Renungan Jum’at Setelah Ultah


Apa dan bagaimana kehidupan ini kudu dijalani masih jadi rahasia. Jujur saya katakan demikian karena sebenarnya setiap makhluk yang hidup di muka bumi pun tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Dari situ, kita meraba, bahkan juga ambil ancang-ancang untuk “mengira-ngira” bagaimana kehidupan kita kelak hari. Pada titik inilah ikhtiyar manusia mendapatkan tempat yang terpuji sebagai bentuk “kerja nyata” guna melanjutkan kehidupan itu sendiri.

            Saya pun tak mengetahui apakah nanti saya kaya, miskin, terkutuk, atau mengalami kemudahan-kemudahan. Entah nanti saya bermobil atau tidak, memiliki rumah besar atau tidak, dsb, kesemuanya itu masih menjadi misteri dalam hidup. Saya pun tidak putus asa akan ketakutan-ketakutan semacam itu. Yang saya penuhi saat ini adalah mengambil tindakan atas rencana-rencana hidup yang telah saya bikin tempo hari.

            Ketika cuti kedua ini saya tersadar bahwa masih banyak hal yang belum saya lakukan. Tumpukan kewajiban terbelangkalai meskipun beberapa hal sudah saya penuhi. Janji-janji saya pada keluarga, kawan, dan kekasih hati beberapa memang sudah terwujudkan, tapi beberapa masih perlu dikejar dan tidak bisa diwujudkan saat ini.

            Maka daripada itu, seperti mengendarai sebuah mobil, saya lakukan tune up terhadap rencana-rencana yang sudah saya bikin. Apakah kondisi mesin mobil kehidupan ini dalam kondisi bagus, perlu ganti olikah, atau hanya perlu mencuci sedikit saja agar tidak terlalu panas. Pun juga mengecek kondisi ban ; apakah berjalan pada rel yang seharusnya dilewati, atau malah melenceng jauh sehingga kalo tidak diatasi bisa-bisa terlambat nantinya.

            Melalui cuti kedua ini, saya tanamkan niat untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Niat suci untuk membahagiakan mereka yang dekat dengan saya ; keluarga, calon istri, dan orang-orang yang mengasihi saya. Sebuah perjalanan satu bulan yang penuh masalah, tapi sebenarnya memiliki hikmah luar biasa bagi perjalanan hidup saya.

            Selanjutnya tentu saja saya akan sediakan energi yang besar untuk meraih segala cita dan harapan. Perjalanan ini tak tahu kemana arah tujuannya. Tapi saya sudah punya peta, saya punya grand design tentang detail yang perlu dilakukan dan tujuan yang akan dicapai. Di balik semua tujuan mulia tersebut, terselip satu hal di ruang rindu saya paling dalam. Di tepi kesunyian itulah saya diam-diam menyerukan diri terus-menerus untuk mengabdikan diri pada Sang Maha Kuasa. Titik rindu untuk kembali kepada-Nya dengan senyum bahagia, dan jaminan nyata agar bahagia di kehidupan abadi kelak.

###

            Apa  yang saya lakukan sejauh ini belum bisa membahagiakan semua pihak, atau tidak kena target 100 persen seperti yang saya rencanakan sebelumnya. Jika demikian, saya pun tertunduk lesu sambil menghibur diri baik-baik. Saya pandangi setiap sisi yang ada melengkapi diri saya, lalutersungging senyum bahagia sembari menyadari : “setahun yang lalu, saya ndak begini”. Melihat peningkatan taraf hidup yang signifikan antara tahun lalu dan tahun sekarang saya pun bersyukur dalam-dalam. Ternyata saya masih bisa merasakan kenikmatan yang diberikan Tuhan pada diri saya. Matur nuwun Gusti. Alhamdulillah.

            Selanjutnya adalah melanjutkan aliran hidup. Mengendalikan arus hidup dimana akan berlabuh. Sambil terus menyediakan “usaha tanpa henti” untuk menjemput “target-target” nyata kehidupan yang sudah dicanangkan.

            Demikian catatan saya di sore hari, di sebuah kawasan mungil di Surabaya.

            Selamat menikmati dan menjalani hidup.


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: