Mensyukuri Proses 2009-2013, Kisah Lama Yang Tiba-Tiba Muncul


Sejarah saya dulu memang benar-benar termotivasi akan dunia usaha. Mencoba berbagai jenis usaha, dan sebegitunya juga gagal serta meninggalkan hutang. Hal-hal itu saya syukuri sekarang, dan di tengah status menjadi pegawai, saya juga rindu untuk mencobanya kembali. Tentu dengan persiapan plus kondisi mental yang berbeda.

Setelah lulus kuliah, saya langsung coba menekuni usaha aluminium. Saya membeli bahan mentah, menyewa tukang untuk membuat almari, rak piring, dan modifikasi ruangan dengan aluminium. Karena pengalaman yang minim dan ketidakbecusan akhirnya saya pun gagal.

Setelah usaha aluminium, saya kenal dengan mandor yang biasa memborong pembangunan rumah. Disitu akhirnya saya memberanikan diri terjun dalam bidang bangun-membangun. Pada akhirnya pula saya menemui jalan buntu.

Tercatat banyak hal yang sudah saya bisniskan : menawarkan dekorasi kaligrafi ke masjid-masjid, menjual gorengan, menjajakan es tebu dan pentol cilok, hingga beberapa MLM pun saya masuki. Disitu juga saya mengalami kegagalan.

Jenis usaha terakhir saya adalah berjualan jasa men-service handphone. Sepertinya usaha itu akan berakhir mulus, tapi tidak demikian, saya pun gagal berguling-guling hingga buntung tak karuan.

Disisi lain, teman-teman seperjuangan kuliah sudah pada stabil. Mereka bekerja di bank, jadi pns, jadi agen asuransi, kerja di pegadaian, kerja di perusahaan swasta, dan memang saya berasa benar-benar tertinggal dibandingkan mereka. Salah seorang kawan yang bekerja di bank menyarankan untuk segera melamar pekerjaan. “Yang penting sekarang ini kerja, hasilnya di tabung, masalah bisnis nanti saja, yang penting kerja dulu,” katanya dengan mimik serius. Kalimat itulah yang mendorong saya melampirkan curriculum vitae ke beberapa perusahaan.

Orang tua pun tampaknya sedih dengan keadaan ini. Mereka coba mengarahkan untuk mencari kerja. Dan kawan, segera pula saya layangkan surat lamaran kesana-kemari. Sedari itu juga saya juga tidak dipanggil-panggil untuk wawancara kerja.

Usaha mencari kerja ini pula yang sempat menghantarakan saya ke Bali untuk tes menjadi pns. Seminggu saya disana guna menjalani tes tulis, dan itupun gagal. Ternyata tes di Bali ini bukan pertama kalinya kegagalan tes cpns yang saya alami. Di Surabaya sana, saya juga mengalami paling tidak 20 kali kegagalan tes cpns.

Betapa bodohnya diri saya, wong soal matematika dasar saja tidak mampu. Betapa dodolnya otak ini sehingga saya memaklumi bahwa menjadi pns adalah manusia-manusia pilihan negara yang memang berkapasitas tinggi. Saya pun mengeliminasi diri dari tes-tes cpns karena sudah dimakan usia. Umur saya melebihi batas umur maksimal untuk menjadi seorang abdi negara.

Maka saking parahnya, banyak yang merasa kasihan melihat kegagalan demi kegagalan itu. Beberapa diantara mereka memberi saya pekerjaan. Dari mereka saya pernah mengajar beberapa mata kuliah di universitas swasta, pun saya akhirnya keluar karena gaji yang terlalu minim. Saking tidak ada uang, tawaran apapun saya terima meskipun itu agak “illegal”, sudah dua kali saya mengerjakan skripsi orang. Dan dua orang yang saya kerjakan skripsinya itu malah dapat pekerjaan lebih cepat ketimbang saya pribadi.

Maka lengkaplah kombinasi kebuntuan itu. Kegagalan-kegagalan dalam berbisnis, dan tidak adanya pendapatan bulanan berkolaborasi untuk memaksakan diri guna menerima tawaran kerja di Timika. Disini saya dikontrak per enam bulan untuk menemani bule yang bekerja di bidang security guna mengawasi pipa konsentrat atau mengawal bis yang berisi ratusan pegawai tambang. Job disknya adalah menjadi penerjemah yang bertanggungjawab menyambungkan keinginan bule-bule itu ke bagian keamanan dan juga sebaliknya. Di tengah ancaman penembakan dan bentrok sosial, saya tidak ada pilihan lain kecuali menerima pekerjaan tersebut.

Dan saya bersyukur karenanya. Inilah hidup, dan seperti inilah yang mau tidak mau dijalani. Biarlah tidak apa-apa. Saya bersykur karena uang pendapatan pun masuk. Beberapa hal sudah saya wujdukan meskipun itu masih terbilang minim. Dan untuk hal ini, saya mengucapkan banyak terima kasih pada seorang kawan yang memberikan informasi berharga guna bekerja disini.

Saya pun tak tahu bagaimana ini nanti akan berlanjut. Sejauh ini, saya hanya bersyukur dalam-dalam. Sangat-sangat-sangat mensyukurinya. Sudah sejak 2009 saya mencoba peruntungan, sebegitu pula peruntungan masih jauh dari harapan. Pada akhir tahun 2011, akhirnya kesempatan untuk bekerja pun datang.
Bentuk syukur yang paling bisa diandalkan adalah dengan terus bekerja dan menjadi lebih baik. Kemampuan pun saya asah termasuk kemampuan bahasa inggris, verbal, dan logis. Saya berusaha mensyukuri setiap kejadian yang dihadapi dengan memberikan respon terbaik. Dan inilah yang saya lakukan sekarang.


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: