisal : gadget baru, laptop, smartphone, atau game konsol. Dan saya pun pernah mengalaminya.

Kata teman saya yang menganjurkan diri untuk terus kerja berdalih simple : “gak papa, habiskan saja, besok cari uang lagi.” Dan sindrom seperti itu sangat wajar pagi seorang pegawai pemula. Saat kantong terasa agak tebal, dan keinginan ini-itu pun menyeruak. Di tebing akhir kisah ini, saya mendapati amblasnya gaji yang tidak tahu arahnya. Lalu saya melirik lemari saya, oh ternyata habis di gadget.

Maka saat kontrak kedua datang, saya pun memodifikasinya. Ingin memperbaiki dari jurang kesulitan ekonomi dengan lebih berhati-hati mengeluarkan uang gajian. Segera gadget saya eliminasi –meskipun seringkali muncul tak terduga–, keinginan untuk membeli sandang (yakni pakaian, sepatu, dll) ditahan, dan keinginan selanjutnya yakni papan (rumah) menjadi hal utama bagi saya saat ini.

Memakai uang gajian secara bijak untuk hal-hal yang bertahan lama adalah pilihan yang tepat setelah gaji kontrak pertama dihambur-hamburkan ke barang-barang elektronik. Keinginan menggenggam kunci rumah pribadi adalah keputusan bijak, terlebih hal tersebut direstui oleh orang tua.

Saya punya kisah tersendiri bagaimana pentingnya sebuah papan bagi seorang pegadai tenaga. Dulu saat menekuni usaha aluminium, saya punya tukang yang berhasil membeli tanah. Meskipun tidak luas, tapi saya bisa lihat senangnya orang itu setiap akhir pekan. Setiap sore di hari sabtu, ia menyempatkan diri jalan-jalan bersama istri tercinta sambil memandangi jerih payahnya selama ini. Ah, indah sekali, dia pandangi tanah itu dengan tulus, sambil menyungingkan senyum bahagia tiada tara. Inilah sebuah pencapaian awal seorang anak manusia agar lebih stabil, lebih berasa, dan lebih ‘nyata” ; pencapaian itu bernama rumah.

Secara blak-blak-kan pun saya respek sekali pada pegawai-pegawai yang merencanakan kepemilikan rumah sebagai langkah awal untuk menabung jerih payah dari pegadaian tenaganya setiap hari. Sulit membayangkan jika nantinya setelah masa kerja itu berakhir, saya masih berkutat dengan rumah kos, atau tinggal di rumah mertua, atau limpung hidup bersama dengan ayah-ibu tercinta dalam satu atap.

Inilah saat yang tepat untuk memutuskan memiliki rumah. Saat dimana mengeliminasi godaan-godaan konsumtif demi memiliki barang-barang yang nampaknya mengasyikkan sesaat tapi lama-lama juga terasa bosan karena tidak dimanfaatkan. Smartphone dan barang elektronik lainnya akan berganti sepanjang waktu. Bahkan secara sengaja barang-barang itu dimusnahkan untuk terus mengumbar nafsu konsumtif menikmati cipratan-cipratan kemudahan yang terpampang pada layarnya.

Inilah bentuk awal usaha guna mendapatkan tempat tinggal sendiri. Menggerakkan seluruh energi guna memberikan hal bermanfaat yang bukan untuk diri pribadi, tapi juga pada istri dan anak-anak nantinya.

Selamat bekerja dan Selamat mewujudkan harapan kita masing-masing.


One response to “Bergaji Untuk Apa? Sindrom Kaget Gajian

  • Rendy

    Seneng iso Moco tulisan2mu lagi Dulur, tulisan dari desember 2012 sampe Januari 2013 ludes dalam 10mnt saja. Uapik tulisan2mu bro, tak dukung terus Peno Ngeblog. dan berdoa One day ini bisa jadi Buku cat perjalananmu🙂 Salam Samblegggsss😀

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: