Kegiatan Apa Saja Untuk Mengisi Waktu Di Luar Kerja


Pekerjaan utama saya di sini adalah menerjemahkan dari bahasa indonesia ke inggris dan sebaliknya. Apapun saya terjemahkan, dari percakapan, dokumen, atau kadang juga sms.  Kalo ada pertanyaan : kenapa jauh-jauh kerja di Timika? ya ini jawaban singkatnya : “Memang saya mau tidak mau ambil pekerjaan ini karena lamaran ke berbagai perusahaan pada ditolak. Dan kesempatan bekerja malah datang dari bumi Papua. Syukurlah, saya sudah menjalaninya selama satu tahun. This the best shot I can do right now” (Panjang nian ya jawabannya)

Di luar pekerjaan, saya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk beberapa hal : melamar pekerjaan yang lebih baik, olahraga,  menjaga hubungan dengan kekasih di jawa, dan tentunya adalah menulis. Inilah empat  kegiatan yang mengisi hari-hari saya.

Status pegawai kontrak pun membuat diri saya untuk mengusahakan yang terbaik.  Kapanpun perusahaan mau mencopot saya sewaktu-waktu, saya pun kudu siap untuk angkat kaki dan mencari pekerjaan lain. Maka, inilah waktu untuk berhati-hati. Misalnya : Saat inipun saya sedang tidak mau menghambur-hamburkan pendapatan bulanan untuk hal-hal yang mengasyikkan. Godaan memiliki  gadget canggih (Kamera DSLR, Smartphone, dll) memang kerap kali muncul. Kadang di waktu luang–seakan dituntun oleh hasrat bawah sadar– saya buka-buka bhinneka, amazon, ebay, dan googling hanya untuk tahu harganya gadget ataupun sekedar melihat-lihat gambar. Yup, sebuah kebiasaan yang menyia-nyiakan umur🙂

Kadangkala, rutinitas juga menyebabkan stress. Ibarat air yang stagnan, lama-kelamaan ia akan berbau dan menjadi sarang seribu satu penyakit. Untuk mengalirkannya, saya coba membuat diri bahagia setiap hari. Menikmati setiap hal yang saya temui. Sembari melaksanakan harapan dan doa yang dipanjatkan setiap hari.

Nah, menulis memiliki nilai instristik dalam menyertai hari-hari saya. Ia menjadi pelampiasan untuk menorehkan isi hati. Kadangkala ia menjadi diary buat seluk beluk ide atau curahan hati.  Menulis seakan melepaskan embun pada rongga-rongga jiwa yang kering kerontang.

Maka menulislah saya setiap hari. Merangkai kata-kata menjadi kalimat. Dan membiarkannya begitu saja terpampang di file-file laptop atau tab saya. Seringkali pula saya melakuka perjalanan dari blog satu ke blog lainnya. Mencoba membaca tulisan-tulisan bermakna, dan tak jarang saya mem-bookmark blog mereka, dan menaruhnya di halaman home tab cina ini.

Nasib memang tidak tahu akan kemana arahnya. Diam-diam saya memang merencanakan kemana ini akan berakhir, tapi saya terlalu takut untuk men-share-kannya. Mengapa? Karena saya punya kebiasaan buruk, kebiasaan  yang entah gimana kok selalu saya temui. Bahwa setiap kali saya mengatakan rencana saya, selama itu pula rencana itu tidak berjalan.

Saya takut dicap OMDO (omong doang), atau ditato di jidad dengan kalimat : “besar pasak daripada tiang”, takut akan embel-embel “obsesif kompulsif”, dan tersungkur dalam “khayalan tanpa  artikulasi”.

Ah, menulis…Sungguh mengasyikkan. Saya pun tak sadar sudah menuliskan beberapa rencana ke catatan virtual ini, Ups…akankan rencana-rencana itu tidak terjadi?


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: