Tulisan Nyampah! Bag 3


Atau mungkin tulisan ini dirasa sampah? Hahaha…

I would say : Probably..And I don’t care. But I just let you know that I care one thing ; I care about my blog and I’m try’n to provide a good stuff.

Nyampah bagi saya adalah biasa saja. Apalagi nyampah dalam hal tulisan. Banyak sekali tulisan saya yang dirasa kurang efektif dalam penyampaian. Bermakna ganda. Terlalu bertele-tele. Tapi ndak papa. Saya memahaminya sebagai sebuah proses penulisan.

Intinya cuman satu : Kalo ane berhenti menulis, itu berarti sudah melewatkan satu kali praktek menuju target penulisan yang mengalir dan enak dibaca. Kalo ane berhenti, itu berarti sama dengan tidak komitmen terhadap blog ini. Titik!

Tulisan yang enak dibaca itu butuh latihan. Butuh untuk mengalir lewat tuts-tuts keyboard agar tak mandek dan tersendat. Ia butuh diasah setiap hari. Semakin hari semakin tajam. Semakin hari semakin pandai memenggal mana-mana yang kudu ditulis, dan mana-mana bagian yang dirancang untuk mengejutkan pembaca.

It’s all about practice…

Saya ndak tahu berapa kali pak Dahlan Iskan itu latihan hingga tulisannya sekarang enak dibaca dan perlu (Mirip iklah tempo ya…heuheuheu)

Saya juga ndak tahu gimana Emha Ainun Najib itu dapat menuliskan ide-ide spiritual yang cerdas dan sering mencenangkan urat otak kita lewat tulisan-tulisannya yang bermutu.

Itu semuanya hanya perkara “seberapa” banyak kita latihan mengungkapkan sesuatu melalui tulisan.

Awalnya akan buruk dan sulit. Dan memang begitulah adanya. Segala sesuatu akan sulit di awal.

Atau mungkin begini ; awalnya nyampah, tapi satu waktu sampah itu bisa didaur ulang!


Masih Tentang Nyampah! Bag 2


Mungkin maksutnya adalah mirip dengan prinsip falsafah jawa yang berbunyi : “Ngunu yo ngunu, neng ojo ngunu” (Begitu ya begitu, tapi gak segitunya kaleee…)

Masih berkaitan dengan tulisan Nyampah. Yang diharapkan adalah sebuah tulisan/web kreatif agar “iklan” masuk tersebulung sehingga dirasa “wajar” bagi pembacanya.

Ternyata kewajaran juga berlaku dalam dunia virtual. Hmmm..Sebuah hukum yang memang berlaku umum. Terlalu gila juga ndak enak dipandang. Terlalu mencolok juga gimana gitu rasanya. Ya wajar-wajar sajalah!

Tentu hal ini menimbulkan pertanyaan : “Apa parameternya sesuatu itu dikatakan wajar? Kudu gimana sih kewajaran itu di buat di dunia maya?”

Kewajaran di dunia maya itu saya ibaratkan seperti membuat acara tv yang menyediakan “sarana” bagi penonton (giving value), semakin menarik acara yang ente buat, semakin banyak orang yang lihat, tanpa sadar mereka menikmatinya, dan tanpa sadar mereka akhirnya berani untuk mati-matian mbelain acara ente itu.

Kejelian macam begitulah yang dilhat oleh entreprenuer teknologi macam Mark Zuckenberg (Pendiri Facebook), Jack Dorsey (Pendiri Twitter), Andrew Darwis (Pendiri Kaskus), dan sederet orang-orang kreatif lainnya untuk membangun web yang diminati banyak orang. Lama-kelamaan, mereka yang hidup dalam komunitas web itu jadi terjerumus aka “nagih” ama produk yang udah dicobain.

So, intinya adalah memberi nilai. Menyediakan sarana yang dibutuhkan oleh banyak orang.

Lalu pertanyaannya? Adakah sarana lain yang bisa dipersembahkan untuk mereka komunitas virtual?

Jawabannya : Masih dan akan terus berkembang, tinggal kita-kita aja yang jeli untuk melirik mana-mana yang bisa dijadikan “alat” guna memproduksi acara tv yang bermutu.

Just keep your google handy!!


Tulisan Nyampah! Dihargai Sahaja


Sampah bagaimanapun bentuknya masih menyimpan manfaat. Sebenarnya demikianlah tataran aturan universal diciptakan, bahwa segala sesuatu memiliki tujuan dan manfaat.

Termasuk tulisan sampah. Tulisan kategori ini bisa dikategorikan sebagai tulisan yang isinya hanya promosi saja. Dikit-dikit promosi, dikit-dikit iklan, semuanya kok menjurus pada “anjuran” untuk membeli sesuatu.

Tulisan sampah sendiri memiliki manfaat. Walaupun saya belum tahu apa manfaatnya (Mungkin dari Anda ada yang tahu?) tapi sejatinya dalam diri saya meraasa yakin bahwa tulisan sampahpun tetep ada sesuatu yang berguna di baliknya.

Logikanya sederhana saja : ‘Lha wong orang promosi lho, apa salahnya.” Kita pun yang sedang memburu kerja perlu juga promosi lho untuk bisa dikenal dan layak diperhatikan meskipun hal itu hanya berupa rangkungan currivulum vitae.

Semua orang butuh promosi. Adanya mekanisme jual-beli, tukar-tambah, in-dan out juga tak lepas dari promosi. So, kenapa tidak?

Ya kalo emang keterlaluan sih, masukin aja ke box spam, atau emang unfollow aja kalo emang dirasa hanya ngerecokin TL.

We basically just a product of Social Media. Diakui atau tidak, ya kita ini produknya dari twitter, fb, google, atau sejenis website besar lainnya. Karena dengan adanya kita, mereka perusahaan besar itu bisa dapat uang. Dari iklan yang masuk, dan dari potensi “market” yang tercipta di dalamnya.

So, why kita kok terlalu anti sama iklan?


Celupin modem ke dalam gelas…


Akhirnya balik lagi pake modem buat browsing2 di kamar. Maklum, sinyal hape di mil 66 emang super lemot.

Lalu ane coba browsing gimana cara nguatin sinyal. Akhirnya dapet, salah satu caranya adalah dengan naruh tuh modem di dalam gelas.

Hasilnya emang terbukti. Sinyal lebih baik dari sebelumnya.

Silahkan mencoba bagi Anda fakir sinyal!!! Heuheuheu

20130701-051305 AM.jpg


20 rebu sebulan nelpon 24 jam


Awalnya hape lokal (biasa disebut hape China-sorry, ane buka rasis, tapi begitulah orang bilang) yang mengeluarkan dual sim. Lalu Nokia agak telat merespon…kedudukan Nokia pun sempat dibikin kalang kabut oleh penetrasi hape ini.

Sekarang Nokia sudah ada yang dual sim. Kue pasar untuk pecinta kartu sim ini pun kembali diperebutkan oleh nokia.

Stop, ane lagi gak pengen bahas gadget. Takut nanti ikut-ikutan ngiler lihat hape Nokia dual sim yang imut2 itu. Heuheuheu…

Ane mau komentari tentang maraknya orang yang punya dua kartu sim. Ane pernah ditanya sama bule : “kenapa sih orang Indonesia banyakan yang punya kartu lebih dari satu, di Amrik sana, hanya induk semang dan penjual narkoba yang punya dua kartu”.

Saya jawab aja gini : “mereka itu mau bikin gantungan kunci, mereka itu kolektor.”

Perkara kartu sim yg banyak ini terjadi karena setiap provider lagi Jor-joran promosi buat nelpon dan sms murah. Tak jarang juga disertai promo2 yang aduhai. Masih ingat kala ada promosi sms hanya Rp 0,0000000000001,-? Ya mirip macam begitulah…kondisi ini memancing mereka untuk gonta-ganti kartu.

Pancingan konsumerisme ini juga mempengaruhi ane…ternyata, di Timika, ada kartu yang ditujukan untuk komunitas. Hanya 20 rebu/bulan ente bisa ngobrol ke nomer yang udah didaftarin. Bagi ane, itu adalah HOT bin TOP MARKOTOP.

Jadilah nafsu birahi ane konak pengen juga beli kartu perdana itu sebanyak-banyaknya. Empat biji kalo bisa. Dan kesempatan ini hanya sampek September. Itu artinya, selepas bulan kesembilan, kartu itu sudah gak ada lagi.

Beginilah promosi dibarengi kebutuhan akan harga yg murah akhirnya menggerakkan birahi buat belanja.

Ane tahu info itu dari orang2 yang sudah pake kartu tersebut. Mereka bilang : “ya tinggal kuat-kuatan baterei aja sekarang, lha wong kita ngobrol 24 jam sampek tidur pun hape tetep on buat nelpon.”

Itulah mengapa akhir-akhir ini orang pada pake headset semua. Lha wong ternyata dia sedang on telepon aama orang lain dengan hanya 20 rebu perbulan nonstop.

Semoga aja dokter THT gak kebanjiran order habis ini. Ane takut orang2 terserang virus kopok.


Karena ane gak bisa lepas dari coretan


Saya gak bisa lepas dari dunia tulis menulis. Entah dimanapun, saya usahakan untuk berceloteh tentang apapun. Juga tulisan kali ini, di tepi gunung grassberg, saya ndak bisa menahan diri untuk ngomel di blog. Heuheuheu…

Awalnya saya kok pengen nulis yang panjang-panjang. Kalo bisa karakternya itu nyampek minimal 2000 kata. Hahahaha….

Itu biasa ane lakukan…terutama saat ada proyek baru buat nulis blog pelatihan anjing. Saya menarget untuk ane pribadi sekali postingan di blog yg satunya minimal 2000 kata. So far, I’m trying to…

Ketika blog Walking juga, saya ada inspirasi tatkala salah satu blog terbilang sangat pendek tulisannya. Postingan-postingan disitu singkat dan padat. Enak dibaca, informatif dan mengena buat masyarakat kita yang agak gak doyan sama tulisan panjang2.

So, why not? Mengapa tidak copy saja metode itu? Syukur2 buat ngisi waktu san berbagi cerita di tengah gunung emas yang sekarang sedang ane duduki ini.

Jadi…buat blog ini, ane hanya update apapun di waktu longgar. Ada 15 menit free, ya langsung tulis. Tinggal buka wordpress client di hape, jadi deh.

Blog ini ane khususkan untuk gaya konversasionalis. Gaya apaan tuh? Gaya bercinta yg baru? Bukan kawan, itu adalah gaya bicara apa adanya lewat tulisan. Cirinya adalah tulisan pendek, mengalir, dan seperti sedan berbincang dengan orang lain.

Apalagi maraknya media sosial –twitter terutama– membuat banyak orang jadi ikutan berbincang disitu. Lalu muncullah gaya penulisan macam begini.

Ane memang belum menguasai benar gaya macam satu ini. Tapi ane belajar. Dan gaya tulisan konversasionalis ini makin didukung dengan penulisan ane yang hanya pake keyboard hape.

Nulis pake keyboard hape emang menyedihkan. Apalagi buat tulisan yang panjang-panjang. Ah sudahlah, ane akali aja pake gaya diatas supaya lebih mudah nulisnya. (Beneran kawan, nulis pake hape emang menyiksa).

So, terus tulis aja apa yang ada dalam pikiran kamu. Apapun. Ungkapkan aja apa adanya. Jangan hiraukan kritikan. Yang penting tulis saja. Lambat laun, mirip dengan kata orang bijak dulu : ala bisa karena biasa, lambat tapi pasti, tulisan Anda akan ngalir begitu saja.


Fokus dulu pada manfaat, setelah itu terserah Anda


Kata itu saya sarikan dari acara blog Walking yang sering ane adakan sehari-hari. Kegiatan ini hanya mengisi waktu kosong, dan merupakan kegiatan tambahan setelah bosen buka fb dan twitter.

Tepatnya “giving a Value” itu saya temukan dari blog milik Steve pavlina. Bahasan tulisan yang disampaikannya waktu itu tentang “passive income”.

Intinya gini : sebelum mikirin gimana bisa ngasilin uang, pikirkan dahulu tentang apa yang mau ente kasih ke orang lain dan berguna bagi mereka. Baru setelah itu mikirin gimana dapet duit.

Yup, memberi manfaat bagi orang lain itu adalah rumus tok cer untuk terus dapat sesuatu untuk survival. Hukum universalnya : memberi itu selalu baik…bagaimanapun bentuknya Ia selalu baik…titik.

Apa yang bisa diberikan? Memberi itu bisa dilakukan di semua level. Dari kelas minor sampek major, dari tataran sudra hingga pandita, atau dari orang paling gak punya hingga yang paling kaya sekalipun. Anda bisa memberikan uang pada orang lain yang membutuhkan, memberi perhatian pada orang lain, memberi kesempatan atas gagalnya sesuatu, dan jika diperhatikan, memberi nilai bukanlah perkara materi. Ia menyentuh apapun dari level terendah hingga tertinggi.

Bagi blogger, memberi informasi adalah hal yang biasa dilakukan. Entah apa niatnya, memberi informasi selalu mendatangkan manfaat. Paling tidak Anda akan mendapatkan reply alias balasan komentar dari apa yang sudah Anda berikan.

Nah, ada komentar atas tulisan ini? Heuheuheu…semoga saja bermanfaat.