Balik Lagi Ke Bumi Cenderawasih


Total 32 hari saya cuti di Surabaya. Rasanya emang sebentar banget. Gak kerasa tiba-tiba waktu mengharuskan saya balik lagi buat kerja. Yah beginilah seorang karyawan, terbatas waktu dan pilihan. Semoga saja dengan usaha keras, semuanya bisa diatasi dengan baik di kemudian hari.

Eniwei..saya bersyukur bisa bertemu sanak famili. Dan terlebih lagi mengasah beberapa hal yang terasa tumpul. Bagi saya, cuti adalah media belajar dan meng-charge ulang niat agar tak salah arah.

Saya masih ingat waktu sebelum cuti. Saya menyempatkan diri untuk membeli beberapa pesanan yang belum didapat. Beberapa diantaranya bisa dibeli, dan beberapa diantaranya dengan sangat hormat saya tidak bisa membelinya.

Yup, namanya juga pesanan, itu adalah amanah. Mungkin suatu ketika, apa yang saya usahakan dengan membeli barang titipan itu bisa berpahala di sisi-Nya.

###

Seperti biasa, saya kembali ke papua dengan pesawar aifast. Take off dari Bandara Juanda pukul 23.30. Dan mendarat dengan selamat di Timika jam 06.00 WIT.

Back to work…and back to the jungle again.

Waktu sebelum berangkat adalah waktu yang menyesakkan dada. Saya diantar oleh Bapak, Ibu, dan kekasih saya. Duh, jadi ndak bisa ngalang-ngalangin buat netesin air mata. Lima bulan saya akan berada jauh dengan mereka. Dan semoga saja, semoga Ya Alloh, waktu ini bisa diatasi dan menjadi berkah bagi semua keluarga.

###

Ada banyak pelajaran dari cuti saya kemaren. Sangat terasa nikmatnya bertemu dengan keluarga. Pun juga ada beberapa hal yang belum bisa saya wujudkan. Namun kesempatan untuk memperbaiki tidaklah tertutup. Semoga saja sisa waktu nanti bisa memperbaiki kondisi yang saya rasa tidak nyaman.

Beberapa diantara hal yang tak terasa nyaman itu adalah :

– Waktu bersama keluarga kurang. Mungkin september nanti bisa lebih banyak bersama bapak dan ibu. Saya berharap demikian. Tidak lagi keluyuran kesana-kemari dan menghabiskan waktu di rumah orang lain.

-Semoga saja tahun depan bisa langsung melenggang ke jenjang pernikahan. Saya berharap demikian untuk stabilitas hidup. Menikah adalah jalan masuk buat kemudahan dan menjajaki level kehidupan berikutnya.

-Cuti ini saya kira berhasil dalam hal saving. Namun gagal dalam “memanage” uang supaya lebih produktif. Moga saja ada peluang lain yang bisa membuat saya lebih produktif.

Nah, itu saja catatan saya sebelum balik ke Bumi Papua. Sekarang saya sudah save di barak. Lagi nyolokin semua alat elektronik, dan semoga hati ini selalu tercolok dan terkoneksi langsung pada Tuhan Semesta Alam.

Rahayu kawan…Lanjutkan hidup…dan Keep Going…


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: