Category Archives: Smooth

Tidak Ada Alasan


Sangat mudah untuk membuat alasan. Sifat manusiawi saya lebih condong untuk bersembunyi di balik alasan. Menuju kesuksesan tentu hal ini tidak elok dipandang. Misalnya saja begini, internet lemot sehingga produktifitas menulis jadi terhambat. Hmmm…walaupu begitu adanya, berhenti pada alasan itu untuk tidak menulis adalah kesalahan besar. Alasan adalah godaan yang akan menghinggapi siapapun buat menuju target yang telah ditentukan.

Tapi Tuhan Maha Pengasih, di balik alasan selalu saja disediakan solusi. Banyak orang bilang : “fokus pada solusi”, “apapun yang terjadi akan saya tempuh, kalo tidak ada jalan, maka saya akan bikin jalan.” Itulah kata-kata yang menguatkan ane, bahwa di balik alasan, selalu saja ada solusi yang bisa dipakai setiap saat.

Beralasan itu wajar karena memang situasi yang dihadapi demikian adanya. Yang tidak wajar adalah bersembunyi lama-lama di balik alasan itu sehingga tujuan tidak tercapai.

Alasan blog tidak terupdate baru-baru ini adalah tidak ada jaringan. Tapi ya sudahlah tidak mengapa. Solusinya gampang, saya tulis aja apapun di word. Lalu tatkala jaringan sedang bagus, langsung saya upload semua. 🙂

Selamat sore kawan…Apa alasanmu hari ini?


Tantangan Menarik Saat Cuti


Nah, maklumlah, lagi cuti, lagi di kampung halaman dan kadangkala ada yang titip aneh-aneh untuk di bawa lagi ke lokasi tambang. Hal aneh-aneh itu biasanya memberatkan sih, tapi karena alasan pertemanan dan perasaan satu nasib satu sepenanggungan, akhirnya saya ikhlas untuk mencarikan apa yang teman-teman maui.

Beberapa item yang dititipkan sangatlah menantang saya. Berikut ini adalah pesanan titipan saat cuti yang menantang nyali saya :

1. Galon dari gelas. Biasanya galon terbuat dari mika atau polycarbonate, tapi ada teman yang sangat berharap kalo nanti saya cuti bisa membawakan dia galon dari kaca. Ah, ini dia, aneh bukan? Untuk urusan yang satu ini, saya sudah tanya-tanya kesana kemari. Tapi hasilnya nihil. Semoga aja nanti bisa dapet. Kalo teman-teman ada informasi tentang hal yang satu ini, tolong kontak ane di mail box ya.

2, Kacamata terapi. Nah, ini karena alasan sakit minus atau plus, makanya mereka cari alternatif untuk memakai kacamata bolong-bolong. Dengan harapan, kacamata itu bisa dipake nanti dan dhiharapkan untuk mengyembuhkan penyakit mata yang mereka derita. Ah, saya sudah coba memakainya, tapi kalo difoto, hasilny aneh deh. Cocok bagi ekstrimis yang membutuhkan kesembuhan penyakit mata,

3. Ini adalah titipan yang palong saya suka. Salah astu rekan kerja pengen film indonesia yang jadul macam Saur Sepuh, Brama Kumbara, Tutur Tinular, dan semuau filem Rhoma Irama. Beberapa kali saya mampir di mall besar surabaya, hasilnya pun nihil. Filem macam yang saya sebut diatas adlah filem jaman rhoma irama masih sangat energik, masa di mana Bang Rhoma masih cocok disandingkan sama Ida Iasya…heuheuheu…. Tapi sekarang keberadaan filem tersebut hampir-hampir langka. Saya pun kehabisan akal dimana mencari DVD filem-filem jadul macam begitu.

Nah, harapan saya adalah simple : semoga saja apa yang sudah dipesankan dan jika sudah terwujud, tolong dibayar yaa..hahahahaha…

Selamat menikmati hari

20130401-063712.jpg


Perlengkapan Sudah Siap…


Cuti kedua ini sudah saya siapkan segalanya untuk kerja lagi di bumi Papua Nan Indah. Ah kawan, sangat rindu rasanya dengan kampung halaman. Tapi apa mau dikata, rejeki memang mengharuskan saya kembali ke tanah papua lagi. Paling tidak 3 tahun saya butuhkan untuk mengumpulkan modal (jujur nih yeee) dan menyiapkan segalanya ketika nanti balik ke tanah jawa.

Apa saja persiapan tempur untuk kerja dan mengisi waktu luang nanti? Pertama-tama adalah gadget kawan. Sudah saya singgung sebelumnya bahwa saya butuh gadget yang mumpuni. Bukan hanya sekedar mumpuni tapi mampu membantu melaksanakan semua kegiatan baik itu hiburan, social networking, hingga jepret karya alam papua yang indah tak karuan itu. Maka saya memutuskan untuk ambil apple.

Setelah itu, saya lengkapi pula itu gadget dengan alat pendukung yakni keyboard bluetooth. Salah satu hal yang membuat saya takjub adalah konektifitas Iphone dengan keyboard bluetooth lain yang aduhai. Si gadget ini bisa diubah langsung menjadi layar mini dan membantu urusan blogging lively. Saya senang sekali dengan hal tersebut. Sampai-sampai saya hanya bisa “mengelus” dada kalo seandainya blog ini tidak sampai up to date…heuheuheu

Namun ada sesuatu yang lebih utama ketimbang kesiapan infrastruktur itu sendiri. Hal itu tak lain adalah niat saya untuk terus mengupdate informasi ke blog. Ini adalah urusan “jeroan” alias daleman saya sendiri. Inilah niat kawan, dan urusan niat kalo sudah bulat apapun bisa dipatahkan. Halang rintang dan segala tetek bengek kemalasan untuk update informasi bak kapas yang lunglai ditiup oleh hembusan nafas niat.

Inilah yang kudu di-charge ulang. Perkara niat ini merefleksikan keadaan batin saya sendiri. Apakah saya termasuk tipe yang “hangat-hangat tahi ayam” dalam menulis blog, atau memang infrastruktur ini pada akhirnya bisa di maksimalkan untuk mendukung proses blogging saya yang sudah berjalan hampir dua tahun. So, kita lihat saja nanti, apakah tambah rame postingannya atau ndak. Hehehehehe….

Keyboard, Phone, dan Kick Stand are ready, Do you ready also my soul? Get Prepare for the next Level…!!!

20130401-062230.jpg


Berkunjung Ke Rumah Yang Menemukan Dompet Saya


Syukurlah hari ini saya masih bisa berjalan untuk mengurus sisa surat-surat yang masih hilang. Orang tua saya memberikan alaman si penemu. Dan saya menyempatkan diri berkunjung kesana.

Ternyata daerah dimana dia tinggal tidak begitu asing bagi saya. Daerah itu sudah sering kali saya lewati dan bahkan beberapa kali sempat berdiam beberapa saat untuk silaturahmi ke rumah temannya orang tua.

Sisa surat yang diberikan pun hampir lengkap. TInggal surat tilang sim C sa


Dikit tapi Dalem Keep Goin’


Tatkala masih nanganin konter beberapa bulan yang lalu, saya mendapatkan seseorang yang ahli dibidangnya. Nama Arifin. Awalnya dia datang ke Surabaya sebagai kuli batu. Di tengah-tengah waktu senggang, cak ripin-begitu ia disebut-senang denganotak-atik barang-barang elektronik. Profesi sebagai kuli batu sesekali ia sambi dengan service radio, televisi, walkman, dan tape. Lambat laun, ia terasa familiar dengan elektronika dan pada saat booming hape, ia membaca pasar lalu sesegera mungkin beralih profesi sebagai tukang service hape.

Banyak hal yang saya dapatkan dari dia. Misalnya tentang keahlian. Posisi keahlian untuk sebuah profesi mutlak dibutuhkan. Jika mau buka servisan hape ya kudu mahir nyervice hape. Sekedar tahu tidak bisa ditolelir karena keahlian teknis menjadi dasar utama dalam menjalani usaha macam ini. Kalo hanya sekedar tahu, pun juga masih memaksa untuk bermain di area selular, sejak dini dia menganjurkan untuk membuka kedai pulsa saja.

Terkesan mendeskriditkan orang yach? Atau kayak membatasi kemampuan orang lain? Bukan, bukan itu maksudnya. Jika ingin meluangkan waktu sejenak pun tak cukup. Butuh ghiroh dan semangat tinggi buat nyingkat keahlian service hape dari beberapa bulan menjadi satu bulan saja. Butuh waktu ekstra untuk menyerap ilmu-ilmu tukang oprek hape yang sudah 3-5 tahunan melanglang buana. Anda harus terampil menganalisa penyakit yang sedang diderita hape, membaca jalur, memprediksi ada tidaknya komponen yang rusak, membuka hape, menyolder komponen, mencetak IC, dan mensoftwarenya kembali. Menyingkat waktu itu pun masih harus diterapkan di lapangan, apalagi kalo bukan praktek menyervice hape orang. Jika kondisi ini langsung ditangkap oleh pemilik modal dan mengacuhkan aspek keahlian, maka siap-siaplah tersungkur dan sibuk melempar kerjaan ke orang lain.

Sudah berulang kali saya terjerembab ke dunia makelar dan anehnya baru setelah membuka konter itu diri saya menyadari benar-benar tentang pentingnya keahlian. Jika memang niat dengan usaha, maka pengusaha itu kudunya gak jauh-jauh amat dari bidang usaha yang ditekuninya. Kuat modal saja belum cukup, dan memang tidak akan pernah cukup jika tak didukung dengan kemampuan dalam bidang usaha yang sedang ditanganinya. So, sedikit/sekelumit apapun keahlian, bila ditekuni secara profesional maka ia akan menjadi profesor di bidang tertentu. Sangat ahli di satu bidang lebih baik ketikmbang sekedar tahu pada banyak hal. Rupanya basic ini belum saya sadari sepenuhnya dan butuh waktu lama untuk mengerti dan nggeh tentang pentingnya keahlian.

To be specific! Simple but deep! Itulah yang diinginkan dalam bidang usaha. Untuk itu, membaca diri dengan kemungkinan-kemungkinan pasar serta mengambil celah untuk masuk pada satu specific market menjadi hal yang signifikan.

Spesifik dan terarah menjadikan tujuan apapun yang pengen dicapai menjadi mudah. Setidaknya ada peta yang mengarahkan ke sana. Layaknya kompas yang menjadi penunjuk arah kemana diri masing-masing manusia akan berlabuh. Tujuan yang gambyar dan tidak jelas, besar kemungkinan membawa kepada ketidakjelasan. Mirip dengan orang yang berkendara, dengan tujuan yang jelas, maka pengendara akan berusaha menempuh jalan sependek-pendeknya, secepat-cepatnya, dan tiba dengan selamat-lamatnya.

Selanjutnya adalah menikmati jalan menuju tujuan itu dengan enjoy dan rileks. Enjoy bukan berarti tidak bekerja. Struktur bahasa kita memang sering mengidentikkan keenakan dengan kemalasan. Kita terbiasa terpesona dengan keberhasilan manusia sekaligus melupakan bagaimana orang itu bisa sampai kesana. Saya pun juga demikian, kadang hanya memandang satu spot kenikmatan namun juga lupa bagaimana sebenarnya posisi nikmat yang dirasakan orang itu juga membutuhkan jalan berliku untuk sampai kesana.

Biarkan saja mengalir. Mengalir apa adanya. Sesekali menyediakan waktu khusus untuk memerika kompas tujuan kita masing-masing. Menganalisanya dengan jujur, lalu menyesuaikannya dengan tindakan-tindakan harian; apakah sudah cocok dengan tujuan yang sedang ingin dicapai. Dan di tengah-tengah itu, masih akan tersimpan rahasia untuk Dia hadir. Rahasia yang mengungkapkan bahwa kita memang tak ada apa-apanya jika tidak bergabung dengan kekuatan sesungguhnya. Disanalah kemungkinan-kemungkinan Tuhan akan hadir, lalu menyapa, dan kita pun tersungkur dipelukan-Nya.


Seakan saya tidak punya presiden Keep Goin’


Kayaknya postingan ini akan berakhir dengan kalimat kasar. Aku mengetik dengan gemuruh didada yang membara. Membatin tanpa henti dengan situasi kawan saya di tempat yang mencekam. Sambil sesekali berbuat semampunya untuk melakukan perubahan. Inilah dimana “limit” benar-benar menghadang, dan kemampuan untuk melakukan segalanya “kandas” di tengah mustahilnya hukum sebab akibat. Dibalik semak-semak keputusasaan, aku terseok-seok merintih sambil mendekam dalam-dalam kalimat yang akan kuungkapkan. Kawan, aku ingin berkata: “Seakan saya tidak memiliki presiden.”

Al-right, hanya itu saja yang ingin kuucapkan kepadamu kali ini. Itulah kondisi buruk yang sama-sama kita hadapi. Tentu Anda paham apa yang terjadi sekarang. Isu-isu kondisi ketidakpastian saudara-saudara sebangsa, balutan citra media yang mempesona, pengalihan isu massa, pemfokusan pada hal-hal yang melalaikan kita tentang kondisi di luar sana yang butuh penanganan cepat, dan terakhir ini kita disuguhi ritual pernikahan anak raja dengan putri menterinya.

Seakan saya tidak punya presiden

Aku merindukan sosok Soekarno
Pun juga Panglima Soedirman yang bersahaja
Aku rindu engkau Supriyadi
Aku menangis agar Diponegoro dibangkitkan
Aku tersungkur agar Gus Dur kembali datang

Bangga kepadamu wahai Cak No pedagang bakso keliling
Keringat yang keluar di dahi Mak Rah penyapu jalanan
Edi si penyemir sepatu di Bungurasih
Kerabat sebangsa di Timur yang sangat teracuhkan
Engkaulah Presiden itu, bukan yang lain
Ia bersemayam di dadamu…

Kawanku, inilah ketidakpastian dan itulah yang terjadi. Biarkan ia terjadi karena memang harus terjadi. Aku pun tak acuh dengan kondisi ini. “I DON’T CARE” ku sematkan di tangan. Tapi kaki harus melangkah. Kepala terdangak ke depan, menatap hari esok yang cerah. Sambil hati tersimpan erat, bergumam mengikuti getaran alam.


Rintihan Keep Goin’


Kawan saya yang bekerja di Papua akhirnya mengirimkan kembali tulisannya untuk di posting di blog ini. Tulisan kedua mengisahkan perjumpaannya dengan gadis kecil di hutan belantara. Tentu yang paling menarik adalah “rasa” sebangsa dan ketidakmampuan untuk berbuat lebih pada mereka. Tulisan ini sungguh menggelitik kita dan mengujinya sampai dimana engkau mencintai bangsa bernama “Indonesia”.

RINTIHAN DISUDUT BELANTARA

Gadis cilik itu berwajah lugu.
Senyum manis terpulas bak kuncup bunga seroja.
Bening tatapannya sejernih mata air diatambua.
Jujur gerak tubuhnya seirama riak angin disudut belantara.
Namun lelehan ingus diujung bibir kering hendak sampaikan makna.
Kental keringat mengalir diwajah seakan rintihan jiwa.
Saudaraku, pintanya tak berlebih, asanya sederhana.
Dia ingin seperti aku dan engkau.
Buminya kita perkosa, hendakkah nasibnya teraniyaya?
Gadis cilik itu berdiri diam terpaku.

Kutulis puisi ini untuk gadis kecil yang memandangku dan Mr. Danniel Gowen suatu senja dikawulawaga Papua dari luar mobil kami bulan Juli yang lalu. Tatap matanya yang bening dan penuh kepolosan mampu membuat kami berdua meneteskan air mata. Aku mungkin hanya pemuda cengeng dari negeri antah barantah, namun Danny adalah seorang letnan aktif di kepolisian Amhest County dan merupakan salah satu polisi terbaik negara bagian Virginia Amerika serikat, belum lagi diapun tergabung dalam tim SWAT, SRT, K9 dan seabrek prestasi membanggakan lainnya.

Kami tidaklah tersentuh atas nama kebangsaan, kebanggaan pribadi apalagi hegemoni materialisme. Satu-satunya hal yang menyobek keangkuhan saat itu adalah rasa kemanusiaan. Betapa tidak, saat anak-anak usia sebayanya dibanyak tempat sedang berjalan-jalan dimall, asyik bercengkrama dengan komunitasnya lewat media social atau aktif menatap masa depan dibangku fullday school, Gadis ini berjalan dengan kwalitas pakaian dibawah standard terendah orang miskin dijawa, aku tidak sedang bercerita tentang tambalan disana sini kawan, aku berbicara tentang pakaian yang seakan baru diangkat dari bak sampah setelah tertimbun disana selama seminggu. Apa kau fikir aku sedang mempropaganda? Percayalah wahai saudara-saudaraku sesama manusia, aku berkata sesungguhnya dan apa adanya.

Langkahnya pelan dan lunglai, dari kejahuan diamatinya mobil Toyota land cruiser 4500cc turbo yang kami naiki, aku tidak menganggap dia benar-benar tertarik pada hal ihwal otomotif atau kemewahan semacam itu, karena langkah dan pandang matanya terhenti disamping jendela kiri depan atau lebih tepatnya disamping tempat dudukku. Dipandanginya kami seakan tanpa berkedip, tanpa dia pedulikan ingus mengalir dari hidungnya hingga keatas bibir, ak menerima itu kawan karena senyum wajahnya demikian wajar dan polos, sumpah kalaulah ada kontras warna didunia yang amat mencolok tentu antara baju dan bening matanya. Dia tersenyum manis sekali dan seakan ingin berkata, alangkah hebatnya apabila aku bisa terlahir sebagai orang jawa. Tapi sekali lagi itu hanyalah mungkin, terlalu banyak makna tersirat dibalik tatap mata dan senyum itu.
Suasana senja nan temaram menjadikan segalanya kian mengharukan bagi kami, lantas tiba-tiba Danny berkata memecah kesunyian, “do you think that girl talks in bahasa Indonesia?”, “yes sir I think so” agak gamang dan ragu aku menjawabnya”,”so how does she learn it? I mean she doesn’t go to school right? Cause I think people here live in the jungle”, wah banyak Tanya juga orang ini fikirku, tapi tetap juga kujawab pertanyaan itu “well I think her parent could speak bahasa Indonesia, probably just for basic vocabularies but yes she learns it in the jungle”. Kami kembali terdiam dan bermain dengan sanubari dan angan masing-masing sambil beradu pandang mata gadis cilik itu. Selang beberapa saat kembali Danny bertanya “if you have a chance to get better opportunity what will you do?” dengan seketika tanpa berfikir panjang kujawab pertanyaan itu “I’ll do my best to provide better life for my people.” Aku lantas segera berpamitan ke Denny dan turun dari mobil mewah disudut belantara itu, lantas segera kusapa gadis kecilku, “adik apa kabar?” senyumnya melebar dan memamerkan deretan gigi yang bersih kemerahan karena terbiasa mengunyah buah pinang, “baik kakak” jawabnya singkat namun cukup membuatku lega karena dia memang bisa berbahasa Indonesia. Keharuanku terlalu dalam untuk terus berkata kata, aku akhirnya memungkasi “kakak mau kekamar dulu ya adik” dia kembali menjawab pendek ” iya kakak”. Aku bergegas berjalan kearah barak dengan berusaha keras menyembunyikan air mataku diikuti pandang mata dan senyum gadis cilik putri papua tersebut.