Kepada Yth : Yang Dipertuan Agung Nepotis


Tadi malam saya bicara sama salah seorang sopir. Dia bilang kalo dia barusan empat bulan kerja disini. Sebelumnya, dia sudah lama di timika bekerja sebagai sopir truk. Bagi dia kegiatan setir menyetir adalah garis hidup guna mengais rupiah.

Seluruh keluarganya memang tak bisa lepas dari bus, truk, dan mobil. Seluruh jiwa raganya didekasikan untuk mengendarai. He borns to speed.

Yang menarik adalah, proses bagaimana dia bisa mendapatkan kerja sebagai sopir.

Singkat kata, ia dibantu oleh salah seorang yang memang sudah bekerja disitu sebelumnya. Kakak kandungnya adalah teman akrab orang tersebut. Dari situlah ia mendapatkan posisi sebagai driver alias sopir.

Kawan, nepotisme memang tak bisa lepas dari gaya hidup kita sebagai manusia. Jangankan di Indonesia, di belahan dunia manapun (termasuk di belahan dada) nepotisme adalah hal wajar yang biasa dilakukan.

Dalam wawancara yang saya lakukan, dia mengaku kalo kakaknya jadi sopir bis, kakaknya yang lain jadi sopir trek, dan dia sendiri sekarang sedang tes jadi sopir bis yang gajinya lebih mapan ketimbang pekerjaannya saat ini.

Saya pernah teringat dengan kata kawan saya : “Kalo bisa ngajak seluruh keluarga saya, saya akan lakukan, sekecil apapun kesempatan itu.” Diam-diam saya mengamininya. Saya setuju akan hal itu. Disaat ekonomi sedang sulit, memberi kail pada orang lain pada saat seperti itu adalah hal yang sangat menolong.

Nepotisme kita kutuk habis-habisan 15 tahun yang lalu saat reformasi mengusung tema : KKN. Kini, isu tersebut surut bak ditelah bumi. Yeah, gak semua surut sih, masalah korupsi terus didengungkan meskipun sekarang korupsi jadi masalah tersendiri yang terpisah dari Kolusi dan Nepotisme.

Atau jangan-jangan kita sedang menyepakati diam-diam tentang dua hal tadi ; Kolusi dan Nepotisme. Atau mungkin dua sejoli itu sudah mendarah daging dalam rangsum ulu hati setiap individu kita?

But eniwei, setiap saat saya temui dua sejoli itu. Saya bergaul dengan dua konsep tadi. Saya mendengarnya, menyelidikinya, menyelaminya, dan diam-diam ingin merasakannya juga.

Gaung fairness dan keadilan sosial bagi masyarakat indonesia adalah jargon lama yang terus didengungkan. Tapi entahlah, sebagai manusia normal, kita lebih nyaman untuk fair dengan cara unfair melalui metode nepotis dan kolusif.

Saya yang meyakini benar-benar bahwa kesempatan itu kudu terbuka lebar-lebar, atau dengan lantang menyuarakan bahwa buka seluas-luasnya demi alasan akuntabilitas, atau mungkin menghabiskan suara bengok-bengok untuk melawan tindakan pilih kasih seakan pupus tak berdaya dan hanyut dalam arus deras mainstream nepotis dan kolusif.

Mungkin sila kelima kita : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia agak terdengar tidak fair jika dikomparasikan dengan bangsa lain yang berkepentingan terhadap keadilan sosial yang mengancam itu.

Fair bagi kita, tidak fair bagi mereka.

Tapi memang sejarah hanya ditulis oleh pemenang. Apapun kata pemenang adalah hukum yang berjalan. Tak memandang apakah orang lain kalah, tapi keputusan pemenanglah yang menjadi ketentuan.

Saya mengamininya. Pemenang bisa menjadikan unfair jadi fair. Yang salah jadi benar. Dan yang benar jadi salah.

Pertanyaannya adalah : Apakah bangsa kita ini bangsa pemenang? Hanya diri kita yang tahu jawaban itu. Kalo tidak tahu, mari kita tanya pada rumput yang bergoyang.


Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: